Selasa, 14 Maret 2017

Siti Syamsu

(Oleh Effi S Hidayat) 

Nging, nging! Telingaku langsung berdenging mendengar panggilan Eros. Sementara  Tari dan Rika terkikik-kikik di belakang punggungku.


Diamput ! Dia memanggilku dengan nama itu lagi. Siti Syamsu, uff ! Kenapa sih, dia nggak mau memanggilku "Tania", seperti teman-teman yang lain? Bukankah nama yang belakangan ini lebih enak membelai telinga? Bukannya ; Siti Syamsu, ihh... kedengarannya,'kan, norak sekali. Kampungan.

"Aku benci cowok bermulut usil itu !"

"Siapa?" Tari kaget mendengar celetukanku yang tiba-tiba.

"Siapa lagi, Ri. Pura-pura nggak tau aja kamu. Itu... Si Tommy Page!" Rika menjawab pertanyaan Tari sambil tersenyum-senyum sinting.

Aku memercepat langkahku. Si Rika cerewet itu pasti akan semakin menjadi-jadi 'kumat'-nya. Dia,'kan menjodohkan aku dengan idolanya itu. Heran, ya, kenapa nggak diambil sendiri aja buat... cantelan bajunya? Hihihi.

"Tuh,'kan, bahagia? Senyumnya, rek!" Nenek cerewet itu belum mau menghentikan aksinya. Dengan kesal aku menarik segera senyum yang terlanjur bertengger di bibirku. Uh, andaikan saja Rika tahu apa yang membuatku tersenyum, pasti dia nggak bisa cengar-cengir seperti sekarang.

Bayangkan ini ; Si Eros dijadikan .. cantelan bajunya? Hihihi. Uff, kok, aku jadi nyengir lagi, sih? Gawat, deh, bisa-bisa disangkanya aku benar-benar girang dijodohkannya dengan Eros. Padahal, asal tahu saja makhluk yang paling kubenci di seluruh kelas II A adalah anak lelaki yang satu itu !

Pasalnya, sih, sepele sebenarnya. Dia selalu memanggil aku dengan nama lengkapku. Benar-benar lengkap : Siti Syamsu. Uh, entah kenapa dia tidak seperti teman-teman lain yang memanggilku Tania.  Aku sendiri tidak tahu alasannya.

                                                                **

"Siti Syamsu...."

Nging, nging! Telingaku langsung berdenging begitu mendengar panggilan Eros. Sementara Tari dan Rika terkikik-kikik di belakang punggungku. Buru-buru keberikan penghapus yang ingin dipinjam Eros. Uh, awas dia! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi! Aku harus membicarakan masalah nama  ini dengan dia. Ya, istirahat nanti akan kutanyakan langsung saja kepadanya. Ketimbang makan hati ?

"Namamu bagus. Kedengaran indah di telinga. Dan, yang paling utama, aku kagum sama kamu karena kamu mau memakai nama itu. Bandingkan aja sama yang lain, nama mereka kebanyakan 'bau keju' : Caroline, Emily, Nindy, entah apa lagi!" Sejenak dia terdiam, menatapku.

"Kamu harus bersyukur kepada orangtuamu. Mereka pasti punya alasan yang bagus memberikan kamu nama seunik itu. Begitulah ceritanya, mengapa aku sekali memanggil nama lengkapmu. Aku pikir, kamu pasti sebal dipanggil "Tania...Tania", kan? Teman-teman kita memang suka mengganti nama orang seenaknya saja, ya? Mungkin mereka pikir, maaf, nama itu aneh. Padahal, menurutku sih, nama nggak memengaruhi kampungan atau kota-nya seseorang. Iya,'kan, Siti Syamsu?" Eros bertutur panjang lebar, menjelaskan.

Aku tercengang memandang anak lelaki itu. Pengakuannya benar-benar di luar dugaanku. Ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepadanya. Padahal, terus-terang secara jujur aku bertanya kepadanya karena kesabaranku sudah habis.

Tetapi, ternyata dia tidak mencemoohkan namaku sama sekali, seperti yang aku kira selama ini. Bahkan, dia mengira aku bangga menyandang nama itu. Mama dan Papaku pasti punya cerita yang menarik, katanya. Padahal saking bencinya, aku malah nggak mau tahu sejarah apa yang tersimpan di balik nama itu.

Siti Syamsu, Siti Syamsu, aku mengeja nama itu berulang-ulang dalam hati. Wah, aku jadi malu hati sendiri. Eros mengira aku berbeda dengan teman-teman lain yang lebih bangga dengan nama bule-nya. Tiba-tiba saja aku merasa nama itu memang benar-benar manis di telinga.

Ya, aku janji, deh, Rika. Aku janji tidak akan memaki-maki kamu lagi kalau besok-besok, dan besoknya lagi, kamu menjodohkan aku dengan... Eros. Aku janji tidak akan pernah berpikir lagi untuk menjadikan Eros sebagai 'cantelan baju' kamu. Aku janji....

Ah, tiba-tiba saja tidak berani memandang Eros. Entah kenapa! (Percikan Gadis No.6, 26 feb-8 Maret 1993).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar