(Oleh Effi S Hidayat)
Sudah dua hari Ovie menghindari aku dan Ryan. Ryan kelihatan menyesal sekali. Sampai hari ketiga, dia membawa seekor anak anjing ke rumahku.
"Temani aku ke mal, yuk, Mon?" Ovie buru-buru menjejeri langkahku begitu jam pelajaran terakhir berakhir.
"Biasanya kamu paling males keluyuran, tapi akhir-akhir ini, kok?"
"Iya, Vie, wajah kamu juga mendung melulu. Minum susu dan vitamin, dong!" Ryan yang jalan di sebelahku ikut angkat bicara.
Ovie langsung cemberut. "Kalau tidak mau menemaniku, ya, sudah!" katanya sambil menjauh. Tetapi, aku buru-buru menarik lengannya.
"Eh, tunggu dong, Non! Aku,'kan cuma tanya, kenapa kamu berubah jadi pemarah sih, sekarang? Ada masalah dengan Mamamu?" Aku bertanya hati-hati. Ovie anak tunggal. Di rumah, dia kesayangan papa dan mamanya. Tapi mungkin saja kalau sesekali dia berantem sama mamanya.
"Bukan karena Mama, Mon. Tetapi, Timmy...."
"Timmy? Ada apa dengan Timmy?"
"Timmy hilang, Mon!" kali ini Ovie menjawab sambil terisak.
"Astaga, sudah lapor ke polisi, Vie?" Aku segera mengedipkan mata pada Ryan, sebagai isyarat agar dia segera menutup mulutnya. Tetapi, anak itu tidak tahu aturan, dia terus saja nyerocos. "Aku mau bantu deh mencarinya. Bener! Begini-begini,'kan, aku punya bakat jadi detektif. Tetapi, ngomong-ngomong Timmy itu... siapa, Vie? Saudaramu, ya?"
Ovie memandang Ryan dengan penuh harapan. "Beneran kamu bisa bantu aku, Ryan? Timmy itu anjing kesayanganku. Dia hilang waktu berjemur hari Sabtu lalu. Biasanya sehabis berjemur, dia pasti pulang sendiri ke rumah. Dia anjing yang pinter, kok...."
"Apa...Vie? Timmy itu...anjingmu? Oh, cuma anjing tokh, Vie!" Ryan garuk-garuk kepala. Dengan entengnya dia lalu mengangkat bahu. "Gue pikir adik loe. Kok, repot-repot gitu, Vie. Pake sedih segala. Sudah deh, beli aja yang baru...."
Aku tidak dapat menahan lidah Ryan. Dia tidak tahu ucapannya berpengaruh besar bagi Ovie yang pencinta anjing. Bagi Ovie, Timmy adalah temannya yang terbaik. Sahabatnya di kala suka dan duka. Dan, Ryan tidak tahu hal itu.
Ovie lari meninggalkan kami berdua. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Cuma tertangkap olehku sejuta kebencian di matanya ketika memandang Ryan. Oh, gawat! Belum lagi air mata yang berleleran di wajahnya.
"Ovie menangis, Mon?" Ryan bengong, memandangku tak mengerti.
"Kamu sih, nggak tahu perasaan orang! Bagi kamu, anjing seperti Timmy memang tidak berarti apa-apa. Tetapi, bagi Ovie yang anak tunggal, Timmy itu sangat berarti, tahu! Terang saja dia jadi sedih setengah mati karena Timmy hilang. Dia tidak punya teman lagi sekarang di rumah. Apalagi Timmy dipeliharanya sejak kecil, sedari lima tahun yang lalu...," kataku sewot, menjelaskan panjang lebar pada Ryan.
**
Sudah dua hari ini Ovie menghindari aku dan Ryan. Ryan kelihatan menyesal sekali. Sampai hari ketiga akhirnya dia membawa seekor anak anjing ke rumahku. Bulunya putih berbercak cokelat muda, dan perutnya genduuut. Wah, pokoknya benar-benar menggemaskan, deh.
"Aduuuh, Ryan. Makasih, ya...."
Belum habis ucapanku, kulihat Ryan mengangkat alisnya yang tebal. "Maaf, Mona. Anak anjing ini untuk Ovie. Aku betul-betul merasa bersalah telah menyakiti hatinya."
Untuk sesaat aku terpana melihat wajahnya. Tak pernah kulihat Ryan segundah ini. Ah, jangan-jangan..."Kamu naksir Ovie, ya, Ryan?" tembakku langsung.
Plasshh! Wajah Ryan memerah. Jadi, jadi... dugaanku benar? Tak mungkin Ryan akan sepeduli itu kepada Ovie kalau dia tidak ada hati. Oh, tiba-tiba saja entah mengapa aku jadi merasa sedih. Sedih sekali. Kupikir kedekatanku dengan Ryan selama ini....
"Sungguh mati, aku tak ada apa-apa dengan Ovie. Aku cuma kasihan padanya karena telah kehilangan Timmy. Ovie telah mengajarkan kepadaku sebuah arti dari persahabatan sejati. Ungkapan "Anjing adalah sahabat manusia yang terbaik" ternyata benar. Selama ini aku telah menyepelekan sosok seekor anjing," Ryan menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Seperti juga kedekatanmu selama ini dengan Gugi, Boni, dan anjing-anjing lain kesayanganmu itu. Padahal, padahal...," sesaat Ryan kelihatan bingung. Rona merah di wajahnya muncul lagi.
"Padahal apa?" Aku ikut-ikutan bingung melihat Ryan mendadak salah-tingkah.
"Padahal sih, kalau boleh jujur... sebetulnya aku cemburu berat pada mereka, Mona! Pada anjing-anjingmu itu...."
Alamak! Ucapan Ryan membuat aku ternganga. Betulkah Ryan... padaku? *** (Bonus Gadis 15/XXII/1995)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar