Rabu, 22 Maret 2017

Inung

(Oleh Effi S Hidayat)

Aku bergidik mendengar cerita Inung. Temannya, Eko, mencoba bunuh diri karena malu tidak bisa membayar tunggakan uang sekolahnya!

Aku bertemu dengan Inung di depan pintu gerbang sekolahku. Dia sedang tercenung dengan mata menerawang, menatapi anak-anak berseragam sekolah yang sedang lalu lalang di halaman. Kulitnya yang cokelat tampak basah berkeringat, menjunjung baskom berisi makanan.

"Jualan apa?" Aku mendekat, bertanya ingin tahu. Pagi ini kebetulan aku tidak sempat sarapan. Dan, kelihatannya makanan yang dijajakannya boleh juga untuk mengganjal perutku sampai siang nanti.

"Oh, ini, Mbak . Ada nasi uduk, nasi ulam, bihun goreng. Semuanya enak-enak lho, murah lagi!" senyumnya mengembang dan aku melihat sepasang matanya yang dinaungi bulu mata lentik itu bersinar penuh harap.

Aku tersenyum. Anak perempuan ini pintar juga merayu orang. "Hmm, kamu berbakat jualan, ya? Sudah lama menjajakan penganan seperti ini?" kataku sembari mencomot sebuah pisang goreng. Rasanya manis, enak! Aku mencomot sebuah lagi, sembari menunjuk sebungkus nasi uduk dan mie goreng untuk bekal.

Sejak hari itu aku berkenalan dengan Inung. Ya, namanya memang Inung. Usianya dua belas tahun. Katanya, dia sebentar lagi mau ujian SD. "Tapi, Emak saya ndak punya biaya untuk bayar uang ujian, Mbak. Sudah tiga hari ini saya nggak masuk sekolah, bantuin Emak jualan. Emak lagi sakit di rumah!" ceritanya memelas.

Setiap malam, Inung harus membuat penganan yang dijualnya esok hari. Sedikit-sedikit, katanya, ia sudah pintar bikin kue seperti emaknya. "Kalau sudah besar nanti, saya mau punya toko kue yang besarrr... , Mbak. Supaya Emak dan saya nggak perlu keliling lagi di jalan!"

Aku terharu mendengar ceritanya. Apa yang bisa kulakukan untuk membantu Inung? Teman-temanku di sekolah malah mengejek ketika tahu aku membeli makanan yang dijual Inung. Dhea bilang, penganan itu kotor, jorok. "Mau-maunya sih, kamu beli makanan murahan begitu?"

"Iya, Si Nadin ini bagaimana, sih. Jajan dan ngobrol sama anak dekil kayak gitu. Ihh, nggak level!" Tia balas mengejek.

Kata-kata mereka membuatku menghela napas. Bagaimana mungkin aku membantu Inung? Membujuk teman-teman untuk ikut melariskan dagangan Inung saja, aku tidak mampu. Entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa aku betah ngobrol bersama Inung. Cerita-ceritanya yang polos, keinginannya yang besar untuk ikut ujian, dan mimpinya untuk punya toko kue sendiri, membuatku semakin ingin berteman dengannya.

"Inung mau jadi adiknya Mbak?" kataku suatu  pagi, sembari memesan dua bungkus nasi ulam dan seperti biasa mencomot pisang goreng. Seperti yang dipromosikan Inung, jajanan yang dijualnya memang enak dan murah meriah.

Bayangkan, untuk sebungkus nasi uduk, nasi ulam, atau bihun dan mie goreng, aku cukup mengeluarkan uang sekian ribu rupiah saja. Sedangkan harga sebuah pisang goreng, combro, atau kue apem, hanya...lima ratus rupiah saja.

Ketika aku menyarankan kepadanya untuk menaikkan harga dagangannya, Inung malah tertawa. "Kalau yang beli semua seperti Mbak Nadin sih, harga segitu emang nggak ada artinya, Mbak. Tapi, pelanggan Inung,'kan kebanyakan anak-anak kampung. Uang jajan mereka nggak sebanyak punya Mbak Nadin!"

Aku jadi malu mendengarnya. Aku memang tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang dijalani Inung bersama ibunya. Katanya, untuk menghemat, mereka hanya makan kenyang sehari satu kali saja. "Tidak perlu sarapan dan makan siang, Mbak. Paling-paling kami makan jualan yang bersisa, itu sudah cukup."

Inung tidak pernah main ke mal, seperti aku dan teman-teman lainnya. "Boro-boro main, Mbak Nadin. Inung harus bantuin Emak dan belajar. Bikin pe-er saja sampai ngantuk-ngantuk," ceritanya tertawa. Satu yang kusukai dari Inung, sesusah apa pun dia, Inung masih bisa tertawa ceria.

Tidak seperti Lila, adikku. Usianya sih, sepantaran dengan Inung , tapi manjanya minta ampun. Penyakitnya sering ngambek. Dibandingkan Inung yang rajin membantu ibunya dan giat belajar, kayaknya sih, Inung itu jauh lebih dewasa.

Malah kadang-kadang saja, aku sering mengelus dada sendiri. Kehidupanku jauh lebih mapan dari Inung, tapi soal kesabaran dan kesadaran belajar, rasanya aku juga kalah jauh dari Inung. Padahal, usiaku empat belas tahun, dan sudah duduk di kelas dua SMP.

                                                            **

Aku menarik laci meja belajarku. Di antara amplop surat dan buku harianku, terselip buku tabunganku. Isinya sudah lumayan, rasanya kalau kuambil beberapa ratus ribu saja, nilai nominal yang tercantum di dalamnya tidak berkurang banyak. Hanya saja, bagaimana pertanggungjawabanku dengan Mama?

Aku jadi ragu-ragu. Namun dorongan hatiku untuk membantu Inung membayar tunggakan uang sekolahnya agar ia bisa ikut ujian semakin besar. Aku kasihan sekali melihat wajah Inung semakin keruh saja akhir-akhir ini. Matanya yang bening semakin kulihat menerawang memandangi teman-temanku yang ramai bercanda di halaman sekolah.

Menunggui dagangannya dengan sabar, menanti pembeli yang datang, adalah pekerjaan Inung sehari-hari. Aku adalah pelanggan tetapnya, selain Rida dan Meta. Ya, bisa dihitung dengan jari anak yang mau membeli dagangannya. Aku menghela napas panjang. Cerita Inung tentang temannya, Eko, membuatku bergidik. Katanya, Eko, mencoba bunuh diri karena malu tidak bisa melunasi uang sekolahnya. Sekarang Eko sedang terbaring koma di ranjang rumah sakit !

"Tapi, Inung tidak mau seperti Eko, Mbak. Inung ingin sekolah terus supaya pintar dan jadi pengusaha kue yang sukses. Cuma... ya, Inung bingung juga, kalau sudah waktunya tiba, apa uang yang Inung kumpulkan bisa mencukupi?"

Kemarin sore, aku ngotot ikut Inung ke rumahnya. Aku diperkenalkan Inung kepada ibunya. Perempuan itu secantik Inung, hanya tubuhnya tidak sesintal mamaku. Tentu saja, tubuh ibunya Inung kurus sekali. Kata Inung, ibunya menderita TBC. Aduh, lengkap sudah penderitaan Inung!

Aku terpana melihat 'rumah' yang ditempati Inung dan ibunya. Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan tinggal hanya dalam ruangan berukuran 3 x 4 meter? Dinding yang hanya terbuat dari papan seadanya, dan genting yang sudah bocor di sana-sini, ditambah lagi perabotan rumah a la kadarnya. Jelas, Inung dan ibunya tidur sekaligus memasak di tempat yang sama.

"Tapi, Inung menjaga kebersihan makanan yang dijual, Mbak ," Inung seolah mengerti apa yang kupikirkan. Ia lalu menunjukkan peralatan dapurnya yang memang bersih-bersih, walaupun kondisi tempat tinggal mereka memprihatinkan.

Aku tidak pernah membayangkan rumah Inung seperti ini. Mereka tidak punya radio, televisi, dan... aduh, mana berani aku membandingkannya dengan perlengkapan yang ada di rumahku? Sore itu aku menemani Inung membuat kue dan belajar. Aku senang, ternyata Inung anak yang cerdas.

Tulisan Inung bagus dan ia dengan cepat mengerti pelajaran yang kuajarkan. Ughh, aku sendiri tidak menyangka bisa menjadi ibu guru yang sabar. Padahal, kalau harus mengajari adikku, Lila, buntut-buntutnya aku bisa bertengkar dengan Si 'tukang ngambek' itu.

Dari cerita Inung dan ibunya, aku jadi lebih mengenal keluarga mereka. Bapak Inung yang mulanya petani di desa , mengadu nasib ke kota, mengayuh becak dan sesekali nyambi kerja di bengkel sepeda. Ketika ayahnya masih ada, penghasilan keluarga mereka memadai. Tapi, setahun lalu, ayahnya Inung meninggal karena sakit. Sehingga ibunya pontang-panting bekerja menghidupi keluarga.

