(Oleh Effi S Hidayat)
Aku termangu-mangu menyadari detak jantungku yang tiba-tiba menjadi tak beraturan ketika membayangkan sepasang mata Romo Ray yang teduh.
Ada yang berubah pada Titin. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan ... berdandan. Wah, tumben! Padahal Minggu pagi begini dia masih melingkar dengan manis di ranjangnya.
"Mau ke mana sih, Non?" Aku tidak dapat menahan rasa penasaranku. Apalagi melihat dia mengenakan rok panjang berbunga-bunga. Cantik memang, tapi kok, bukan seperti Titin yang kukenal sehari-hari? Ada apa sebenarnya dengan adik bungsuku itu?
"Titin mau ikut ke gereja. Boleh,'kan, Mbak?" sahutnya cepat.
"Nggak salah dengar, nih? Ujianmu sudah lewat,'kan?"
"Ah, Mbak Dea...," dia memukul bahuku, pelan. "Memangnya Titin ke gereja kalau sedang ujian aja?" sungutnya manja. Mulai deh, keluar sifat aslinya.
"Biasanya,'kan begitu...," Aku tertawa melihat wajahnya memerah. Eh, mulai ada jerawat di pipinya ! Dan aku semakin geli memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi pagi ini di gereja. Siapa tahu dia ada janji di sana.
"Idih..., Mbak Dea genit!" Warna merah di wajah Titin makin merona ketika hal itu kuutarakan kepadanya. Ya, rasanya aku baru sadar kalau Titin sudah beranjak remaja. Sebentar lagi usianya genap lima belas tahun. Lagi puber-pubernya, tuh.
Tetapi, ternyata tidak ada seorang arjuna pun yang sedang ditunggunya di gereja. Dia tenang-tenang saja duduk di sampingku. Alamak! Malah aku jadi malu hati sendiri melihat penampilanku yang rada urakan. T.shirt dan jins yang kukenakan benar-benar jatuh nilainya dibandingkan rok berbunga-bunga cerah yang dikenakan Titin.
Hmm, ternyata selera berpakaiannya boleh juga kalau mengingat Titin sehari-harinya lebih suka bergaya tomboy. Ya, seperti aku, kakaknya. Pada dasarnya,'kan kami berdua tidak jauh berbeda. Kecuali pagi ini, tentunya, aku bergumam gemas sendiri melihat dia menjadi begitu anggun bak puteri raja. Bahkan, Titin tampak asyik menyimak khotbah pastor dan berdoa dengan begitu khusyuknya.
Namun setelah misa berakhir, seribu pertanyaan di kepalaku akhirnya terjawab juga. Titin antusias berceloteh tentang pastor muda yang memimpin misa pagi ini. "Mbak Dea..., Mbak Dea tahu siapa nama lengkap pastor itu?" bisiknya di telingaku.
"Lho, Tin, tadi kamu mendengarkan nggak? Sebelum memberikan khotbah,'kan namanya sempat disebutkan?" Dan, aku tidak dapat menahan senyumku melihat gelengan kepalanya. Aduh, Non, jadi ke mana saja pikiranmu tadi? Cuma asyik memandang wajah pastor muda yang ganteng itu, ya?
Aku semakin geli melihat tingkahnya ketika dia bersalaman dengan Romo Ray. Dia tidak berani memandang wajah pastor itu! Padahal sepanjang misa berlangsung tadi, tak sedetik pun pandangan Titin beralih dari altar. Aha!
Sepulang dari gereja aku baru tahu kalau Titin sebenarnya sedang dalam rangka mencari informasi tentang 'pahlawan hati'-nya. "Romo Ray baru seminggu ini mengajar pelajaran agama untuk anak kelas I A. Sayang dia nggak ngajar di kelasnya Titin. Tapi, Titin nggak putus asa. Setiap dia habis mengajar, Titin selalu usahakan untuk ketemu dia."
"Sampai akhirnya Titin baru tahu dari Dini, kalau Romo Ray juga memimpin misa di gereja. Mbak Dea, sih, nggak pernah ngasih tau Titin kalau ada pastor seganteng dia. Aduh..., lihat rahangnya deh, Mbak. Kayaknya dia baru cukuran. segar banget wajahnya!"
Astaga! Soal rahang aja dibahas! Aku terbengong-bengong sendiri mendengarkan hasil pengamatannya. Dan memang semenjak Minggu pagi itu, Titin selalu rajin menemani aku ke gereja. Kalau sekali saja tidak dilihatnya batang hidung Romo Ray, dia akan merenung-renung sepanjang pagi sampai siang!
Aku tidak tahu berapa lama keadaan itu akan berlangsung. Titin begitu memuja Romo Ray. Dengan fasih dia akan bercerita, kemeja warna apa yang dipakai Romo ketika sedang mengajar agama di sekolah. Atau betapa merdu suaranya ketika memberikan khotbah dan menyanyikan lagu pujian. Uhh, diam-diam aku menguatirkan dia. Seharusnya Titin tidak menjatuhkan cinta pertamanya kepada seorang Romo!
"Tapi, apa salahnya, Mbak Dea? Romo,'kan manusia juga seperti kita? Apa salahnya kalau Titin suka sama dia? Titin,'kan juga nggak tau kalau sebenarnya dia sudah jadi Romo? Mulanya Titin pikir dia mahasiswa Theologi biasa yang mengajar agama. Titin juga baru tahu pagi itu ketika dia benar-benar memimpin misa di gereja. Tadinya malah Titin nggak percaya sama Dini. Titin kira, Dini bohong...," dia langsung nyerocos ketika suatu ketika aku mengajaknya bicara dari hati ke hati.
Sebagai kakaknya yang berusia 5 tahun lebih tua, aku merasa berkewajiban memberikannya saran. Tetapi terus terang saja, aku jadi terperangah mendengar pengakuan Titin yang panjang lebar. Aku tidak mengira kalau mulanya dia tidak tahu cowok yang ditaksirnya itu seorang Romo. Sampai hari Minggu pagi itu, Titin melihat Ramondus Sidharta di altar gereja, mengenakan jubah pastor dan memberikan khotbah kepada umatnya. Aduh, Non, apa sih, perasaanmu saat itu?
"Mbak Dea, jatuh cinta itu bukan dosa,'kan, Mbak?" Aku kembali mendengar suara Titin. Kali ini ada isakan dalam nada suaranya. Titin menangis? Tuhan, jatuh cinta memang bukan dosa. Tapi, kalau itu terjadi pada adikku Titin dan Romo Ray yang sampai detik ini tidak tahu jika sedang 'kejatuhan cinta', apa jadinya?
Dengan lembut aku merengkuh bahunya. "Kamu tidak berdosa, Tin. Tapi, kita tidak bisa bersaing dengan Dia yang ada di atas sana, bukan?" Hanya itu yang bisa kuucapkan.
"Titin tahu, Mbak. Titin tahu. Titin tidak akan nekat menjadikan Romo Ray alumnus biara," jawabannya membuat hatiku lega. Kadangkala kupikir Titin jauh lebih dewasa dari usianya. Pada saat-saat sedih seperti ini pun dia masih bisa melucu. Uff.
Dan hari-hari pun bergulir seperti biasa. Titin tetap rajin mengikuti misa. Untuk hal yang satu ini aku bersyukur, rupanya ada hikmahnya juga dia jatuh cinta pada pastor. Aha. Harus kuakui pula, kalau Titin punya selera bagus. Sebagai seorang cowok, Romo Ray memang menarik. Selain supel (asal tahu saja, Romo Ray sangat beken di antara kaum mudika paroki gereja kami), dia memang punya kharisma tersendiri.
Khotbahnya selalu menarik dan handsome-nya itu, lho...."Tom Cruise aja, sih, lewaaat," komentar Titin suatu kali. Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi itulah gaya khas dara yang sedang dilanda cinta. Ya, dalam hal yang satu ini, aku memang suka 'sok tua'. Kepergian Lukas telah memberikan banyak pelajaran yang tak hanya kudapati dari buku-buku cinta karangan para sastrawan dunia.
Aku juga seumur Titin ketika jatuh cinta pada Lukas. Kelas tiga SMP kami pacaran, namun tiga tahun kemudian kami berpisah. Tuhan telah memanggil Lukas terlebih dahulu. Sampai sekarang, kenangan manis bersama dia, masih kusimpan erat di sudut hatiku yang paling dalam. Aku tidak dapat melupakan Lukas!
**
"Terus terang saja, kehidupan seseorang rohaniawan itu tidak mudah. Sungguh merupakan suatu pilihan yang sulit untuk berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Ibu saya sendiri tidak setuju melihat saya menjadi seorang Pastor, tapi bagaimana lagi? Sejak lama saya memimpikan untuk melayani orang lain. Sejak lama saya ingin berbakti kepada-Nya melalui panggilan nurani ini," ungkap Romo Ray.
Titin memang aktif mengajaknya berbincang-bincang, seperti kali ini. Bahkan dia tidak segan-segan menanyakan proses panggilan hati Romo Ray. Aduh, lancang betul ! Padahal, aku sendiri sudah kebat-kebit ketika mendengar pertanyaan tak terduga itu meluncur begitu saja dari mulut Titin.
Aku takut Romo Ray akan tersinggung. Tapi, ternyata tidak. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, dia malah bercerita kepada kami secara terus terang. Ya, saat-saat setelah misa berakhir, Titin selalu ada-ada saja akalnya untuk bertemu dengan Romo Ray. Sampai akhirnya, tentu saja kami jadi dikenal baik olehnya.
"Hai, Titin yang manis, Dea yang baik, apa kabar hari ini?" begitu sapaan khasnya setiapkali kami bertemu. Ya, tak terasa, Natal pun semakin dekat. Dan Titin makin sibuk dengan kegiatannya di gereja. Dia punya banyak aktivitas sekarang. Kelincahannya membuat dia segera dikenal di mana-mana.
"Mbak Dea, hadiah Natal apa, ya, yang paling diinginkan seorang cowok?" suatu hari dia bertanya kepadaku dengan mata berbinar-binar.
"Tergantung siapa cowok itu, Tin. Bagaimana karakternya dan kira-kira apa saja kesukaannya. Hmm, apakah... apakah cowok itu Romo Ray, Tin?" Aku bertanya dengan hati-hati.
"Romo Ray?" Titin terpekik kecil. Wajahnya memerah. "Ya, ya, tentu saja ada kartu Natal khusus buat Romo kita yang baik hati itu. Tapi, tapi... ini bukan untuk Romo Ray, Mbak," bisiknya, malu. Suaranya terdengar agak tersendat.
Jawabannya membuat aku membelalakkan mata. Lalu aku tersenyum melihat tingkahnya yang semakin kemayu. "Nah, ya, siapa lagi pujaan hatimu, Tin? Kok, baru sekarang Mbak Dea dikasih laporan?"
"Ah, Mbak Dea, sebenarnya Titin nggak ada apa-apa kok, sama Dito!" sergahnya cepat.
"Oww, jadi... Dito?"
Dan, aku terbahak melihat Titin menutup wajahnya. Ya, tanpa sadar dia sudah memberitahukan siapa arjuna yang akan diberi hadiah Natal super istimewa itu. Aha, rupanya Dito, anak lelaki tetangga sebelah rumah. Pantas saja, akhir-akhir ini mereka sering ke gereja bersama. Naifnya aku tidak menyadari hal itu. Kupikir Dito dan Titin sedang sama-sama sibuk menyiapkan paket acara Natal yang akan mereka gelar di gereja nanti.
"Apa yang menarik dari Dito, Tin?" Aku tidak tahan untuk tidak menggodanya. Diam-diam aku bersyukur adikku tidak larut dengan perasaan cintanya yang menggebu-gebu kepada Romo Ray.
"Entahlah, Dito sangat berbeda dengan Romo Ray, Mbak Dea. Tapi, dia lucu," sahut Titin sembari menggelar senyumnya yang paling manis.
Lucu? Aku mengernyitkan alis mendengar kriteria baru dari cowok idamannya kali ini. "Lalu,hmm... apakah rahang Dito sebagus rahang milik Romo Ray, Tin?"
"Mbak Dea! Mbak Dea jahaaat!" Titin menggelitiki aku dengan manja. Kami tertaw berbarengan. Dan, aku memeluk Titin dengan hati sangat lega. Aku lega, perasaan cintanya tidak berlarut-larut. Ya, Titin beruntung dapat mengalihkan perasaannya cintanya pada Dito. Anak lelaki itu sangat sopan dan aku yakin kelak dia akan tumbuh menjadi lelaki sejati seperti Romo Ray.
**
Seperti Romo Ray? Aku terkejut sendiri dengan pemikiranku. Aku berhenti menulis. Dan, lagi-lagi aku terpana melihat coretan-coretan yang bertaburan di catatan kuliahku. Entah berapa banyak sudah initial "RR" yang kutulis di situ!
Kelakuanku tak ubahnya seperti kelakuan Titin. Ah, padahal waktu itu, aku malah tertawa lebar ketika memergoki Titin yang sedang terbengong-bengong sendiri menuliskan nama Romo Ray 'sejuta kali' di buku pe-er matematikanya yang masih kosong melompong belum terisi jawaban.
Aku termangu-mangu menyadari detak jantungku yang tiba-tiba menjadi tak beraturan ketika membayangkan sepasang mata Romo Ray yang teduh. Pancaran matanya begitu hangat. Perasaan ajaib yang pernah kurasakan dahulu bersama Lukas itu datang lagi dengan begitu lembutnya, mengalir perlahan-lahan ke dalam dadaku.
Oh, Tuhan, apa yang telah terjadi pada diriku? Tiba-tiba aku merasakan sudut mataku menjadi basah. Jatuh cinta itu bukan dosa,'kan, Mbak? Titin tidak pernah berniat kok, menjadikan Romo Ray sebagai alumnus biara! Aku tersenyum di antara isak tangisku, mengingat kata-kata yang pernah diucapkan adikku.
Dengan tak berdaya aku memandang bercak-bercak air yang menetes pada halaman buku harianku. Airmata itu untuk Romo Ray. Ah, perlahan-lahan aku mulai menggoreskan penaku. Tuhan, aku tidak akan pernah bersaing dengan Engkau! Maafkan aku.... Ya, cuma kalimat itu yang mampu aku tuliskan. (Gadis No.33, 17 - 27 Desember 1993).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar