Rabu, 29 Maret 2017

Natal Putih

(Oleh Effi S Hidayat)

Tak satupun pria yang berhasil menggeser kedudukan Ayah di hati Ananta. Begitu pun, saat duka itu datang.  


Sepanjang jalan pertokoan tampak meriah didominasi warna merah dan hijau. Lagu-lagu Natal pun berlomba diperdengarkan. Suasana Natal memang sudah terasa di mana-mana. Kedamaian seolah menjadi milik semua orang. Namun tidak demikian yang dirasakan oleh Ananta.


Ananta tidak pernah habis pikir jika mendengarkan keluhan Santi, Tika, atau Anna. Mereka begitu membenci lelaki yang selama ini mereka panggil Ayah. "Sungguh aku membencinya! Lelaki itu telah menelantarkan ibuku sekian lama. Aku tidak pernah melihat wajahnya karena dia sudah lari dengan perempuan lain ketika aku berusia tiga tahun," keluh Tika.

"Ayahku bukan pria yang bertanggung jawab. Dia pemabuk, penjudi, dan sering memukul ibuku, serta kami anak-anaknya," tutur Anna dengan kegeraman yang tak disembunyikan. Begitu juga Santi, kerapkali dia mengeluh tentang ayahnya, "Terus terang aku iri padamu, Nanta. Kamu beruntung memiliki seorang ayah yang sangat baik...."

Ya, Ananta memang sangat bangga pada ayahnya. Dan, semua teman-temannya tahu akan hal itu. Aku memang patut bersyukur, begitu kata hati Ananta setiapkali mendengarkan keluhan teman-temannya tentang ayah mereka.Padahal, terus terang saja, ayahnya bukan pria hebat seperti ayah Santi.

Ayah bukan keturunan ningrat  yang kaya raya dan selalu berpakaian perlente. Malah Ayah sangat sederhana. Dia tidak pernah cerewet dalam hal berpakaian maupun makanan. Tetapi, Ayah adalah seorang pekerja keras yang sangat rajin. Dan, Ananta kagum dengan keterampilan Ayah.

Sejak kecil, jika dia membutuhkan sesuatu, dia akan lari kepada Ayah. Ayah bisa membuatkannya pedang-pedangan dan kuda tunggang dari kayu. Ayah juga yang membuatkannya rak buku yang kokoh di kamarnya untuk menampung semua koleksi buku-- benda yang paling berharga alias 'harta' kekayaannya.

Pokoknya, semua pekerjaan tukang mulai dari masalah ledeng, listrik, bahkan sampai pembuatan rumah yang mereka tempati sekeluarga adalah hasil karya Ayah. Ya, Ananta amat mengagumi Ayah. Walau tidak menyandang gelar insinyur, tetapi Ayah punya bakat terpendam yang menakjubkan, begitu puji Ananta selalu.

Namun, tak dapat dipungkiri, pada suatu masa, Ananta juga pernah 'membenci' Ayah. Mungkin karena Ayah sangat disiplin sehingga ia agak keras mendidik anaknya, walau ia hanya memiliki seorang puteri semata wayang seperti Ananta.

Ananta merasa tidak pernah dimanjakan seperti Marina yang selalu disebut-sebut ayahnya 'Si biran tunggal buah hati Papa'. Ah, Ayah tak pernah memerlakukannya seistimewa itu. Bahkan, Ananta masih ingat ketika dia kecil dulu, kalau ia nakal, Ayah tak segan-segan menghukumnya.

Ayah juga yang mati-matian mengajarnya matematika  ketika ia pernah ketinggalan pelajaran di kelas lima SD. Setiap malam, Ayah memberinya pe-er, sehingga hampir setiap malam pula, rasanya perut Ananta menjadi mulas. Tetapi toh, berkat didikan Ayah, Ananta tak pernah tinggal kelas. Bahkan, menurut ibunya, Ananta pula yang menuruni bakat Ayah dalam mengarang.

Mulanya memang menggelikan. Pada suatu hari, Ananta kecil menemukan sepucuk surat cinta yang ditulis Ayah kepada ibunya. Surat itu begitu manis dan menyentuh perasaan, sehingga Ananta pun mulai mencoba-coba menulis surat dan rajin bersahabat pena.

Ayah memang memiliki bakat-bakat yang sangat mengagumkan. Selain jago mengarang dan melukis, dia juga seorang pemain musik-- tepatnya gitaris, dan pemain basket yang andal. "Mungkin itu sebabnya Ayah dahulu begitu dipuja banyak gadis," canda Ibu dengan mata berbinar.

Ah, Ananta selalu senang mendengarkan kisah cinta Ayah dan Ibu. Walaupun telah berulangkali cerita itu didengarnya, tetapi ia tidak pernah bosan. "Ibumu adalah cinta terakhir Ayah," begitu kata Ayah sembari menyunggingkan senyum memikat.

Dan, hati Ananta akan berdebar-debar sendiri membayangkan bagaimana gigihnya Ayah menunggui Ibu pulang dari kursus busana, jauuuh... di ujung gang rumah Bude Sari. Saat itu, Ibu tinggal di rumah Bude.  Ayah kerap berpapasan dengan gadis berambut panjang yang setiap sore mengayuh sepeda itu, melintas di depan rumah.

Aduh, romantis sekali kisah cinta Ayah dan Ibu. "Ayah adalah cinta pertama Ibu," tutur Ibu senantiasa dengan mata penuh cinta. Hmm, cinta pertama yang bersatu padu dengan cinta terakhir adalah dongeng cinta yang tak akan pernah dilupakan Ananta dalam meniti hari-hari selanjutnya.

Ayah adalah sosok pria yang sangat mengagumi perempuan. Lukisan-lukisan yang selama ini dihasilkannya, semua menggambarkan perempuan. Mereka cantik berkain kebaya, hingga...telanjang. "Memang tak selalu sosok ibumu yang menjadi sumber inspirasi, tetapi Ibu tidak pernah cemburu. Itulah yang membuat Ayah begitu mencintai Ibu. Dia perempuan yang sangat sabar dan penuh pengertian terhadap suaminya," komentar kagum Ayah tentang ibunya.

Ayah mengajarkan Ananta untuk menjadi perempuan yang mandiri. Perempuan yang tidak selalu bergantung kepada orang lain, walaupun terhadap suaminya sendiri. Dan hal itu memang sangat memengaruhi Ananta dalam bergaul. Sebagai anak perempuan, pertumbuhannya cenderung tomboi.

"Nanta sama perkasanya,'kan dengan laki-laki?" dia kerap bertanya kepada Ayah, yang hanya disambut senyum samar. Sedari kecil, teman-teman baiknya kebanyakan lelaki. "Asyik bergaul dengan mereka. Tidak pernah cerewet dan ngerumpi," begitu alasan Ananta yang sampai SMA hanya memiliki dua koleksi rok, itu pun ...seragam sekolahnya!

Dan, sikap itu terus terbawa sampai dia kuliah. Ananta paling gemas melihat Lita, temannya, yang selalu merengek-rengek manja, walaupun itu kepada kekasihnya sendiri. "Buku-buku saja minta dibawakan, ke luar dari mobil, harus dibukakan pintu," sungut Ananta, tak habis pikir.

Ya, walaupun Ananta anak tunggal, dia tak pernah bermanja-manja seperti itu. Ananta selalu berusaha melakukan segalanya sendiri. Toh, ia berhasil menjadi gadis yang mandiri. Sebagai wartawan kesehatan sebuah majalah perempuan, ia begitu gigih mengejar berita. Sampai hari ini, ketika ia melihat diagnosis dokter dari hasil pemeriksaan USG ayahnya.

Hepatoma Multi Nodulus, Ananta mengeja satu per satu huruf-huruf di depan matanya dengan hati teriris. Tentu saja dia tahu pasti penyakit itu. Ayah mengidap kanker hati! Selama ini, sedikit sekali orang yang dapat lolos dari cengkraman hepatoma.

Oh, Tuhan, mengapa Ayah? Mengapa cobaan ini harus menimpa ayahku? Ayah yang baik dan penuh cinta? Berhari-hari Ananta tidak bisa tidur memikirkan kondisi ayahnya yang kelihatannya memang semakin menurun. Tiba-tiba saja, Ananta merasa, dia membutuhkan seseorang untuk dapat diajak berbagi !

                                                          *** 

Malam itu, tangis Ananta pecah tak tertahankan lagi. Hasil konsultasinya dengan dokter Mono menghancurkan harapannya. Dengan sangat rinci dokter spesialis hati terkenal itu, menjelaskan segala kemungkinan yang harus dihadapi Ananta dan keluarganya.

"Lebih baik Ayah beristirahat di rumah. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain memertahankan kondisinya, dan berdoalah kepada Tuhan...," katanya tanpa perlu lagi menganjurkan Ayah diopname di rumah sakit.

Ah, separah itukah? Ayah telah mengidap kanker hati stadium lanjur. Dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan kondisinya seperti sediakala? Dengan berlinang airmata, Ananta bertanya kepada Banu, yang sejak tadi hanya terdiam memandangnya."Banu, mana yang kamu pilih? Mengetahui orang yang kita cintai akan pergi, ataukah lebih baik tidak mengetahuinya sama sekali?"  

Hening sesaat. Kemudian pria yang selama ini begitu baik kepadanya itu memberikan jawaban," Hidup itu memang suatu pilihan, Nanta. Suka maupun tidak suka, kita harus memilih. Seperti keadaan yang harus kita hadapi sekarang. Aku pikir, ya, aku pikir kehendak-Nya kali ini adalah yang terbaik...," Banu menghela napas panjang, menatap Ananta dalam-dalam.

"Mungkin, akan lebih baik kita mengetahui Ayah akan pergi. Toh, dengan demikian, kita dapat berbuat lebih banyak lagi untuknya."  Genggaman tangan Banu menghangatkan hati Ananta. Ia memang sedang membutuhkan seorang pendamping. Ia tidak berani pergi seorang diri menemui dokter Mono.

Ketika memasuki ruang praktik dokter itu pun, Ananta menggandeng tangan Banu dengan gemetar, meminta pria itu menemaninya. Tidak seperti biasanya. Bukan seperti seorang Ananta. Dia memohon kepada seorang lelaki mendampinginya, hanya untuk pergi ke dokter.

"Rasanya aku tidak sanggup menemui dokter Mono seorang diri, Banu. Please, kamu... kamu  bersedia mengantarkan aku?" pinta Ananta terbata-bata melalui telepon. Selama bersahabat dengan Banu, dia memang tidak pernah 'seperempuan'  malam itu.

Ananta begitu rapuh. Dia baru menyadari tidak setegar yang dia sangka selama ini. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penantian yang menyiksa. Ananta tidak tahu kapan Ayah akan 'pergi', tapi dia merasa bahwa hari itu memang semakin dekat.

Akhir-akhir ini Ayah semakin pendiam, dan seringkali hanya memandangnya tanpa kata. Mata Ayah yang semakin redup itu, tak pernah kehilangan sorot cinta kasihnya. Ya, bagaimanapun Ananta tahu pasti, Ayah sangat mencintainya, seperti cintanya juga yang sangat dalam kepada Ayah.

Aku harus membahagiakan Ayah di hari-hari terakhirnya, batin Ananta berteriak. Berhari-hari dia telah memikirkan keputusan itu. Ananta akan memperkenalkan Banu kepada Ayah. Selama ini, dia tidak pernah membawa seorang pria pun untuk diperkenalkan secara resmi kepada Ayah.

Memang banyak teman prianya yang bertandang ke rumah. Tapi, Ananta selalu menganggap mereka sebagai teman. Tidak ada seorang pun yang istimewa di mata Ananta. Secara tidak sadar, dia memang selalu membandingkan mereka semua dengan Ayah.

Dan, para arjuna itupun satu per-satu berguguran pergi. Hingga tanpa terasa, waktu berjalan terus dan usia Ananta pun semakin bertambah. Tahun ini, berapa sudah usianya? Ananta menghitung hari ulang tahunnya yang tak lama lagi tiba. Hari ulang tahunnya jatuh delapan hari di muka, setelah ulang tahun Ayah.

Ayah akan menginjak usia ke-55. Sedangkan dia, aduh... Ananta baru menyadari bahwa usianya sudah hampir kepala tiga ! Dan sekali pun, dia tidak pernah memperkenalkan teman pria yang paling istimewa kepada Ayah!

Mungkin, karena Ayah pun tak pernah menyinggung akan hal itu? Ya, Ayah tidak secerewet Ibu. Tetapi, dalam keadaan sakitnya, baru-baru ini pernah juga dia menyinggung kerinduannya untuk menjadi seorang kakek. "Ayolah, Nanta, kapan kamu menjadi perempuan yang feminin? Kamu kok, lebih telaten mengurus anjing ketimbang keponakanmu, Si Tita? Kamu belum ingin punya Nanta yunior, he?"

Ananta tersenyum geli. Selain humoris, Ayah juga demokratis. Dia bukan tipikal seorang ayah yang memaksakan kehendaknya sendiri. Ah, begitu beruntungnya Ananta memiliki ayah seperti dirinya. Ya, tidak ada salahnya, menjelang Natal tahun ini, Ananta memperkenalkan Banu kepada Ayah.

Sebagai seorang puteri, sudah sepantasnya dia membahagiakan hati kedua orangtuanya. Walaupun Ananta sendiri tidak tahu pasti, apakah dia sungguh mencintai Banu. Dia memang masih juga membanding-bandingkan Banu dengan Ayah. Dan, terus terang saja, di mata Ananta, Ayah masih tetap merupakan pria yang paling spesial dalam hidupnya.

Tetapi, Ananta juga tidak menutup mata bahwa Banu begitu sabar dan baik hati. Dia tidak hanya mendampingi Ananta di kala suka, pun ketika lara datang menyengat. Banu setia mengulurkan tangan tanpa Ananta minta.

Ya, apalagi yang ditunggu Ananta? Lelaki itu sudah menunggunya begitu lama. Hingga kemarin malam, Banu telah melamar Ananta untuk ... kedua kalinya. Ah, tekad Ananta bulat sudah. dia akan memperbincangkan rahasia hatinya yang paling dalam kepada Ayah. Tentu, ayahnya akan bahagia.

Kehadiran Banu tidak akan menggeser kedudukan Ayah dari sudut hati Ananta. Oh, tidak akan pernah terjadi hal itu! Ananta hanya mencoba melengkapi kebahagiaan keluarga mereka. Itu saja.

                                                     ***

Seusai kerja yang melelahkan, sore itu Ananta pulang ke rumah dengan riang. Dua hari lagi malam Natal, dan Banu akan diajaknya serta. Ananta akan memperkenalkan pria itu kepada Ayah sebagai calon menantunya. Pasti Ayah dan Ibu akan bahagia!

Namun setibanya di rumah, Ananta tertegun. Tidak ada seorang pun menyambutnya pulang seperti biasa. Hanya selembar memo, berisikan tulisan tangan Ibu yang tampak ditulis tergesa-gesa. Ayah tiba-tiba sesak napas, dan 'dilarikan ' ke rumah sakit dengan ambulans!

Oh, Tuhan, jangan ambil Ayah. Belum banyak yang kulakukan untuknya. Belum dapat kuberikan sesuatu yang berharga di dunia ini untuknya.... Harapan Ananta hanya tinggal harapan belaka. Di rumah sakit, suster di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditemuinya mengatakan bahwa Ayah sudah dibawa ke basement. 

Basement? Bukankah itu ...ruang jenazah? Ananta tidak akan pernah bertemu dengan Ayah lagi! Dia tidak sempat mengucapkan kata-kata cinta dan maaf yang paling dalam untuk Ayah. Ayahnya telah pergi tanpa Ananta pernah sempat memperkenalkannya dengan Banu.


Di ruang tunggu rumah sakit sore itu, Ananta memeluk ibunya dengan sejuta duka yang menyesak dalam dadanya. Setelah kepergian Ayah, rasanya hanya tinggal mereka saja yang ada di dunia ini!

                                                       ***

Natal kali ini adalah Natal yang paling putih bagi Ananta. Dia kehilangan Ayah tercinta, lelaki yang paling punya makna bagi dirinya. Di gereja, Ananta mengikuti misa dengan khusyuk. Di sisinya tidak ada Banu.


Entah mengapa, setelah kepergian Ayah, tiba-tiba saja...ya, tiba-tiba saja Ananta jadi merasa ragu kembali kepada keputusannya untuk menerima cinta Banu.Rasa-rasanya, tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatinya, selain kasihnya yang paling besar bagi Ayah tercinta! ( just for my Pa, majalah femina No.Th? *lupa).  
 

Rabu, 22 Maret 2017

Inung

(Oleh Effi S Hidayat)

Aku bergidik mendengar cerita Inung. Temannya, Eko, mencoba bunuh diri karena malu tidak bisa membayar tunggakan uang sekolahnya!

Aku bertemu dengan Inung di depan pintu gerbang sekolahku. Dia sedang tercenung dengan mata menerawang, menatapi anak-anak berseragam sekolah yang sedang lalu lalang di halaman. Kulitnya yang cokelat tampak basah berkeringat, menjunjung baskom berisi makanan.

"Jualan apa?" Aku mendekat, bertanya ingin tahu. Pagi ini kebetulan aku tidak sempat sarapan. Dan, kelihatannya makanan yang dijajakannya boleh juga untuk mengganjal perutku sampai siang nanti.

"Oh, ini, Mbak . Ada nasi uduk, nasi ulam, bihun goreng. Semuanya enak-enak lho, murah lagi!" senyumnya mengembang dan aku melihat sepasang matanya yang dinaungi bulu mata lentik itu bersinar penuh harap.

Aku tersenyum. Anak perempuan ini pintar juga merayu orang. "Hmm, kamu berbakat jualan, ya? Sudah lama menjajakan penganan seperti ini?" kataku sembari mencomot sebuah pisang goreng. Rasanya manis, enak! Aku mencomot sebuah lagi, sembari menunjuk sebungkus nasi uduk dan mie goreng untuk bekal.

Sejak hari itu aku berkenalan dengan Inung. Ya, namanya memang Inung. Usianya dua belas tahun. Katanya, dia sebentar lagi mau ujian SD. "Tapi, Emak saya ndak punya biaya untuk bayar uang ujian, Mbak. Sudah tiga hari ini saya nggak masuk sekolah, bantuin Emak jualan. Emak lagi sakit di rumah!" ceritanya memelas.

Setiap malam, Inung harus membuat penganan yang dijualnya esok hari. Sedikit-sedikit, katanya, ia sudah pintar bikin kue seperti emaknya. "Kalau sudah besar nanti, saya mau punya toko kue yang besarrr... , Mbak. Supaya Emak dan saya nggak perlu keliling lagi di jalan!"

Aku terharu mendengar ceritanya. Apa yang bisa kulakukan untuk membantu Inung? Teman-temanku di sekolah malah mengejek ketika tahu aku membeli makanan yang dijual Inung. Dhea bilang, penganan itu kotor, jorok. "Mau-maunya sih, kamu beli makanan murahan begitu?"

"Iya, Si Nadin ini bagaimana, sih. Jajan dan ngobrol sama anak dekil kayak gitu. Ihh, nggak level!" Tia balas mengejek.

Kata-kata mereka membuatku menghela napas. Bagaimana mungkin aku membantu Inung? Membujuk teman-teman untuk ikut melariskan dagangan Inung saja, aku tidak mampu. Entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa aku betah ngobrol bersama Inung. Cerita-ceritanya yang polos, keinginannya yang besar untuk ikut ujian, dan mimpinya untuk punya toko kue sendiri, membuatku semakin ingin berteman dengannya.

"Inung mau jadi adiknya Mbak?" kataku suatu  pagi, sembari memesan dua bungkus nasi ulam dan seperti biasa mencomot pisang goreng. Seperti yang dipromosikan Inung, jajanan yang dijualnya memang enak dan murah meriah.

Bayangkan, untuk sebungkus nasi uduk, nasi ulam, atau bihun dan mie goreng, aku cukup mengeluarkan uang sekian ribu rupiah saja. Sedangkan harga sebuah pisang goreng, combro, atau kue apem, hanya...lima ratus rupiah saja.

Ketika aku menyarankan kepadanya untuk menaikkan harga dagangannya, Inung malah tertawa. "Kalau yang beli semua seperti Mbak Nadin sih, harga segitu emang nggak ada artinya, Mbak. Tapi, pelanggan Inung,'kan kebanyakan anak-anak kampung. Uang jajan mereka nggak sebanyak punya Mbak Nadin!"

Aku jadi malu mendengarnya. Aku memang tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang dijalani Inung bersama ibunya. Katanya, untuk menghemat, mereka hanya makan kenyang sehari satu kali saja. "Tidak perlu sarapan dan makan siang, Mbak. Paling-paling kami makan jualan yang bersisa, itu sudah cukup."

Inung tidak pernah main ke mal, seperti aku dan teman-teman lainnya. "Boro-boro main, Mbak Nadin. Inung harus bantuin Emak dan belajar. Bikin pe-er saja sampai ngantuk-ngantuk," ceritanya tertawa. Satu yang kusukai dari Inung, sesusah apa pun dia, Inung masih bisa tertawa ceria.

Tidak seperti Lila, adikku. Usianya sih, sepantaran dengan Inung , tapi manjanya minta ampun. Penyakitnya sering ngambek. Dibandingkan Inung yang rajin membantu ibunya dan giat belajar, kayaknya sih, Inung itu jauh lebih dewasa.

Malah kadang-kadang saja, aku sering mengelus dada sendiri. Kehidupanku jauh lebih mapan dari Inung, tapi soal kesabaran dan kesadaran belajar, rasanya aku juga kalah jauh dari Inung. Padahal, usiaku empat belas tahun, dan sudah duduk di kelas dua SMP.

                                                            **

Aku menarik laci meja belajarku. Di antara amplop surat dan buku harianku, terselip buku tabunganku. Isinya sudah lumayan, rasanya kalau kuambil beberapa ratus ribu saja, nilai nominal yang tercantum di dalamnya tidak berkurang banyak. Hanya saja, bagaimana pertanggungjawabanku dengan Mama?

Aku jadi ragu-ragu. Namun dorongan hatiku untuk membantu Inung membayar tunggakan uang sekolahnya agar ia bisa ikut ujian semakin besar. Aku kasihan sekali melihat wajah Inung semakin keruh saja akhir-akhir ini. Matanya yang bening semakin kulihat menerawang memandangi teman-temanku yang ramai bercanda di halaman sekolah.

Menunggui dagangannya dengan sabar, menanti pembeli yang datang, adalah pekerjaan Inung sehari-hari. Aku adalah pelanggan tetapnya, selain Rida dan Meta. Ya, bisa dihitung dengan jari anak yang mau membeli dagangannya. Aku menghela napas panjang. Cerita Inung tentang temannya, Eko, membuatku bergidik. Katanya, Eko, mencoba bunuh diri karena malu tidak bisa melunasi uang sekolahnya. Sekarang Eko sedang terbaring koma di ranjang rumah sakit !

"Tapi, Inung tidak mau seperti Eko, Mbak. Inung ingin sekolah terus supaya pintar dan jadi pengusaha kue yang sukses. Cuma... ya, Inung bingung juga, kalau sudah waktunya tiba, apa uang yang Inung kumpulkan bisa mencukupi?"

Kemarin sore, aku ngotot ikut Inung ke rumahnya. Aku diperkenalkan Inung kepada ibunya. Perempuan itu secantik Inung, hanya tubuhnya tidak sesintal mamaku. Tentu saja, tubuh ibunya Inung kurus sekali. Kata Inung, ibunya menderita TBC. Aduh, lengkap sudah penderitaan Inung!

Aku terpana melihat 'rumah' yang ditempati Inung dan ibunya. Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan tinggal hanya dalam ruangan berukuran 3 x 4 meter? Dinding yang hanya terbuat dari papan seadanya, dan genting yang sudah bocor di sana-sini, ditambah lagi perabotan rumah a la kadarnya. Jelas, Inung dan ibunya tidur sekaligus memasak di tempat yang sama.

"Tapi, Inung menjaga kebersihan makanan yang dijual, Mbak ," Inung seolah mengerti apa yang kupikirkan. Ia lalu menunjukkan peralatan dapurnya yang memang bersih-bersih, walaupun kondisi tempat tinggal mereka memprihatinkan.

Aku tidak pernah membayangkan rumah Inung seperti ini. Mereka tidak punya radio, televisi, dan... aduh, mana berani aku membandingkannya dengan perlengkapan yang ada di rumahku? Sore itu aku menemani Inung membuat kue dan belajar. Aku senang, ternyata Inung anak yang cerdas.

Tulisan Inung bagus dan ia dengan cepat mengerti pelajaran yang kuajarkan. Ughh, aku sendiri tidak menyangka bisa menjadi ibu guru yang sabar. Padahal, kalau harus mengajari adikku, Lila, buntut-buntutnya aku bisa bertengkar dengan Si 'tukang ngambek' itu.

Dari cerita Inung dan ibunya, aku jadi lebih mengenal keluarga mereka. Bapak Inung yang mulanya petani di desa , mengadu nasib ke kota, mengayuh becak dan sesekali nyambi kerja di bengkel sepeda. Ketika ayahnya masih ada, penghasilan keluarga mereka memadai. Tapi, setahun lalu, ayahnya Inung meninggal karena sakit. Sehingga ibunya pontang-panting bekerja menghidupi keluarga.

Inung dan kakaknya, Tito, masih bisa sekolah karena ibunya Inung berjualan kue dan menjadi buruh cuci - setrika di sekitar kampung yang mereka tinggali. "Tapi, Tito tidak mau sekolah lagi, kerjanya nongkrong bersama teman-temannya. Sejak belajar merokok dan 'minum', Tito berubah. Tidak peduli pada adiknya, Inung, bahkan tidak mau tinggal lagi di rumah. Katanya, ia ikut geng kampung sebelah. Kerjanya berkelahi dan bikin onar," tutur ibunya Inung sedih. Airmatanya mengalir deras.

"Emak, sudahlah. Tuh, lihat, Mbak Nadin jadi ikut sedih,'kan?" Inung menyeka airmata ibunya dengan kain batik yang sudah pudar warnanya. Kain batik itu menjadi selimut penutup tubuh ibunya yang sedang terbaring sakit. Wajah perempuan berusia 38 tahun itu jauh lebih tua dari mamaku. Padahal mereka seumur. Ah, seandainya Mama melihat apa yang terjadi di sini?

Ketika akan pulang aku menitipkan sisa uang jajanku. "Terima kasih, Mbak Nadin. Terima kasih, ya," kulihat Inung terharu, menerima uang kertas dua puluh ribu yang kuselipkan di tangannya. Untuk membantu beaya pengobatan Emak, ucapku tulus. Aku tahu, pemberianku tidak banyak. Tetapi paling tidak, aku benar-benar ingin menolong Inung!

Ya, menolong Inung. Aku harus menolong Inung agar ia bisa ikut ujian. Berulangkali kalimat itu mendengung di telingaku. Malam ini, aku benar-benar resah. Aku ingin minta izin pada Mama untuk menggunakan uang tabunganku. Hanya beberapa ratus ribu saja, tentu mamaku tidak keberatan.

Kekurangannya, bisa kutambahkan dari celenganku. Dengan bersemangat, aku menimang-nimang celengan babi-ku yang sudah 'gemuk'. Tentu lumayan isinya! Dan, sungguh aku tidak menduga reaksi mamaku. Di meja makan pagi ini, ia tampak terpana memandangku. Ada bening di matanya, ketika dengan lembut Mama merangkulku.

"Kamu sudah besar, Nadin. Kamu tahu yang terbaik ,yang  kamu lakukan. Mama sungguh bangga terhadapmu. Kenapa kamu segan bilang pada Mama? Mama tidak keberatan kok, menolong Inung dan ibunya. Kalau perlu, mereka bisa tinggal bersama kita. Ibunya bisa membantu mengajari Mama bikin kue. Kamu lupa, ya, Mama juga punya mimpi bisa punya toko kue seperti Inung? Siapa tahu kita bisa saling bekerja sama?"

Aku bahagia sekali! Aku memeluk Mama erat-erat. Aku juga bangga punya ibu baik hati seperti mamaku. Pagi itu aku berangkat sekolah dengan bersemangat. Mama sudah memberikan 'uang pinjaman' untuk membayar tunggakan sekolah Inung. Akan dipotong nanti dari uang tabunganku yang rencananya akan kuambil siang ini sepulang dari sekolah. Ditambah uang celengan babi-ku, lumayan-lah untuk membantu Inung dan ibunya.

Setiba di depan pintu gerbang sekolah, aku melihat kerumunan orang. Ada apa? Ada apa ini? Aku tidak mendapati Inung di tempat mangkalnya yang biasa...."Kelihatannya ada kecelakaan, Non Nadin," kudengar suara Pak Tok, sopirku.

Aku buru-buru turun dari mobil, hatiku berdebar, entah mengapa....Dan, benar saja! Aku menjerit sekencang-kencangnya melihat tubuh siapa yang tergolek di sana. Inung! Dia, Inung, teman kecilku tersayang....

Entah siapa yang bercerita, sayup-sayup kudengar, Inung tertabrak mobil ketika menyeberang. "Kelihatannya anak ini sedang melamun, sehingga tidak melihat ada mobil yang sedang melintas...."

"Ya, kasihan sekali dia! Kepalanya pecah..., di mana keluarganya?" Masih sempat kulihat rok putihnya yang bersimbah darah, lalu goreng pisang, kue apem, combro, dan ... dagangannya yang lain, jatuh berhamburan di jalanan....

Inung, mengapa kamu pergi secepat ini? Aku ingin membantumu, Inung...aku teringat Inung dan juga ibunya. Pandanganku terasa nanar dan detik itu juga aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Antara sadar, ada dan tiada, aku melihat senyum Inung yang manis. Dia melambaikan tangan kepadaku. Ada cahaya bening keemasan yang menyilaukan di sekitar tubuhnya. "Inung titip Emak, Mbak Nadin...."

Aku memejamkan mataku. Air bening mengalir deras di pipiku....( Majalah Gadis No.? lupa*  )      
  

Selasa, 21 Maret 2017

Matahari di Pengujung Ramadhan

(Oleh Effi S Hidayat)

Nama Bi Minah begitu sering meluncur dari bibir Alika, puteriku. Dan aku merasa tak suka setiapkali mendengarnya.

"Daag, Mama...," Alika tersenyum manis sambil melambaikan tangannya yang mungil kepadaku.Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia sudah duduk rapi di 'singgasana'-nya. Pipinya yang montok tampak segar terpoles bedak dan ketika aku melangkah mendekatinya, harum sabun bayi menerpa hidungku. Aku menciumnya dengan gemas.

"Hmm, A'i manis sekali! A'i pakai baju baru yang Papa Dodo belikan kemarin, ya?" Aku menggelitikinya dengan kegemasan yang belum juga sirna.

Alika menganggukkan kepalanya, membuat kuncir rambutnya bergoyang-goyang. "Bi Minah pinter, ya, Ma, pilihin bajunya A'i? Eh, kok, Mama nggak ngantor? Ntar telat, lho, Ma...."

Aku tersenyum mendengar 'usiran'-nya. "Mama sedang cuti, A'i. Cuti artinya istirahat di rumah. Sebentar lagi,'kan Lebaran, Mama mau beres-beres rumah dan bikin kue yang enak untuk Papa Dodo dan A'i. Nah, mulai hari ini, A'i juga bisa main-main sepuasnya sama Mama," Aku menjelaskan sambil mengambil mangkuk berisi bubur ayam dari tangan Bi Minah."Biar saya saja yang menyuapi A'i. Bi Minah tolong carikan cetakan kue serabi, ya. Saya mau membuat penganan istimewa untuk buka puasa nanti sore."

"Aaa... Bi Minah mau ke mana? Ayo, suapin A'i, dong!" Alika merengek ketika melihat Bi Minah beranjak pergi ke dapur.

"A'i sarapan sama Mama saja. Bibi sedang repot," Aku membujuknya.

"Nggaaak...," Alika menolak suapan bubur yang kusodorkan. Mulutnya terkatup rapat dan wajahnya cemberut. Dia sudah hampir menangis.

"Buburnya enak, nih, A'i. Mama jadi lapar, lho. Sayangnya Mama sedang puasa," Aku terus mencoba membujuknya dengan sabar.

"Puasa itu... apa, sih, Ma?" tanya Alika spontan. Rupanya rasa ingin tahu membuat dia sekejap melupakan kesedihannya.

"Puasa itu salah satu perintah Allah, A'i. Sebelum Lebaran, kita harus berpuasa menahan lapar dan haus selama sebulan penuh. Papa, Mama, dan Bi Minah nggak sarapan dan makan siang, tetapi makan malam. Itu namanya buka puasa dan sahur. Nanti kalau sudah besar, A'i juga harus berpuasa. Sekarang A'i maem bubur dulu, ya?"

"Buka puasa itu kalau A'i dapet kolak, dapet kue sus... Terus kalau sahur, yang pagi-pagi orang ramai teriak-teriak itu, Ma?" Alika tidak berhenti bertanya. Aku gembira akhirnya ia mau juga menghabiskan buburnya. Selama menemaninya sarapan, berulangkali aku terpesona mendengarkan celotehnya yang cerdas. Berapa banyak sudah perbendaharaan bahasa dan pengetahuannya bertambah.

Alika sudah tahu kalau sebulan penuh itu lamanya 30 hari bahkan ia menanyakan ruwahan segala. "Sebelum puasa,'kan harus selamatan, Ma, itu namanya.... ruwahan," katanya menguliahi aku. "Kok, Mama nggak bikin ruwahan kayak mamanya Anisa? Bi Minah dan A'i dibagiin besek makanan, enak-enak deh kuenya!"

Terus terang saja aku baru ingat upacara selamatan adat Jawa yang biasa dilakukan orang pada saat menjelang bulan puasa itu.Tradisi nyadran, ziarah ke makam dan mengirim hantaran kepada para saudara dan tetangga sebagai jalinan silaturahmi. Tapi, aku tak punya cukup banyak waktu untuk itu. Pekerjaanku di kantor bertumpuk.

"Darimana A'i tahu? Anak Mama pintar sekali, deh!" Aku membelainya dengan bangga. Kecil-kecil sudah kritis, siapa dulu dong, ibunya? Aku tersenyum geli sendiri, mengira-ngira reaksi Mas Dodo kalau kuceritakan hal ini kepadanya nanti.

"Bi Minah, Ma. Bi Minah yang kasih tahu A'i, "Alika menjawab kenes. Entah mengapa, ketika untuk ke sekian kalinya dia menyebutkan nama Bi Minah, tiba-tiba saja ada perasaan tidak senang di hatiku. Aku tidak suka Alika selalu menyertakan Bi Minah dalam setiap ucapannya.

                                                            **

"Ada apa, Retno?" Mas Dodo bertanya. Dia mengangkat wajah dari buku bacaannya ketika mendengar aku menghela napas panjang.

"Alika tidak mau kusuapi, dia juga menolak ketika kugendong. Aku harus membujuknya setengah mati...," kataku sambil menyikat rambutku keras-keras.

"Oh, tentu saja!" Suamiku tergelak. "A'i sudah cukup besar, Retno."

"Bukan itu masalahnya, Mas. A'i terlalu rapat dengan Bi Minah!" Aku menjelaskan sambil tidak lupa menceritakan kejadian tadi pagi yang membuatku jengkel. Alika menangis mencari Bi Minah yang sedang pergi berbelanja ke pasar. Ketika bibi kesayangannya datang, tangisnya langsung berhenti bahkan tak lama kemudian ia tertidur pulas dengan begitu manisnya dalam dekapan Bi Minah.

"Habis bagaimana dong, Retno? Sehari-hari kita berdua ,'kan sibuk di kantor. Selama ini Bi Minah yang mengasuh A'i. Tentu saja A'i dekat dengan ibu asuhnya," hanya itu komentar Mas Dodo ketika aku menyampaikan uneg-uneg-ku.

Suamiku benar. Menjelang usia Alika yang ke-4, berapa banyak sudah aku menghabiskan waktu bersamanya? Begitu habis masa cuti melahirkan, aku sudah sibuk kembali menangani order iklan-iklan yang masuk. Profesiku sebagai Manajer Promosi di sebuah perusahaan advertising yang sedang berkembang, memang cukup banyak menyita waktu.

Tidak heran ketika Alika mulai belajar merangkak dan berjalan, bahkan ketika Alika sedang tumbuh gigi dan mulai berbicara, Bi Minah pula yang melaporkannya kepadaku. "Tampaknya A'i lebih membutuhkan kehadiran Bi Minah daripada aku sebagai ibu kandungnya," keluhku dengan sedih, menyadari batas yang sudah terentang di antara aku dan anakku, Alika.

"Engkau ini ada-ada saja, Retno," Mas Dodo meletakkan bacaannya. Lalu dia merengkuh bahuku dan membelainya dengan lembut. "Tapi seandainya dugaanmu itu benar, mengapa tidak kau coba untuk merebut kembali hati A'i? Mumpung kau sedang ada di rumah!"

Aku jengkel mendengar tawa Mas Dodo. Tetapi, ah, ada benarnya juga dia. Bukankah ini saat yang baik untuk merebut kembali hati puteriku? Maka aku pun mulai memasang strategi. Pagi-pagi ketika mulai sarapan, hingga malam hari menjelang tidur, aku selalu berusaha di dekat Alika.

Aku mengajaknya jalan-jalan dan membelikan apa saja yang dia inginkan. Aha, kedengarannya aku menyogok anakku sendiri. Ya, kuakui, segala cara memang kulakukan untuk merebut hati Alika. Namun ternyata tidak mudah meruntuhkan dominasi Bi Minah. Suatu malam, rengekan Alika, membuatku bingung.

Ia bosan mendengarkan cerita Donal Bebek, Puteri Salju, atau Si Kancil yang nakal. Alika minta dipanggilkan Bi Minah yang katanya sangat pintar menceritakan Kisah Nabi-Nabi.  "A'i mau dengar cerita Malaikat Jibril waktu datang ke Rasul... Rasulullah, Bi," pintanya penuh semangat .

Wuah, walau sedikit belepotan, Alika mampu mengucapkan kata Rasulullah dengan tepat. Dan, aku pun duduk terpaku di tempatku, ikut mendengarkan Bi Minah yang ternyata rajin bertadarus Al Quran.

"Sebelum tidur, Non A'i senang mendengarkan Bibi membaca Al Quran," Bi Minah menjelaskan. Dengan penuh kasih ia membelai kepala Alika yang sudah tertidur pulas. Seusai membaca, Bi Minah biasanya menerangkan makna, tafsir, serta maksud yang dikandung dalam Al Quran. Tentu dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Alika sendiri seperti biasa begitu antuasias untuk bertanya.

Aku memandang wajah tua di hadapanku. Kesungguhan hatinya tampak terpancar jelas, begitu khusyuk ketika membacakan ayat-ayat Allah yang menjanjikan ganjaran dan pahala itu. Terus terang saja, bulu-bulu halus di tanganku bergetar mendengar suci itu mengalun indah dari bibirnya.

Bi Minah telah melakukan yang terbaik untuk Alika. Ah, bahkan aku sendiri tidak setelaten dia dalam mengasuh Alika. Kemarin siang saja aku kehilangan kesabaran menghadapinya. Alika tidak berhenti mencomot kue nastar yang sedang kubuat. Dan, apa yang kulakukan? Tidak sabar, aku menyentil punggung tangannya yang mungil. Sontak, Alika segera berlari mencari pelindungnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Bi Minah?

"Sudah malam, Den Retno," teguran Bi Minah menyadarkan aku. Batuknya lagi-lagi memecah keheningan. "Uhuk... uhuk!" Ia memegang dadanya dan bernapas dengan susah payah.

"Bi Minah tidak apa-apa?" Aku bertanya cemas melihat wajahnya menjadi merah padam karena batuk yang dideritanya. Sepanjang bertadarus tadi, batuknya memang kerapkali datang mengganggu.

Bi Minah menggelengkan kepala sambil menyeka mulutnya dengan sapu tangan. Dan, aku melihat ada sebercak darah segar di sana. Oh, Tuhan!

                                                               **
"Kita harus mencari pembantu lain untuk menggantikan Bi Minah, Mas. Berbahaya, A'i bisa ketularan batuk yang dideritanya. Mungkin Bi Minah mengidap penyakit TBC," kataku dengan sangat cemas kepada Mas Dodo.

"Jangan mudah berprasangka buruk, Retno," sahutnya dengan nada tidak senang. Mungkin ia bosan mendengar keluhanku. Lagi-lagi tentang Alika dan ... Bi Minah.

"Aku melihat Bi Minah batuk berdarah, Mas!" jeritku tertahan, agak jengkel melihatnya hanya menaikkan bahu. Itu satu ciri khas Mas Dodo jika ia memandang enteng suatu masalah. Padahal, aku sungguh-sungguh ingin meyakinkan bahwa dugaanku tidak sekadar prasangka belaka. Aku cemas sekaligus prihatin dengan kesehatan A'i, puteri kami satu-satunya. Bagaimana kalau ia sampai ketularan penyakit yang mengerikan itu?

"Sudahlah, Retno. Periksakan saja dulu Bi Minah ke dokter. Kalau hasilnya positif, baru kita diskusikan bersama jalan keluarnya."

"Tetapi, Mas...."

"Retno, masalah sebenarnya, engkau belum juga dapat memenangkan hati A'i , bukan?" pandangan Mas Dodo menikam aku. "Kau cemburu, Retno. Kau cemburu kepada Bi Minah, sehingga ingin menyingkirkan dia. Begitu,'kan?"

Aku tertegun mendengar ucapan Mas Dodo. Tidak biasanya ia berkata 'keras' seperti itu. Ia lebih membela Bi Minah yang berstatus pembantu ketimbang isterinya sendiri! "Mas tidak khawatir dengan kesehatan A'i?" teriakanku menggantung di udara karena Mas Dodo sudah berbalik tidur memunggungi aku.

"Hari sudah larut malam, Ret. Aku mengantuk. Kalau perdebatan terus dilanjutkan, kita bisa kesiangan bungun sahur nanti."

Sepanjang malam aku tidak dapat memejamkan mata. Kalimat-kalimat yang diucapkan Mas Dodo terngiang-ngiang di telingaku. Benarkah aku terbakar oleh api cemburu sehingga begitu bernafsu untuk menyingkirkan Bi Minah?

Lonceng jam dinding yang berdentang empat kali, menyentakkan aku. Dengan hati-hati aku bangkit dan keluar dari kamar. Aku tidak ingin membangunkan Mas Dodo. Selesai menyiapkan makanan sahur, baru aku bangunkan dia.

Di dapur kulihat ketel berisi air sudah hampir mendidih dan di atas meja makan sudah tersedia hidangan. Rupanya Bi Minah sudah menjerang air dan menyiapkan makanan. Malam ini adalah malam terakhir Ramadhan. Besok sore semua umat muslim tinggal menunaikan sekali lagi kewajiban berbuka puasa dan bedug takbiran pun akan bergema.

Aku melongok ke luar jendela. Angin dini hari menyentuh pori-pori wajahku. Dingin. Tidak sadar aku menggigil, mendekapkan kedua tanganku di bahu.

"Bi Minah...," Aku memanggil. Aku ingin minta dibuatkan kopi tubruk olehnya. Kopi buatannya memang tidak ada duanya. Mas Dodo saja lebih suka kopi tubruk buatan Bi Minah daripada kopi buatan isterinya sendiri. Hmm, agaknya di rumah ini, Bi Minah memang lebih dibutuhkan, pikirku. Aku tersenyum getir sendiri.

Tetapi tetap tidak ada jawaban, walau aku sudah memanggil Bi Minah untuk ketiga kalinya. Aku mulai kehilangan kesabaran, tapi ketika aku menengok ke kamarnya yang kosong melompong, hatiku mulai cemas. Tidak mungkin Bi Minah berangkat ke pasar sepagi ini. Lagipula aku tidak memesannya untuk berbelanja.

Dan, aku terhenyak ketika mendapati sehelai surat di atas pembaringan Bi Minah. Tulisan dengan pensil itu seperti cakar ayam, hampir tak terbaca. Namun aku masih dapat mengerti maksud tulisannya. Bi Minah pergi ! Ia pergi dari rumah ini karena tak ingin menulari Alika dengan penyakitnya.

Bi Minah sangat menyayangi Alika, sama seperti menyayangi aku, tulisnya. Maaf, Den Retno, Bibi pamit. Maafkan jika selama ini Bi Minah banyak menyusahkan Den Retno dan Den Dodo. Hanya itu yang dapat kubaca karena pandanganku sudah mengabur oleh airmata yang mendesak tumpah dari kelopak mataku.

Aku yang mengajari Bi Minah menulis, ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas dua. Tiba-tiba aku teringat kepada Ibu. Apa kata almarhumah ibuku nanti jika dia tahu Bi Minah pergi? Oh, aku telah menyia-nyiakan amanat Ibu, pikirku sedih.

Ibu berpesan sedemikian rupa karena dia tahu Bi Minah tidak memiliki sanak famili lagi. "Kita-lah satu-satunya keluarga Bi Minah, Retno," begitu kata ibuku dahulu.  Duh, mengapa sampai hati aku melupakannya?

Ke mana Bi Minah pergi? Ke mana? Aku berlari membuka pintu halaman. Jalanan lengang. Sisa air hujan yang turun deras semalam, basah menggenangi jalan. Udara dingin. Dingin sekali. Aku menatap kepekatan pagi di depanku dengan perasaan bersalah.

Ya, perasaan berdosa begitu menderaku. Ini sahur terakhir yang seharusnya kami habiskan bersama-sama. Makanan untuk Hari Raya Lebaran esok lusa sudah lengkap semua tersedia. Opor ayam, rendang balado, sambal hati dan kentang, ketupat serta kerupuk udang tinggal menunggu disantap.

Kepergian Bi Minah begitu tiba-tiba, namun dia tidak melupakan tugasnya. Pasti karena ia sempat mendengar obrolanku bersama Mas Dodo semalam. Sebelum berdebat sampai ke kamar tidur, kami memang terlibat pembicaraan panjang di ruang tamu.

Suara azan subuh memanggilku. Ada rasa malu ketika aku membasuh wajah dengan air wudhu. Mas Dodo benar. Perasaan iri sudah membutakan mata hatiku. Kasih sayang Bi Minah tulus. Ia tidak pernah bermaksud merebut Alika dari tanganku. Duh, kalau benar ia sakit, seharusnya aku membawanya ke dokter, bukan malah menyingkirkannya. Aku bersujud di hadapan Allah, memohon ampun. Aku harus mencari Bi Minah, ke mana pun ia pergi!    

Matahari di pengujung Ramadhan sudah terbit di ufuk timur. Sinarnya keemasan, begitu indah. Suara azan menambah syahdu suasana. Rasanya, inilah saat kemenangan bagi diriku. Kemenangan untuk mengalahkan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Aku mendengar Mas Dodo sudah bangun. Sebentar lagi Alika akan menyusul bangun dan melompat dari ranjangnya, mencari Bi Minah seperti biasanya.

Aku mengusap wajahku dan mengucapkan Amin, ya, robbal'alamin, dengan hati penuh pengharapan. Aku melipat mukenah dan sejadah, lalu bergegas ke luar kamar. Aku harus segera mengajak Mas Dodo untuk mencari Bi Minah. Ke mana pun ia pergi. Kami harus shalat Ied bersama-sama, seperti hari-hari raya Lebaran sebelumnya. (femina No.9/XXI, 4 - 10 Maret 1993)       

Senin, 20 Maret 2017

Lebaran Tanpa Oma

(Oleh Effi S Hidayat)

Kamu,'kan punya penyakit maag. Kamu bisa sakit. Di tempat kos tidak ada yang mengurusmu dengan baik. Kamu tidak akan kesepian di sana? Siapa yang mencuci dan menyetrika pakaianmu? 


"Telepon untukmu, Is," panggilan Tante Anna, ibu kos-nya, menahan langkah Isti yang sudah akan beranjak membuka pintu pagar.Uff, siapa sih, yang menelepon pagi-pagi buta begini?

Isti melirik jarum jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Pukul lima kurang lima menit. Rencananya,'kan, ia akan berangkat ke Stasiun Gambir mengejar kereta jurusan Surabaya. Di Gambir tentu sudah menunggu geng-nya, mereka sudah berjanji merayakan Lebaran bersama di Surabaya sebelum menyeberang ke Bali.

"Pasti asyik sekali-sekali ber-Idul Fitri di perjalanan, ibarat musafir-musafir di zaman Jahiliah dulu," Agung yang memproklamirkan ide itu pertama kali dan ternyata mendapat sambutan hangat dari rekan-rekannya, asyik berangan-angan.

Merayakan Lebaran di perjalanan, mengapa tidak? Toh, Lebaran tidak selalu harus dirayakan bersama keluarga. "Kita sudah besar, Isti. Tradisi pulang mudik Lebaran itu harus kita kikis," ujar Ami bersemangat, menguliahi Isti yang tampak ragu.

Sebagai anak perantauan memang sudah keharusan Isti untuk pulang ke rumah. Merayakan Lebaran bersama keluarga. Dan, itu sudah dilakukannya bertahun lalu, semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan SMA di Jakarta.

"Ayolah, Isti. Mosok sih, kamu selamanya mesti menjadi 'anak emas' Oma-mu? Kamu sudah jadi  mahasiswa lho, sudah sepantasnya untuk mandiri. Sekali-sekali merayakan Lebaran dengan bertualang, apa salahnya?"

Ya, apa salahnya? Toh, rutinitas pulang mudik berlebaran di rumah, lama kelamaan membuatnya jenuh juga. Teman-temannya di Lampung sudah tidak banyak lagi. Paling-paling seperti tahun-tahun sebelumnya, ia lebih banyak bengong di rumah.

Jadi, itulah sebabnya Isti sudah bersiap-siap untuk meluncur ke stasiun pagi ini. Kalau saja... ya, kalau saja ia tidak menerima telepon itu. Kabar dari Tante Rani, adik papanya yang bungsu, sungguh mengejutkan jantungnya.

"Oma gawat, Isti! Gawat! jantungnya kumat lagi. Tante sudah menelepon ambulans dan kalau bisa kamu segera ke rumah sakit saja ya, sekarang!"

Aduh, bagaimana ini? Bagaimana dengan rencana yang sudah disusun sejak berbulan-bulan lalu? Tiga hari lagi bulan suci Ramadhan akan berakhir, dan perjalanan mengasyikkan yang rencananya akan penuh petualangan, di mana Isti akan berlebaran di Bali bersama geng-nya... akankah  dilupakannya begitu saja?

Toh, Oma memang sudah tua. Sudah terlalu sering ia ke luar masuk rumah sakit untuk opname akibat komplikasi penyakitnya yang beragam. Kali ini, paling-paling ia juga harus beristirahat di rumah sakit kembali untuk beberapa waktu. Tetapi, bagaimana kalau benar-benar gawat? Bagaimanapun Isti harus pergi menengoknya ke rumah sakit sekarang juga!

Kebetulan Rumah Sakit Sumber Waras letaknya tidak jauh dari tempat kos. Maka Isti terburu-buru berangkat ke sana. Ia menitipkan ranselnya pada Tante Anna. Dengan hanya berbalut jaket ia menembus hujan yang turun rintik-rintik pagi itu.

Isti langsung saja pergi ke ruang ICCU, Unit Gawat Darurat perawatan jantung. Di sana, biasanya Oma dirawat. Seperti pada malam tahun baru lalu, terpaksa Isti dan tantenya harus melewati malam tahun baru mereka di rumah sakit karena Oma mendapat serangan jantung untuk ke sekian kalinya.

Untunglah Oma masih dilindungi oleh Yang Mahakuasa, sehingga ia masih dapat melihat matahari Tahun Baru 1993 yang baru lalu. Dan, sekarang? Oh, Tuhan, bagaimana keadaan Oma? Sudah bolak-balik Isti mengintip ruang ICCU bahkan ia sudah berkeliling juga ke bagian lainnya, ia tetap tidak menemukan Oma.

Mau tidak mau Isti menjadi panik. Perasaannya bertambah galau karena tiba-tiba saja ia teringat pada sisirnya yang patah terbelah dua ketika sedang digunakan, atau baju tidurnya yang koyak terkait ujung tangga pada waktu yang bersamaan, malam hari sebelumnya.

Pertanda apakah itu? Isti semakin merinding dibayang-bayangi oleh firasat buruk yang mengikutinya. Informasi terakhir ia dapatkan dari suster jaga bahwa memang ada yang memesan ambulans pagi itu, tetapi pasien tersebut belum datang sampai sekarang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi akhirnya Isti menelepon Tante Rani. Dan, kabar yang diterimanya membuat matanya basah. Butir-butir air berdesakan turun di pipi Isti. "Oma... Oma sudah meninggal?" bisiknya hampir tidak percaya. mengulangi kalimat Heni, anak Tante Rani yang bercampur isakan di ujung horn sebelah sana.

Setelah itu, Isti lama terpaku. Otaknya serasa beku, ia merasa tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Ia masih tidak percaya pada pendengarannya. Ah, kapan saat terakhir ia bertemu dengan Oma? Seminggu lalu? Oh, tidak! Penyesalan mulai merambati dada Isti.

Ya, entah mengapa, justru pada saat-saat terakhir Oma, ia jarang berkunjung. Sudah hampir sebulan lebih Isti tidak datang. Padahal biasanya, paling tidak seminggu sekali Isti akan membawakan buah kesukaan Oma. Lalu mereka mengobrol bersama.

Macam-macam topik obrolan yang diperbincangkan. Mulai dari hangatnya Perang Teluk, peristiwa tertembaknya Presiden AS, John F. Kennedy di tahun 1964 dahulu ketika Isti belum lahir, bencana di Flores, Lady Di dan seronoknya Madonna, sampai serial komik bergambar Si Doyok di Pos Kota -- dapat dibahasnya dengan seru bersama Oma. Ya, Oma merupakan sahabat yang jauh lebih menyenangkan dan banyak tahu ketimbang Irma, teman kampusnya yang cuma bisa ngomongin soal cowok itu.

Ah, mengapa justru belakangan ini Isti tidak mengunjungi Oma? Padahal itu bukan kebiasaannya. Walaupun dengan kesadaran penuh, Isti ingin melepaskan diri dari predikat 'anak emas' Oma yang terlanjur dilimpahkan teman-temannya sejak SMA dulu, toh, Isti masih saja menyempatkan mencari waktu untuk bercengkrama dengan omanya yang tercinta.

Isti masih teringat, betapa Oma mati-matian melarangnya kos setelah ia lulus SMA, setahun yang lalu. "Bagaimana nanti dengan makan-mu, Is? Kamu,'kan punya penyakit maag. Kamu bisa sakit. Di tempat kos tidak ada yang mengurusmu dengan baik."

Atau kalimat Oma yang ini,"Kamu tidak akan kesepian nanti di sana, Is? Siapa yang mencuci dan menyetrika pakaianmu? Pikir seribu kali dulu, Isti. Papamu juga nanti yang akan marah kepada Oma kalau kamu jatuh sakit." Isti jadi tertawa geli. Duh, Oma, sejak kapan sih, papaku bisa marah sama ibunya sendiri?

Dan tidak hanya itu saja. Oma juga mencemaskan kebebasan pergaulannya jika Isti, cucunya itu harus kos. "Hati-hati, ya, Isti. Hati-hati menjaga pergaulanmu. Anak lelaki zaman sekarang tidak bisa dipercaya. Oma ngeri kalau melihat rambut Si Tommy yang gondrong itu! Atau, Arya yang tidak pernah lepas dari jins kumalnya. Aduh, Isti, kenapa sih, semua teman lelakimu bergaya seniman seperti itu?"

Oma terus wanti-wanti, dengan jeli ikut menyeleksi dan mengamati tipikal cowok teman-teman Isti. Gayanya sudah seperti FBI saja! Dan itu malah membuat hasrat Isti semakin kuat untuk melepaskan diri dari Oma. Dia ingin mandiri. Isti ingin sekali membuktikan bahwa ia bukan 'anak emas' Oma yang cuma bisa minum susu, cuci kaki, lalu bobo dengan manisnya.

Isti sudah dewasa. Ia sudah lulus SMA dan siap masuk ke perguruan tinggi. Itu sebabnya ia memilih kos saja. Sudah sejak SMA, Isti tinggal bersama dengan Oma dan keluarga Tante Rani di Jakarta, sementara kedua orangtuanya tinggal di Lampung.

Isti menyusut airmata yang terus turun mengaliri pipinya. Rasanya ia ingin berteriak dan mengingkari kenyataan bahwa omanya sudah tidak ada lagi di sisinya. Dalam kabut matanya yang tergenang air, ia melihat jarum jam yang terus bergerak perlahan. Dari menit ke menit. Detik ke detik.

Isti tidak berani pergi ke rumah Tante Rani. Ia tidak sanggup mendapati Oma yang sudah tertidur lelap. Tetapi, ah, ia harus datang menjenguk Oma! Ya, Isti harus menjumpai Oma sekarang juga! Dan, semuanya berlangsung begitu cepat. Isti tidak ingat, apakah ia melumuri wajah tua itu dengan airmatanya atau tidak ketika ia mencium Oma untuk terakhir kalinya.

Sayup-sayup, Isti cuma mendengar Tante Rani yang merengkuh bahunya, membujuk agar ia tidak terus memeluk omanya yang sudah terbujur kaku. "Sudahlah, Isti. Sudahlah, tabahkan hatimu. Jangan basahi wajah dengan airmatamu. Ayo, Isti, sebentar lagi papamu akan datang."

Papa Isti datang tepat tengah hari ketika Oma sudah selesai dimandikan. Jenazahnya segera disembahyangkan di masjid dan siang itu juga dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Ketika tanah selesai diuruk, ketika Oma tidak dapat dilihatnya lagi untuk selamanya, Isti menangis sejadi-jadinya. Dia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari hatinya.

                                                          **

"Isti, sebentar lagi Papa akan pulang dari sembahyang Ied. Ayo, siapkan ketupatnya," suara Mama menyadarkan Isti. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa suara ia melanjutkan pekerjaannya membenahi meja makan. Biasanya pekerjaan ini ia lakukan  bersama Oma. Tetapi kini, Isti harus melakukannya seorang diri, hanya bersama dengan mamanya.

Allaahu Akbar...3x Laa Illaaha Illaallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar Walillaah Ilham..., gema takbir yang bersahutan itu membuat Isti lagi-lagi ingin meneteskan airmata. Ia bergegas menyambut Papa dan adiknya. Lalu dengan takzim, Isti sungkem kepada kedua orangtuanya, memohon ampun akan segala dosa dan perbuatan yang sudah dilakukannya.

Rasanya kali ini tidak lengkap, karena tidak ada acara mencium tangan Oma seperti hari-hari raya sebelumnya. Tidak ada belaian dan ciuman lembut di pipinya lagi. Tidak ada kue jahe dengan aroma khas bikinan Oma yang selalu dibanggakannya sebagai penganan primadona yang disajikan Isti kepada tamu-tamu yang datang.

Ya, Lebaran kali ini sangat terasa lain bagi Isti. Lebaran tanpa Oma..., tidak pernah dibayangkannya bahwa ia akan sangat merasa kehilangan seperti ini. Bagaimanapun kini Isti merasa bersyukur pernah mendapat predikat sebagai 'anak emas' Oma. Tidak semua orang pernah merasakan keakraban mendalam dengan orangtua yang kita panggil "Oma" itu.

Biarlah geng-nya mengatakan Isti belum cukup dewasa untuk mandiri. Isti tidak menyesal membatalkan kepergiannya bersama teman-temannya. Ia tidak menyesal tetap melanjutkan tradisi pulang mudik untuk merayakan Lebaran bersama dengan keluarganya. Biarlah ia lupakan rencana besarnya untuk merayakan Lebaran dengan cara lain, yaitu jalan-jalan ke Surabaya dan Bali itu.

Ternyata tidak ada saat yang paling indah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, selain bersama keluarga tercinta. Dan, itu telah dirasakan Isti saat ini. Hatinya merasa tenang dan damai. Rasanya, Lebaran kali ini telah memberinya banyak sekali makna.

Isti sudah belajar satu hal lagi dalam dunia ini. Ya, kadang-kadang kita memang baru menyadari, betapa dalamnya kita mencintai seseorang, justru di saat kita sedang kehilangan....(Just for my lovely grandma, 31121919 - 18021993)  *** Gadis No.8, 19 Maret - 8 April 1993.
      
     

Minggu, 19 Maret 2017

Kidung Natal

(Oleh Effi S Hidayat)

Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama. Suara mereka begitu bening. Kidung "Bahasa Cinta" yang bergema itu menyelusup ke sudut-sudut hati Inez.



Panggilan Oma menyentuh gendang telinga Inez. Gadis remaja itu tersentak, menyadari dirinya masih mematung di depan cermin. Lekas-lekas dia menghapus bening yang bergulir di pipinya. Ah, kenapa harus meneteskan airmata lagi? Mata tua Oma yang masih setajam mata Elang itu pasti tak dapat dikelabuinya.

Inez segera membedaki wajahnya tebal-tebal. Biarlah, asal Oma tak mengetahui bahwa dia habis menangis. Seulas senyum dipaksakannya muncul di muka cermin. Inez harus gembira. Ya, dia tidak boleh membuat Oma sedih. Inez tidak mau lagi memandang bayangannya yang memantul di kaca.

Oh, Tuhan, tabahkan hati anak-Mu ini. Inez sempat berdoa dalam hati sebelum keluar dari kamar, mendapati Oma yang sedang menantikannya. "Wah, cucu Oma cantik sekali! Sirkam mutiara itu serasi menghias rambutmu. Ayo, Inez, kita berangkat sekarang, gereja pasti sudah penuh sesak," Oma menyambut Inez dengan segudang pujian. Matanya gemerlap, memandang cucunya yang tampak begitu cantik dengan gaun Natal yang berwarna putih.

Hati Inez teriris mendengar ucapan Oma. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Sirkam mutiara yang disambarnya sembarangan dari meja toilet di kamarnya itu,'kan hadiah Natal dari Mama tahun lalu? Ah, kenapa Mama dan Papa tidak datang menjemputnya? Kenapa mereka tidak bisa bersama-sama lagi mengikuti misa kudus pada malam Natal ini?

Jangan bodoh, Inez! Bukankah kamu sendiri yang tidak mengharapkan kedatangan mereka? Bukankah kamu lebih merasa damai bersama Oma tercinta? Papa dan Mama sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa dengan isterinya yang baru. Dan, Mama dengan Oom Hang? Sudah sepantasnya kamu menolak kehadiran mereka, Inez!

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Inez. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan sesak dalam rongga dadanya. Dia tidak ingin ikut serta menyanyikan kidung Natal yang dahulu pernah begitu bahagia disenandungkannya. Ya, dahulu, ketika Inez masih bersama dengan Mama dan Papa.

Pikiran Inez terus mengembara, menjelajah pada suatu masa. Ketika itu, keluarganya masih utuh. Alangkah bahagianya. Tetapi kini, ke mana perginya saat-saat indah itu? Mama dan Papa tidak mencintai anaknya, keluh hati Inez kecewa. Seperti robot, dia lalu duduk, berdiri, dan berlutut di sisi Oma yang tampak khidmat mengikuti misa yang sedang berlangsung.

Inez tidak pernah mengerti mengapa  kedua orangtuanya harus berpisah. Mengapa mereka tidak bisa rukun kembali? Dan, waktu berlari begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir setahun Inez tinggal bersama Oma. Keputusan itu memang sudah bulat baginya. Lebih baik Inez tidak memilih. Toh, sama saja. Inez akan mendapatkan orangtua baru.

Ajaib rasanya. Inez tidak pernah tahu darimana Tante Ella dan Oom Hang muncul. Mereka datang begitu saja, mengambil Mama dan Papa dari dirinya. Itu sebabnya Inez selalu menghindari mereka. Dia tidak suka pada Tante Ella, terlebih kepada Oom Hang yang merebut perhatian Mama. Apakah Inez salah jika merasa tidak punya siapa-siapa lagi, selain Oma tercinta?

"Lihat, Inez! Anak perempuan yang berperan sebagai Bunda Maria itu Sisi, bukan? Hebat, dia sangat menjiwai perannya. Yang lain juga ; Edu, Rega...oh, rupanya mereka anak-anak dari Tri Asih," bisikan Oma menyadarkan Inez. Dia segera membelalakkan mata lebar-lebar ketika mendengar nama-nama yang dikenalnya.

Aha, Oma benar! Cerita Natal yang sedang dipentaskan di muka altar itu dimainkan oleh anak-anak Tri Asih. Sisi bermain bagus, padahal kedua bola matanya buta. Begitu pun Edu, Rega, Rio yang melangkah tertatih-tatih dengan tongkat penyangga kaki mereka.

Inez tersenyum haru. Dia teringat ketika kali pertama berkenalan. Anak-anak itu dengan penuh semangat menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya. Dan, Inez merasa bahagia sekali pada pesta ulang tahunnya yang ke 15. Sungguh istimewa hadiah yang diberikan Oma. Dan, Inez teringat kembali pada ucapan Sisi. Anak berusia 8 tahun itu dengan spontan tanpa malu-malu, memuji cake ultah yang dibagikan.

"Mbak senang, ya, punya Oma dan Mama - Papa yang baik hati. Nggak kayak mamanya Sisi yang entah sekarang berada di mana. Eh, Mbak Inez tahu tidak, kalau Sisi suka kangen sama Mama?" celotehnya polos sambil menjilati cokelat yang bertaburan di tangannya. Kelihatan nikmat sekali.

Inez tidak dapat menjawab pertanyaan Sisi sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Diam-diam dia hanya dapat menghapus sudut matanya yang basah. Sisi bilang dia sangat bahagia punya Oma dan orangtua yang baik hati. Ya, Mama dan Papa tidak melupakan ulang tahunnya. Tante Ella dan Oom Hang juga. Mereka penuh perhatian, semua berusaha membahagiakannya. Tetapi, oh, Inez benci!

Lakon Natal yang dimainkan di muka altar itu cerita lama. Kisah kelahiran bayi Yesus di kandang domba, bukti kesetiaan gadis yang bernama Maria... semuanya tidak ada yang berubah. Dan, mata Inez semakin berkaca-kaca ketika pada akhir cerita, Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama. Paduan suara mereka begitu bening. Kidung 'Bahasa Cinta' yang bergema itu menyelusup ke sudut-sudut hati inez.

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
agar kami dekat pada-Mu, ya, Tuhanku ....
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
agar kami dekat pada-Mu....

Tanpa sadar perlahan-lahan Inez ikut bersenandung. Terasa mulai ada kesejukan yang merambati hatinya. Dia menegakkan kepalanya, berdiri di samping Oma dengan dada yang mulai terasa ringan. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, serta rela menderita....

Dan, Inez menerima hosti yang dibagikan pastor dengan kedamaian penuh. Dia mulai dapat merasakan keriangan yang bertebaran di sekelilingnya. Lihat, senyum anak kecil berpita biru itu manis sekali! Tengok senyum cerah kakek tua di seberang sana. Dan, dengarkan gelak tawa gadis-gadis yang sebaya dengan dia. Wah, tidak sepantasnya Inez bersedih di dalam suasana hangat, penuh cinta kasih seperti ini !

"Sisi, sandiwara dan lagu-lagunya bagus sekali!" Inez menyapa anak perempuan itu di depan pintu gereja. Misa baru saja selesai. Salam Natal sedang dibagikan di mana-mana.

"Oh, Mbak Inez! Selamat Natal, ya, Mbak. Selamat Natal Oma," Sisi terlonjak senang mengenali suara Inez dan Oma.

"Selamat Natal, Inez sayang...," ada suara lain menyapa Inez . Inez memutar kepalanya. Papa dan Mama berada di belakangnya, memandang puteri mereka sambil tersenyum.

Selalu ada Tante Ella dan Oom Hang! Inez memaki dirinya sendiri. Dia tidak dapat menghindari ketidaksenangan yang hadir tiba-tiba begitu melihat kedua orang tersebut. Menghalangi getaran kegembiraan yang sekejap dirasakannya begitu dia melihat Papa dan Mama.

"Selamat Natal, Mbak Inez. Senang deh, Edu jadi adiknya Mbak!" 
"Rega dan Sisi juga!" Edu, Rega, dan Sisi tiba-tiba berseru riang. Membuat Inez terpaku di tempatnya. Dia memandang mereka dengan seribu pertanyaan di kepalanya.

"Inez tidak keberatan, bukan? Anggap saja kado Natal dari kami," Mama menatap puterinya dengan lembut.

"Mereka menjadi anak asuh kami," Papa menjelaskan. "Jadi, mereka kini adik-adikmu...." Inez melihat Tante Ella dan Oom Hang mengangguk-anggukkan kepala.

Apakah telinga Inez tidak salah mendengar? Adik-adik asuh? Oh, Tuhan, apakah karunia yang Engkau berikan ini tidak terlalu banyak?

Tidak, Inez. Sepasang orangtua baru juga tidak terlampau banyak untukmu. Tiba-tiba Inez merasa Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaannya selama ini. Dia memalingkan wajah, menengok kepada Bunda Maria yang sedang tersenyum di kapel.

Dahulu, Maria didatangi malaikat dan dititipi pesan untuk melahirkan dan merawat seorang bayi mungil, padahal saat itu dia belum menikah. Tetapi, Maria menerimanya dengan tawakal dan tulus, karena ia demikian percaya kepada-Nya.

Mengapa Inez tidak mencontoh teladan Bunda Maria? Jalan Tuhan banyak macamnya, bukan? Orang-orang dewasa punya permasalahan tersendiri. Mungkin lebih baik Papa bersama Tante Ella. Dan, Mama menerima Oom Hang sebagai pengganti Papa? Daripada hampir setiap malam dahulu mereka selalu bertengkar di rumah?

Inez memandang Mama. Ia tahu, kekerasan hatinya merintangi Mama. Karena dirinya, Mama belum bisa memutuskan untuk menerima Oom Hang.

"Selamat Natal, Mama. Selamat Natal, Papa. Selamat Natal, Mama Ella dan... Papa Hang," salam Natal itu begitu saja meluncur dari bibir Inez. Dan, dia merasa beban di hatinya telah terangkat. Inez tidak peduli tatapan heran dari orang-orang tercinta di hadapannya. Direngkuhnya mereka satu per satu dengan mesra.

Ya, Tuhan, andaikan dia pahami bahasa semua? Agaknya hanya 'bahasa cinta'-lah kunci semua hati. Dam, kidung Natal itu terus bergema ke mana-mana. Menyelusupi hati tua Oma yang diam-diam menghapus bening di matanya dengan perasaan bahagia! (Gadis No.34, 25 Des - 4 Januari 1993).

  

Sabtu, 18 Maret 2017

Romo Ray

(Oleh Effi S Hidayat)

Aku termangu-mangu menyadari detak jantungku yang tiba-tiba menjadi tak beraturan ketika membayangkan sepasang mata Romo Ray yang teduh.


Ada yang berubah pada Titin. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan ... berdandan. Wah, tumben! Padahal Minggu pagi begini dia masih melingkar dengan manis di ranjangnya.

"Mau ke mana sih, Non?" Aku tidak dapat menahan rasa penasaranku. Apalagi melihat dia mengenakan rok panjang berbunga-bunga. Cantik memang, tapi kok, bukan seperti Titin yang kukenal sehari-hari? Ada apa sebenarnya dengan adik bungsuku itu?

"Titin mau ikut ke gereja. Boleh,'kan, Mbak?" sahutnya cepat.


"Nggak salah dengar, nih? Ujianmu sudah lewat,'kan?"

"Ah, Mbak Dea...," dia memukul bahuku, pelan. "Memangnya Titin ke gereja kalau sedang ujian aja?" sungutnya manja. Mulai deh, keluar sifat aslinya.

"Biasanya,'kan begitu...," Aku tertawa melihat wajahnya memerah. Eh, mulai ada jerawat di pipinya ! Dan aku semakin geli memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pagi ini di gereja. Siapa tahu dia ada janji di sana.

"Idih..., Mbak Dea genit!" Warna merah di wajah Titin makin merona ketika hal itu kuutarakan kepadanya. Ya, rasanya aku baru sadar kalau Titin sudah beranjak remaja. Sebentar lagi usianya genap lima belas tahun. Lagi puber-pubernya, tuh.

Tetapi, ternyata tidak ada seorang arjuna pun yang sedang ditunggunya di gereja. Dia tenang-tenang saja duduk di sampingku. Alamak!  Malah aku jadi malu hati sendiri melihat penampilanku yang rada urakan. T.shirt dan jins yang kukenakan benar-benar jatuh nilainya dibandingkan rok berbunga-bunga cerah yang dikenakan Titin.

Hmm, ternyata selera berpakaiannya boleh juga kalau mengingat Titin sehari-harinya lebih suka bergaya tomboy. Ya, seperti aku, kakaknya. Pada dasarnya,'kan kami berdua tidak jauh berbeda. Kecuali pagi ini, tentunya, aku bergumam gemas sendiri melihat dia menjadi begitu anggun bak puteri raja. Bahkan, Titin tampak asyik menyimak khotbah pastor dan berdoa dengan begitu khusyuknya.

Namun setelah misa berakhir, seribu pertanyaan di kepalaku akhirnya terjawab juga. Titin antusias berceloteh tentang pastor muda yang memimpin misa pagi ini. "Mbak Dea..., Mbak Dea tahu siapa nama lengkap pastor itu?" bisiknya di telingaku.

"Lho, Tin, tadi kamu mendengarkan nggak? Sebelum memberikan khotbah,'kan namanya sempat disebutkan?" Dan, aku tidak dapat menahan senyumku melihat gelengan kepalanya. Aduh, Non, jadi ke mana saja pikiranmu tadi? Cuma asyik memandang wajah pastor muda yang ganteng itu, ya?

Aku semakin geli melihat tingkahnya ketika dia bersalaman dengan Romo Ray. Dia tidak berani memandang wajah pastor itu! Padahal sepanjang misa berlangsung tadi, tak sedetik pun pandangan Titin beralih dari altar. Aha!

Sepulang dari gereja aku baru tahu kalau Titin sebenarnya sedang dalam rangka mencari informasi tentang 'pahlawan hati'-nya. "Romo Ray baru seminggu ini mengajar pelajaran agama untuk anak kelas I A. Sayang dia nggak ngajar di kelasnya Titin. Tapi, Titin nggak putus asa. Setiap dia habis mengajar, Titin selalu usahakan untuk ketemu dia."

"Sampai akhirnya Titin baru tahu dari Dini, kalau Romo Ray juga memimpin misa di gereja. Mbak Dea, sih, nggak pernah ngasih tau Titin kalau ada pastor seganteng dia. Aduh..., lihat rahangnya deh, Mbak. Kayaknya dia baru cukuran. segar banget wajahnya!"

Astaga! Soal rahang aja dibahas! Aku terbengong-bengong sendiri mendengarkan hasil pengamatannya. Dan memang semenjak Minggu pagi itu, Titin selalu rajin menemani aku ke gereja. Kalau sekali saja  tidak dilihatnya batang hidung Romo Ray, dia akan merenung-renung sepanjang pagi sampai siang!

Aku tidak tahu berapa lama keadaan itu akan berlangsung. Titin begitu memuja Romo Ray. Dengan fasih dia akan bercerita, kemeja warna apa yang dipakai Romo ketika sedang mengajar agama di sekolah. Atau betapa merdu suaranya ketika memberikan khotbah dan menyanyikan lagu pujian. Uhh, diam-diam aku menguatirkan dia. Seharusnya Titin tidak menjatuhkan cinta pertamanya kepada seorang Romo!

"Tapi, apa salahnya, Mbak Dea? Romo,'kan manusia juga seperti kita? Apa salahnya kalau Titin suka sama dia? Titin,'kan juga nggak tau kalau sebenarnya dia sudah jadi Romo? Mulanya Titin pikir dia mahasiswa Theologi biasa yang mengajar agama. Titin juga baru tahu pagi itu ketika dia benar-benar memimpin misa di gereja. Tadinya malah Titin nggak percaya sama Dini. Titin kira, Dini bohong...," dia langsung nyerocos ketika suatu ketika aku mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Sebagai kakaknya yang berusia 5 tahun lebih tua, aku merasa berkewajiban memberikannya saran. Tetapi terus terang saja, aku jadi terperangah mendengar pengakuan Titin yang panjang lebar. Aku tidak mengira kalau mulanya dia tidak tahu cowok yang ditaksirnya itu seorang Romo. Sampai hari Minggu pagi itu, Titin melihat Ramondus Sidharta di altar gereja, mengenakan jubah pastor dan memberikan khotbah kepada umatnya. Aduh, Non, apa sih, perasaanmu saat itu? 

"Mbak Dea, jatuh cinta itu bukan dosa,'kan, Mbak?" Aku kembali mendengar suara Titin. Kali ini ada isakan dalam nada suaranya. Titin menangis? Tuhan, jatuh cinta memang bukan dosa. Tapi, kalau itu terjadi pada adikku Titin dan Romo Ray yang sampai detik ini tidak tahu jika sedang 'kejatuhan cinta', apa jadinya?

Dengan lembut aku merengkuh bahunya. "Kamu tidak berdosa, Tin. Tapi, kita tidak bisa bersaing dengan Dia yang ada di atas sana, bukan?" Hanya itu yang bisa kuucapkan.

"Titin tahu, Mbak. Titin tahu. Titin tidak akan nekat menjadikan Romo Ray alumnus biara," jawabannya membuat hatiku lega. Kadangkala kupikir Titin jauh lebih dewasa dari usianya. Pada saat-saat sedih seperti ini pun dia masih bisa melucu. Uff. 

Dan hari-hari pun bergulir seperti biasa. Titin tetap rajin mengikuti misa. Untuk hal yang satu ini aku bersyukur, rupanya ada hikmahnya juga dia jatuh cinta pada pastor. Aha. Harus kuakui pula, kalau Titin punya selera bagus. Sebagai seorang cowok, Romo Ray memang menarik. Selain supel (asal tahu saja, Romo Ray sangat beken di antara kaum mudika paroki gereja kami), dia memang punya kharisma tersendiri.

Khotbahnya selalu menarik dan handsome-nya itu, lho...."Tom Cruise aja, sih, lewaaat," komentar Titin suatu kali. Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi itulah gaya khas dara yang sedang dilanda cinta. Ya, dalam hal yang satu ini, aku memang suka 'sok tua'. Kepergian Lukas telah memberikan banyak pelajaran yang tak hanya kudapati dari buku-buku cinta karangan para sastrawan dunia.

Aku juga seumur Titin ketika jatuh cinta pada Lukas. Kelas tiga SMP kami pacaran, namun tiga tahun kemudian kami berpisah. Tuhan telah memanggil Lukas terlebih dahulu. Sampai sekarang, kenangan manis bersama dia, masih kusimpan erat di sudut hatiku yang paling dalam. Aku tidak dapat melupakan Lukas!

                                                                 **
"Terus terang saja, kehidupan seseorang rohaniawan itu tidak mudah. Sungguh merupakan suatu pilihan yang sulit untuk berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Ibu saya sendiri tidak setuju melihat saya menjadi seorang Pastor, tapi bagaimana lagi? Sejak lama saya memimpikan untuk melayani orang lain. Sejak lama saya ingin berbakti kepada-Nya melalui panggilan nurani ini," ungkap Romo Ray.

Titin memang aktif mengajaknya berbincang-bincang, seperti kali ini. Bahkan dia tidak segan-segan menanyakan proses panggilan hati Romo Ray. Aduh, lancang betul ! Padahal, aku sendiri sudah kebat-kebit ketika mendengar pertanyaan tak terduga itu meluncur begitu saja dari mulut Titin.

Aku takut Romo Ray akan tersinggung. Tapi, ternyata tidak. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, dia malah bercerita kepada kami secara terus terang. Ya, saat-saat setelah misa berakhir, Titin selalu ada-ada saja akalnya untuk bertemu dengan Romo Ray. Sampai akhirnya, tentu saja kami jadi dikenal baik olehnya.

"Hai, Titin yang manis, Dea yang baik, apa kabar hari ini?" begitu sapaan khasnya setiapkali kami bertemu. Ya, tak terasa, Natal pun semakin dekat. Dan Titin makin sibuk dengan kegiatannya di gereja. Dia punya banyak aktivitas sekarang. Kelincahannya membuat dia segera dikenal di mana-mana.

"Mbak Dea, hadiah Natal apa, ya, yang paling diinginkan seorang cowok?" suatu hari dia bertanya kepadaku dengan mata berbinar-binar.

"Tergantung siapa cowok itu, Tin. Bagaimana karakternya dan kira-kira apa saja kesukaannya. Hmm, apakah... apakah cowok itu Romo Ray, Tin?" Aku bertanya dengan hati-hati.

"Romo Ray?" Titin terpekik kecil. Wajahnya memerah. "Ya, ya, tentu saja ada kartu Natal khusus buat Romo kita yang baik hati itu. Tapi, tapi... ini bukan untuk Romo Ray, Mbak," bisiknya, malu. Suaranya terdengar agak tersendat.

Jawabannya membuat aku membelalakkan mata. Lalu aku tersenyum melihat tingkahnya yang semakin kemayu. "Nah, ya, siapa lagi pujaan hatimu, Tin? Kok, baru sekarang Mbak Dea dikasih laporan?"

"Ah, Mbak Dea, sebenarnya Titin nggak ada apa-apa kok, sama Dito!" sergahnya cepat.

"Oww, jadi... Dito?"

Dan, aku terbahak melihat Titin menutup wajahnya. Ya, tanpa sadar dia sudah memberitahukan siapa arjuna yang akan diberi hadiah Natal super istimewa itu. Aha, rupanya Dito, anak lelaki tetangga sebelah rumah. Pantas saja, akhir-akhir ini mereka sering ke gereja bersama. Naifnya aku tidak menyadari hal itu. Kupikir Dito dan Titin sedang sama-sama sibuk menyiapkan paket acara Natal yang akan mereka gelar di gereja nanti.

"Apa yang menarik dari Dito, Tin?" Aku tidak tahan untuk tidak menggodanya. Diam-diam aku bersyukur adikku tidak larut dengan perasaan cintanya yang menggebu-gebu kepada Romo Ray.

"Entahlah, Dito sangat berbeda dengan Romo Ray, Mbak Dea. Tapi, dia lucu," sahut Titin sembari menggelar senyumnya yang paling manis.

Lucu? Aku mengernyitkan alis mendengar kriteria baru dari cowok idamannya kali ini. "Lalu,hmm... apakah rahang Dito sebagus rahang milik Romo Ray, Tin?"

"Mbak Dea! Mbak Dea jahaaat!" Titin menggelitiki aku dengan manja. Kami tertaw berbarengan. Dan, aku memeluk Titin dengan hati sangat lega. Aku lega, perasaan cintanya tidak berlarut-larut. Ya, Titin beruntung dapat mengalihkan perasaannya cintanya pada Dito. Anak lelaki itu sangat sopan dan aku yakin kelak dia akan tumbuh menjadi lelaki sejati seperti Romo Ray.

                                                              **

Seperti Romo Ray? Aku terkejut sendiri dengan pemikiranku. Aku berhenti menulis. Dan, lagi-lagi aku terpana melihat coretan-coretan yang bertaburan di catatan kuliahku. Entah berapa banyak sudah initial "RR" yang kutulis di situ!

Kelakuanku tak ubahnya seperti kelakuan Titin. Ah, padahal waktu itu, aku malah tertawa lebar ketika memergoki Titin yang sedang terbengong-bengong sendiri menuliskan nama Romo Ray 'sejuta kali' di buku pe-er matematikanya yang masih kosong melompong belum terisi jawaban.

Aku termangu-mangu menyadari detak jantungku yang tiba-tiba menjadi tak beraturan ketika membayangkan sepasang mata Romo Ray yang teduh. Pancaran matanya begitu hangat. Perasaan ajaib yang pernah kurasakan dahulu bersama Lukas itu datang lagi dengan begitu lembutnya, mengalir perlahan-lahan ke dalam dadaku.

Oh, Tuhan, apa yang telah terjadi pada diriku? Tiba-tiba aku merasakan sudut mataku menjadi basah. Jatuh cinta itu bukan dosa,'kan, Mbak? Titin tidak pernah berniat kok, menjadikan Romo Ray sebagai alumnus biara!  Aku tersenyum di antara isak tangisku, mengingat kata-kata yang pernah diucapkan adikku.

Dengan tak berdaya aku memandang bercak-bercak air yang menetes pada halaman buku harianku. Airmata itu untuk Romo Ray. Ah, perlahan-lahan aku mulai menggoreskan penaku. Tuhan, aku tidak akan pernah bersaing dengan Engkau! Maafkan aku.... Ya, cuma kalimat itu yang mampu aku tuliskan. (Gadis No.33, 17 - 27 Desember 1993).
    

Jumat, 17 Maret 2017

Dari Sebuah Terminal

 (Oleh Effi S Hidayat)

Dari balik jendela bus, saya masih sempat melihat dara berkaus merah menyala berdiri termangu. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Benar saja, seorang lelaki berkumis menghampirinya.


Sudah hampir pukul tujuh, namun matahari di ufuk timur masih sembunyi di peraduannya. Tidak seperti biasanya, desir angin yang menerpa tubuh, Minggu pagi ini terasa dingin. Mungkin karena hujan yang turun deras semalam.

Saya berjalan dengan santai sambil menyembunyikan kedua belah tangan saya di balik saku jaket.Genangan air masih tersisa di sana-sini. Tiba-tiba, eit! Dengan gesit saya menepi, merapat ke sisi jembatan penyeberangan yang sedang saya daki, menghindari percikan air yang melompat dari ujung sepatu kets Nike milik seorang cowok yang sedang berjalan tergesa.

Cowok berkacamata bulat dengan t.shirt biru dan jins belel itu mengepit map kulit yang berwarna cokelat, berisi buku-buku tebal. Mungkin dia salah satu dari mahasiswa Trisakti, tebak saya dalam hati. Rajin sekali ida, hari Minggu masih pergi ke kampus. Pasti ada kegiatan tambahan. Saya menahan senyum melihat rambutnya yang disisir a la Mafiaso. Licin berkilat. Hmm, lalat-lalat tentu tergelincir di atasnya.

Secara spontan saya menengok ke belakang, istana mahasiswa-mahasiswa berkantong tebal itu tampak adem-ayem. Pos jaga yang terletak di samping kiri pintu gerbang kelihatan senyap. Baru satu-dua mobil yang parkir di halaman. Kegiatan hanya terlihat di depan gerbang kampus.

Ada penjual kupat tahu. Ada gerobak dorong penjual ketoprak. Dan, penjual majalah yang biasa mangkal di trotoar di depan kampus sedang sibuk menggelar dagangannya. Aneka ragam surat kabar dan majalah bersampul seronok saling berlomba menggaet minat para pejalan kaki di trotoar, termasuk cowok berkacamata bulat itu.

Saya melihat ia menyambar sebuah majalah dan membayarnya, sebelum akhirnya melangkahkan kaki, memasuki kampus. Ternyata dugaan saya benar, ia seorang mahasiswa Trisakti. Saya mengalihkan pandangan, lurus ke depan. Terminal bus Grogol sudah mulai ramai seperti biasanya. Dari atas jembatan penyeberangan, saya mendapati pemandangan strategis.

Armada metromini berwarna oranye sudah ngetem di ujung kanan terdepan arena terminal, tepatnya dekat dua buah boks telepon umum yang satu-nya sudah terisi. Seorang dara berkaos merah menyala tampak asyik menelepon, sementara boks telepon lainnya masih kosong melompong. Pintunya tampak terbuka, menantikan seseorang menyuapkan sarapan paginya, koin logam lima puluh rupiah.

Jembatan kecil yang berada di belakang boks telepon umum, di mana biasanya abang tukang becak berkumpul, tampak lengang. Kendaraan roda tiga itu benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Pangkalan becak di ujung kanan terminal Grogol itu kini ditempati oleh mikrolet-mikrolet berwarna biru muda, jurusan Grogol-Benhil-Sudirman.

Sementara itu bus-bus lain mulai berdatangan. Bus Patas, bus tingkat, kopaja, saling berlomba merebut penumpang yang mulai menyemut di terminal. Saya mempercepat langkah, menuruni anak tangga, memasuki terminal. Dan, segera memburu bus tingkat 204 jurusan Kalideras-Grogol-Kota. Pagi ini, saya berniat mengikuti misa di gereja Bunda Hati Kudus di Jl. Hasyim Ashari.

Lebih baik aku
mati di tanganmu
daripada aku mati bunuh diri
-----------------------------
Bunuhlah aku
dengan cintamu....

Di dekat penjual tahu goreng, dua orang anak berpakaian kumal, tanpa alas kaki, menyanyi diiringi musik krecekan terbuat dari kaleng bekas yang dihiasi tutup botol di sekelilingnya. Menimbulkan suara gemerincing yang nyaring, terasa membelah suasana pagi.

Kedua anak itu bersemangat sekali menggoyangkan tubuh mereka yang kurus kerempeng. Cu-ru-cu-cuap-curucucuap....suara mereka masih jelas terdengar sebelum keduanya meloncat masuk ke dalam bus Patas 6 jurusan Cililitan yang siap melesat meninggalkan terminal.

Saya melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiri saya. Sudah pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Jumlah penumpang yang ada baru belasan orang. Pantas saja jika sopir bus yang saya tumpangi kembali membanting setirnya mengitari arena terminal.

"Uh... belum berangkat-berangkat juga,"saya dengar ibu berkerudung yang duduk di samping saya mengeluh sambil menguap panjang. Dari balik jendela bus, saya masih sempat melihat dara berkaos merah menyala yang tadi menelepon sedang berdiri termangu di dekat boks telepon umum.

Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, seperti mencari seseorang. Benar saja, seorang cowok berkumis tampak menghampiri. Tak lama kemudian kedua sejoli itu sudah bergandengan tangan, naik ke sebuah metromini jurusan Tanah Abang.

Saya tersenyum. Wah, rupanya terminal merupakan tempat memadu janji yang asyik juga! Di dekat pagar terminal nongkrong para pemuda bertampang sangar. Tiba-tiba seorang dari mereka yang berjambang lebat berlari ke tengah-tengah terminal.

Saya sudah akan menutup wajah saya, ngeri melihat baku hantam yang akan terjadi. Eh, namun rupanya saya salah sangka! Pemuda itu menolong seorang nenek tua yang sedang menyeberang ke tengah terminal dengan susah payah.

Pakaian lusuh dan wajah sangar pemuda berjambang lebat itu sungguh kontras dengan perbuatannya, bisik saya terharu dalam hati. Bergegas ia menyeberangi terminal sambil menggandeng Si nenek tua, dan membantunya naik ke atas kopaja 94.

Saya tersentak. Bus yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Uff... saya mengurut dada perlahan. Sopir bus seringkali seenaknya saja menyetir mobilnya. Menyelip sana-sini, mengangkut dan menurunkan penumpang tanpa peduli jantung penumpangnya yang mpot-mpotan serasa copot.Yang penting, setoran harus terpenuhi.

Pukul dua belas siang tengah hari, saya sudah berada di terminal Grogol lagi.Hhhh. Saya memalingkan wajah, risih melihat seorang sopir bus yang seenaknya buang air kecil di dekat dinding pojokan pom bensin. Padahal, WC umum hanya berjarak lima langkah dari tempatnya berada.

Kali ini saya berdiri dekat penjaja bermacam penganan kecil. Eh, bukankah itu mahasiswa Trisakti yang saya lihat pagi tadi? Ia sedang berjalan keluar dari terminal. Seorang cewek berambut cepak menjejeri langkahnya. Mereka berdua tampak tertawa riang.

Ah, rasanya menyenangkan  sekali. Tugas mahasiswa hanyalah belajar dan 'jalan-jalan'. Menjadi mahasiswa paling-paling dipusingkan urusan ujian dan, ehm, pacaran. Oww, dua tahun lagi saya harus seperti mereka, tekad saya dalam hati. Tetapi, tentu beaya masuk ke perguruan tinggi akan semakin mahal. Mampu tidak, ya, Bapak membiayai saya? Sebentar lagi,'kan bapak saya yang bekerja sebagai staf peneliti akan pensiun dari tugasnya?

Seorang dara berbaju merah melintas di depan saya, dara yang nge-date di terminal! Si cowok berkumis masih setia menjejeri langkahnya. Tetapi, kali ini sepertinya Si dara sedang merajuk. Amboi, lihat dia menepiskan rangkulan cowoknya. Hidup masa pacaran! Saya bersorak dalam hati. Coba kalau dia sudah menikah nanti, apa Si cowok masih sesabar itu membujuknya setengah mati?

Hup! Buru-buru saya melompat naik ke atas bus 70. Siang ini, saya berencana 'cuci mata', ah, ke Blok M. Di dalam bus, saya terperangah. Kencrang-kencring dua orang bocah penngamen menyambut saya. Lagunya masih saja sama, "Bunuhlah aku dengan cintamuuuu...." Suara bocah gundul yang lengannya penuh bekas koreng itu fals. 

Saya tersenyum sambil mencemplungkan sebuah logam ratusan ke dalam kertas wadah permen 'Vicks' yang disodorkan teman Si gundul. Anak sekecil ini sudah harus mencari nafkah, getun saya dalam hati sembari melirik anak yang srat-srut menarik dan mengulur 'angka sebelas' yang naik turun di bawah hidungnya yang sebulat jambu mete. Sementara bus 70 masih terus melaju....

Wah, capek juga! Saya menjinjing tas plastik belanjaan saya masuk ke terminal. Sudah hampir pukul enam sore. Hasil buruan saya hari ini lumayan juga. Barang keperluan sehari-hari pesanan ibu saya untuk sebulan penuh sudah lengkap terbeli. Minyak goreng, sabun colek, sabun mandi, odol, shampoo, termasuk komik bergambar Asterix -- pesanan khusus keponakan saya.

Uff, saya hampir bertabrakan dengan seorang pemuda. "Maaf, saya tidak sengaja," kata pemuda itu dengan sopan. Saya memandangnya. Ah, Si jambang lebat yang baik hati! Saya tersenyum. "Tidak apa-apa. Saya yang terburu-buru," saya menjawab dengan manis. Kali ini saya melihat seorang ibu yang kerepotan menggendong anak sedang dituntunnya untuk naik ke kopaja 94.

Kok, selalu kendaraan yang sama? Saya terbahak ketika melihat sang pemuda menerima lembaran ratusan dari kenek kopaja. Oh, rupanya dia sedang 'bertugas'? Jadi, ke mana perginya sang pemuda berhati emas dalam bayangan saya?

Mendung menggantung di langit Jakarta. Suasana di terminal Grogol mulai temaram, tetapi kesibukan belum juga berhenti. Malah tampaknya semakin seru. Teriakan, bentakan, dan umpatan mampir di telinga saya. Mendadak kuping saya merah mendengar lontaran kasar yang sempat lewat.

Seorang bapak berkopiah hitam dengan bawaannya yang 'segudang' tampak marah. Tangannya ditarik-tarik oleh calo bus. Dua orang dara manis juga mengalami kerepotan yang sama. Bahkan, aduh, kurang ajar sekali! Seorang pemuda berambut kribo, entah darimana datangnya tiba-tiba mencolek bokong Si gadis!

Bus yang saya tunggu belum datang juga. Saya beringsut ke sisi gerobak penjual teh botol. Ada seorang pria dan seorang wanita yang sedang melepaskan dahaga. Mungkin sepasang suami isteri, tebak saya ketika melihat perut sang wanita yang membuncit besar.

Lebih aman berdiri di dekat mereka, kata hati saya merasa mendapatkan teman. Hingar bingar suasana di terminal dan tangan saya yang mulai pegal karena jinjingan tas plastik belanjaan, membuat saya gelisah. Dan, saya tak mau menunggu lebih lama lagi, ketika melihat bus yang saya tunggu datang, saya segera melompat naik dengan gesitnya.

Ya, hidup di kota sebesar Jakarta memang harus gesit. Senin pagi ini, saya sudah harus 'main sikut-sikutan' lagi untuk naik ke dalam bus, menuju ke sekolah. Boks telepon umum tentu sudah kenyang mengunyah sarapannya. Banyak orang yang gemar menelepon pagi-pagi, termasuk saya. Mumpung yang ditelepon belum pergi ke mana-mana, itu alasan saya kalau menelepon di pagi hari.

Di jembatan penyeberangan, saya bertemu lagi dengan Si mahasiswa. Kali ini gaya rambutnya berbeda. Ah, dasar anak muda zaman sekarang keranjingan mode.Saya tak dapat mengusir rasa geli di hati melihat jambulnya yang unik.

Bak-bik-buk baku hantam yang terjadi tiba-tiba merusak keindahan pagi. Si kribo kurang ajar yang saya lihat kemarin sore sedang digebuki orang. Tak lama, seorang polisi sudah menggiringnya masuk ke pos polisi yang letaknya berseberangan dengan pom bensin dan terminal.

"Rasain! Pagi-pagi sudah mencopet, sih!" gerutu bapak yang duduk di samping saya. Masih belum puas, Si bapak lalu menceritakan keganasan penodong-penodong yang biasa beraksi dekat terminal. "Saya pernah melihat seorang mahasiswa 'dicelurit' di dalam bajaj! Waktu lampu merah berhenti, mereka bebas beroperasi sekali pun tepat di seberangnya terdapat pos polisi," katanya bersemangat.

Saya menoleh ke luar jendela. Patas 6 yang saya tumpangi berjalan perlahan-lahan laksana keong. Ini 'penyakit menahun' bus kota yang kekurangan penumpang. Saya merapatkan wajah lebih dekat lagi ke kaca jendela. Tiba-tiba saja saya ingin mendengar lagu dangdut yang dikumandangkan kedua orang bocah pengamen itu lagi.

Ah, ke mana mereka pagi ini? Tak terdengar musik krecekan mereka yang mulai akrab di telinga saya. Tak sadar saya bersenandung," Lebih baik aku mati di tanganmu, daripada aku mati bunuh diri... Bunuhlah aku dengan cintamuuu...."   

Saya tak peduli dengan senyum yang menyembul di bibir bapak tua di sisi saya. Saya tak peduli lagu dangdut yang saya dendangkan di-cap 'kampungan'. Tiba-tiba saja saya kangen kepada dua bocah pengamen itu. Mereka sudah mengajarkan kepada saya lagu dangdut, yang sebelumnya tak pernah saya pedulikan. Rupanya, keakraban itu bisa terjalin kapan saja dan di mana saja, ya?

Tiba-tiba saja, sungguh, saya ingin sekali menulis cerpen tentang denyut nadi kehidupan dari sebuah terminal. Ada tersimpan sejuta kisah di dalamnya. Cinta, kekerasan, perjuangan hidup. Ya, bukankah hidup manusia itu sendiri bagaikan sebuah terminal, sekadar persinggahan manusia-manusia yang datang dan pergi. Datang dan pergi? (Gadis No.7, 9-18 Maret 1993).