Inung dan kakaknya, Tito, masih bisa sekolah karena ibunya Inung berjualan kue dan menjadi buruh cuci - setrika di sekitar kampung yang mereka tinggali. "Tapi, Tito tidak mau sekolah lagi, kerjanya nongkrong bersama teman-temannya. Sejak belajar merokok dan 'minum', Tito berubah. Tidak peduli pada adiknya, Inung, bahkan tidak mau tinggal lagi di rumah. Katanya, ia ikut geng kampung sebelah. Kerjanya berkelahi dan bikin onar," tutur ibunya Inung sedih. Airmatanya mengalir deras.

"Emak, sudahlah. Tuh, lihat, Mbak Nadin jadi ikut sedih,'kan?" Inung menyeka airmata ibunya dengan kain batik yang sudah pudar warnanya. Kain batik itu menjadi selimut penutup tubuh ibunya yang sedang terbaring sakit. Wajah perempuan berusia 38 tahun itu jauh lebih tua dari mamaku. Padahal mereka seumur. Ah, seandainya Mama melihat apa yang terjadi di sini?

Ketika akan pulang aku menitipkan sisa uang jajanku. "Terima kasih, Mbak Nadin. Terima kasih, ya," kulihat Inung terharu, menerima uang kertas dua puluh ribu yang kuselipkan di tangannya. Untuk membantu beaya pengobatan Emak, ucapku tulus. Aku tahu, pemberianku tidak banyak. Tetapi paling tidak, aku benar-benar ingin menolong Inung!

Ya, menolong Inung. Aku harus menolong Inung agar ia bisa ikut ujian. Berulangkali kalimat itu mendengung di telingaku. Malam ini, aku benar-benar resah. Aku ingin minta izin pada Mama untuk menggunakan uang tabunganku. Hanya beberapa ratus ribu saja, tentu mamaku tidak keberatan.

Kekurangannya, bisa kutambahkan dari celenganku. Dengan bersemangat, aku menimang-nimang celengan babi-ku yang sudah 'gemuk'. Tentu lumayan isinya! Dan, sungguh aku tidak menduga reaksi mamaku. Di meja makan pagi ini, ia tampak terpana memandangku. Ada bening di matanya, ketika dengan lembut Mama merangkulku.

"Kamu sudah besar, Nadin. Kamu tahu yang terbaik ,yang  kamu lakukan. Mama sungguh bangga terhadapmu. Kenapa kamu segan bilang pada Mama? Mama tidak keberatan kok, menolong Inung dan ibunya. Kalau perlu, mereka bisa tinggal bersama kita. Ibunya bisa membantu mengajari Mama bikin kue. Kamu lupa, ya, Mama juga punya mimpi bisa punya toko kue seperti Inung? Siapa tahu kita bisa saling bekerja sama?"

Aku bahagia sekali! Aku memeluk Mama erat-erat. Aku juga bangga punya ibu baik hati seperti mamaku. Pagi itu aku berangkat sekolah dengan bersemangat. Mama sudah memberikan 'uang pinjaman' untuk membayar tunggakan sekolah Inung. Akan dipotong nanti dari uang tabunganku yang rencananya akan kuambil siang ini sepulang dari sekolah. Ditambah uang celengan babi-ku, lumayan-lah untuk membantu Inung dan ibunya.

Setiba di depan pintu gerbang sekolah, aku melihat kerumunan orang. Ada apa? Ada apa ini? Aku tidak mendapati Inung di tempat mangkalnya yang biasa...."Kelihatannya ada kecelakaan, Non Nadin," kudengar suara Pak Tok, sopirku.

Aku buru-buru turun dari mobil, hatiku berdebar, entah mengapa....Dan, benar saja! Aku menjerit sekencang-kencangnya melihat tubuh siapa yang tergolek di sana. Inung! Dia, Inung, teman kecilku tersayang....

Entah siapa yang bercerita, sayup-sayup kudengar, Inung tertabrak mobil ketika menyeberang. "Kelihatannya anak ini sedang melamun, sehingga tidak melihat ada mobil yang sedang melintas...."

"Ya, kasihan sekali dia! Kepalanya pecah..., di mana keluarganya?" Masih sempat kulihat rok putihnya yang bersimbah darah, lalu goreng pisang, kue apem, combro, dan ... dagangannya yang lain, jatuh berhamburan di jalanan....

Inung, mengapa kamu pergi secepat ini? Aku ingin membantumu, Inung...aku teringat Inung dan juga ibunya. Pandanganku terasa nanar dan detik itu juga aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Antara sadar, ada dan tiada, aku melihat senyum Inung yang manis. Dia melambaikan tangan kepadaku. Ada cahaya bening keemasan yang menyilaukan di sekitar tubuhnya. "Inung titip Emak, Mbak Nadin...."

Aku memejamkan mataku. Air bening mengalir deras di pipiku....( Majalah Gadis No.? lupa*  )      
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar