(Oleh Effi S Hidayat)
Dan, di atas pagar besi yang hanya sebatas dada itu, menjulang makhluk berpostur tinggi dengan wajah persegi memikat.
Sungguh mati, bukan karena lelaki itu tampan, aku lalu jatuh hati. Aku memerhatikan dia karena keponakanku, Joe. Anak yang baru berusia empat tahun dan sekarang duduk di bangku TK A itu kebetulan saja dekat dengan Kiki, anak tetangga sebelah rumah. Lalu, apa hubungan lelaki itu dengan Kiki?
"Pak Onky itu ayahnya Kiki," kata pengasuh Kiki. Oalaa, aku sungguh tidak pernah menduga lelaki itu ternyata sudah punya anak sebesar Kiki. Lalu, di mana isterinya?
"Ibu Kiki? Saya sendiri tidak pernah mengenalnya. Saya tidak tahu, apa ibunya Kiki masih hidup atau sudah tiada," Suster Yani, pengasuh Kiki, menjelaskan. Kebetulan saja sore itu aku berbincang-bincang dengannya sambil mengawasi Joe dan Kiki yang asyik naik sepeda berdua.
Aku semakin tertarik. Entahlah. Mungkin awalnya karena rasa penasaran melihat teman main Joe yang bernama Kiki itu sehari-harinya hanya dikawal oleh sang pengasuh. Bahkan pergi ke gereja maupun ke pesta ulang tahun temannya, Kiki tak pernah diantar oleh ayahnya. Apalagi ibunya. Ya, sehari-hari anak kecil itu hanya hidup berdua dengan pengasuhnya. Sampai suatu sore, aku melihat lelaki itu datang dengan mobil kijangnya.
Mengenakan kemeja berwarna khaki dengan belitan dasi merah marun di lehernya, dia sungguh terlihat menarik. Wajar saja jika aku menyempatkan diri untuk mengangkat wajah dari buku yang sedang kubaca di teras depan sore itu. Dan, ketika mata kami bersirobok pandang, lelaki itu menyunggingkan senyum ramah, sebelum menghilang masuk ke dalam rumahnya yang tepat berada di sebelah rumah Mas Aka, kakak sulungku.
Aku sudah akan kembali kepada buku bacaanku, kalau saja tak kudengar pintu pagar diketuk. Dan, di atas pagar besi yang hanya sebatas dada itu, menjulang makhluk berpostur tinggi dengan wajah persegi yang memikat. "Maaf, boleh saya menganggu?" sapanya dengan suara yang... astaga, aku pikir terlalu lembut untuk seorang lelaki seperti dirinya!
"Hmm, ya, ya... ada yang bisa saya bantu?" Aku menjawab agak gelagapan.
Dia tertawa melihat kegugupanku. "Aduh, rupanya saya menganggu keasyikan kamu membaca," tuturnya dengan nada akrab. "Saya, ayahnya Kiki," katanya, membenarkan dugaanku. Sore itu dia meminta izin untuk memetik daun pandan di halaman teras rumah kakakku. Katanya sih, untuk pengharum bubur kacang hijau yang sedang dimasaknya.
Aku terpana. Dia baru saja datang dan sudah turun ke dapur? Menyadari ketakjubanku, lelaki bernama Onky itu menjelaskan bahwa salah satu hobinya memang adalah memasak. "Kebetulan Suster Yani belum kembali. Hari ini, dia mengantarkan Kiki kursus bahasa Inggris. Kasihan Kiki, sejak kemarin dia sudah menagih janji untuk dibuatkan bubur kacang hijau kegemarannya."
Lagi-lagi aku terperangah, tak menduga jika sesibuk apapun tampaknya diri lelaki itu, ia masih punya waktu untuk mengingat jadwal kursus anaknya, dan memasakkan bubur kacang hijau. Dan, lihatlah! Wow, betapa tampannya dia walaupun cuma dengan celana komprang sebatas lutut dan kaus belel !
Sejak perkenalan kami sore itu, mau tidak mau aku jadi menaruh perhatian lebih pada Kiki. Ya, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku kasihan melihat anak sekecil itu sehari-harinya hanya hidup berdua dengan pengasuhnya saja.
"Pekerjaanku di Jakarta tidak memungkinkanku untuk bisa pulang ke rumah setiap hari," cerita Onky, suatu hari. Kesibukannya sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah mode di Jakarta, tidak memungkinkan untuk bisa selalu menjenguk anaknya.
Sore itu, sepulang ke rumah, kulihat ia asyik merapikan tanaman halaman rumahnya yang asri. Di mana ibunya Kiki? Aku ingin sekali menanyakan hal itu pada Onky. Ya, sekadar ingin tahu. Tapi, aku tidak pernah tega mengeluarkan sepotong kalimat tanya itu dari mulutku. Mungkin aku hanya mengorek luka lama. Tapi, sepanjang aku berteman dengannya, Onky jarang sekali berbicara hal yang pribadi. Biasanya topik kami hanya berkisar tentang Kiki, puteranya.
Seperti ketika pagi ini, Kiki dan Joe bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mereka sedang menunggu mobil jemputan yang sama. Dan, kedua anak lelaki yang semula rukun bermain itu, tiba-tiba mulai bertengkar. "Ayo, kembalikan Megalomanku!" kudengar Kiki berteriak.
"Pinjam sebentar, mosok tidak boleh?" Joe berlari menghindar sambil membawa robot milik Kiki. Ia tertawa-tawa, asyik menggoda Kiki, yang tanpa diduga lalu melayangkan tinjunya. Tangis Joe pun membahana. Dan, kini gantian kulihat Kiki yang tertawa gembira melihat 'musuh'-nya menangis kesakitan.
"Rasain, rasain! Kasih deh, lu," dengan sengaja Kiki mengacungkan robotannya di depan wajah Joe. Tapi, tak lama gantian Kiki yang menangis. Bokongnya kena sabet sang papa! Wah, aku tak menyangka, Onky bisa 'kejam' juga kepada puteranya!
"Dengar baik-baik ya, Kiki. Papa tidak suka melihat kamu bersikap seperti itu. Tidak mau meminjamkan mainan dan lalu main pukul teman seenaknya. Ayo, sekarang kamu minta maaf pada Joe!" Aku mendengar perintahnya yang tegas. Duh, aku takjub melihat pemandangan di depan mataku. Kedua bocah lelaki kecil yang mulanya bertengkar heboh itu mulai saling bersalaman dan ... berpelukan!
"Begini nih, Nira. Menjadi orangtua memang tidak gampang. Ughh, kalau tidak diajar adat sedari kecil, mereka bisa kebablasan tidak disiplin nanti jika sudah besar," Onky memandangku. Sebenarnya ia sudah siap berangkat bekerja pagi itu, tapi tertunda karena kejadian tadi. Dan, aku semakin mengagumi caranya berlaku sebagai seorang ayah. Setelah menasihati Kiki dan Joe, ia pun tak lupa memeluk anaknya.
"Maafkan Papa, ya, Ki. Tadi Papa memukulmu. Kiki mau,'kan memaafkan Papa?" Onky memandang Kiki dengan segenap kasih yang membuatku terharu.
"It's okay, Daddy! Kiki juga minta maaf. Kiki sayaaaang sekali sama Papa!" Kiki balas memeluk ayahnya dengan erat. Kemanjaannya sebagai seorang anak berumur enam tahun terkadang tak sebanding dengan 'kedewasaannya'.
Aku pernah mengatakan hal ini kepada Onky. Tentang kedewasaan Kiki dalam bersikap, yang kerapkali membuatku kagum. "Ah, entahlah, Nira. Mudah-mudahan saja prasangkamu benar, Kiki jadi lebih matang dan mandiri dibandingkan teman-teman sebayanya. Walaupun jujur saja, sebagai orangtua tunggal, sesungguhnya aku lebih dibelit rasa khwatir melihat sikapnya itu."
Sebagai seorang ayah, aku melihat Onky luar-biasa telaten mendidik anaknya. Ia tidak sekadar merawat Kiki dengan baik, lihat saja berbagai buah-buahan dan vitamin; makanan bergizi yang dipesannya setiap hari pada Suster Yani, pengasuh Kiki. Tetapi, perhatiannya yang lebih dari cukup itu, sangat mengesankan hatiku.
"Pak Onky itu, kalau tidak menelepon Kiki sehariiii saja, kayaknya ada yang kurang. Seperti orang pacaran ya, Mbak Nira?" Suster Yani melapor padaku sembari tertawa. Ia baru menerima telepon dari ayahnya Kiki. Sekadar menanyakan, apakah Kiki sudah tidur siang dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Itu, antara lain pertanyaan rutin yang harus dijawab Suster Yani sebagai bahan laporan kegiatannya setiap hari akan anak asuhnya.
Dan, malam itu, di meja makan, rupanya tanpa sadar aku kembali membincangkan Kiki dan ayahnya. "Ihh, hati-hati, Nira. Jangan sampai kamu jatuh hati pada lelaki tampan di sebelah rumah kita," kalimat Mbak Ning, kakak iparku, menyentakkan aku.
"Aku... aku,'kan hanya sekadar mengamati, Mas. Tinggal di kompleks perumahan seperti ini, apa lagi yang bisa kukerjakan selain membaca dan bermain dengan Kiki bersama Joe?" sanggahku cepat.
"Hmm, ya, sudah. Jangan diambil hati, Nira. Bagaimana cutimu? Kalau bosan berleha-leha, kamu,'kan bisa sesekali ikut aku ke Jakarta. Main ke mal sana, nanti pulangnya aku jemput. Bagaimana?" Mas Aka mengusulkan.
Seminggu berlibur di kawasan Serpong, berarti masih tersisa sepuluh hari lagi aku kembali ke Surabaya, tampaknya memang mulai membuatku jemu. Padahal aku sudah sering praktik membuat kue yang juga kuantarkan ke rumah sebelah, dan mencoba berkebun seperti kegemaran Onky. But, yeah, that's life!
"Terima kasih, Mas Aka. Tawaran yang menarik, tentu saja tidak akan kutolak. Apalagi Onky menawari aku untuk main ke sekolah mode, tempatnya bekerja. Siapa tahu, katanya, aku bisa mengikuti kursus singkat di sana. Tapi, ngomong-ngomong..., gratis nggak, ya?"
"Huss!" Mas Aka dan Mbak Ning sama-sama tertawa mendengar harapanku. Dan, jadilah pagi itu, aku ikut Mas Aka ke Jakarta. Aku akan mampir secara mendadak ke tempat kerja Onky. Kejutan! Diam-diam, aku ingin sekali melihat binar-binar di matanya yang indah. Upphh! Nira, apa yang kau pikirkan? Aku memaki diriku sendiri.
Sepanjang perjalanan untuk menutupi kegelisahanku, di mobil Mas Aka yang full of music, aku menjadi penyanyi dadakan. 'Kau tidak berminat pindah ke mari, Nira? Tentu Kiki senang sekali bisa bermain denganmu setiap hari', aku masih belum melupakan kalimat yang pernah diucapkan Onky ketika suatu malam, dia mengajakku bersama Kiki dan Joe pergi ke hypermart. Sembari mengawasi kedua anak itu bermain di Time Zone, kami menyantap croissant dan es krim. Ah, momen yang indah!
"Sudah sampai. Kamu mau turun atau tetap bermimpi, Nira?" pertanyaan Mas Aka mengejutkan aku. Rupanya kami sudah berada di depan gedung kantor Onky.
"Ok, thanks, ya, Mas! Nanti sore kalau mau pulang, aku telepon."
"Hmm, apa tidak lebih baik jika kau pulang bersama Onky saja? Sepertinya aku ada janji sore ini dengan klien. Takutnya nanti kau kelamaan menunggu," Mas Aka menatapku. Dengan cepat aku mengangguk. Tentu saja aku tidak menolak pulang bersama Onky. Hari ini,'kan jadwalnya dia menengok Kiki di rumah?
Setelah merapikan blazer yang kukenakan, dengan langkah mantap, aku masuk ke kantor Onky. Interior ruangannya sungguh menarik. Tetapi, ketika aku melangkah menuju ruangan "Pak Onky"-- seperti yang ditunjukkan resepsionis, mataku tiba-tiba terpaku pada sebuah pemandangan yang tidak biasa.
Aku melihat Onky sedang merangkul seseorang dengan mesra. Dan, "seseorang" itu adalah...pemuda berwajah imut! Mereka tidak hanya berangkulan, tapi juga saling berciuman pipi dengan taburan kata yang membuatku merinding. "Bye, honey! Sampai nanti siang, ya. Kita lunch di PS saja...." Aku terpaku mendengar ucapan Onky yang sangat manis pada pemuda itu.
Namun kemudian mata Onky tertuju kepadaku. Lalu, teriakannya yang 'khas' menyambutku (ah, mengapa selama ini aku tidak menyadari nada suaranya yang gemulai?) "Aduh, duh, Nira... kejutan apa nih, kamu mau singgah di kantorku? Oh, ya, kebetulan Adjie datang. Ini, kenalkan ; my soulmate...."
Apa? Apakah aku tidak salah dengar? My soulmate? Sebenarnya, aku masih ingin menyanggah pemikiranku. Tetapi, mungkin melihat ekspresi wajahku yang terkejut, Onky merasa perlu memberi penjelasan lebih lanjut. "That's right, Nira. This is... my girlfriend!"
Dan, tawa pemuda bernama Adjie yang terdengar manja itu telah merinci lebih detail, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.Oh! (Jelita, edisi 116 tahun III, 23-29 Januari 2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar