Rabu, 29 Maret 2017

Natal Putih

(Oleh Effi S Hidayat)

Tak satupun pria yang berhasil menggeser kedudukan Ayah di hati Ananta. Begitu pun, saat duka itu datang.  


Sepanjang jalan pertokoan tampak meriah didominasi warna merah dan hijau. Lagu-lagu Natal pun berlomba diperdengarkan. Suasana Natal memang sudah terasa di mana-mana. Kedamaian seolah menjadi milik semua orang. Namun tidak demikian yang dirasakan oleh Ananta.


Ananta tidak pernah habis pikir jika mendengarkan keluhan Santi, Tika, atau Anna. Mereka begitu membenci lelaki yang selama ini mereka panggil Ayah. "Sungguh aku membencinya! Lelaki itu telah menelantarkan ibuku sekian lama. Aku tidak pernah melihat wajahnya karena dia sudah lari dengan perempuan lain ketika aku berusia tiga tahun," keluh Tika.

"Ayahku bukan pria yang bertanggung jawab. Dia pemabuk, penjudi, dan sering memukul ibuku, serta kami anak-anaknya," tutur Anna dengan kegeraman yang tak disembunyikan. Begitu juga Santi, kerapkali dia mengeluh tentang ayahnya, "Terus terang aku iri padamu, Nanta. Kamu beruntung memiliki seorang ayah yang sangat baik...."

Ya, Ananta memang sangat bangga pada ayahnya. Dan, semua teman-temannya tahu akan hal itu. Aku memang patut bersyukur, begitu kata hati Ananta setiapkali mendengarkan keluhan teman-temannya tentang ayah mereka.Padahal, terus terang saja, ayahnya bukan pria hebat seperti ayah Santi.

Ayah bukan keturunan ningrat  yang kaya raya dan selalu berpakaian perlente. Malah Ayah sangat sederhana. Dia tidak pernah cerewet dalam hal berpakaian maupun makanan. Tetapi, Ayah adalah seorang pekerja keras yang sangat rajin. Dan, Ananta kagum dengan keterampilan Ayah.

Sejak kecil, jika dia membutuhkan sesuatu, dia akan lari kepada Ayah. Ayah bisa membuatkannya pedang-pedangan dan kuda tunggang dari kayu. Ayah juga yang membuatkannya rak buku yang kokoh di kamarnya untuk menampung semua koleksi buku-- benda yang paling berharga alias 'harta' kekayaannya.

Pokoknya, semua pekerjaan tukang mulai dari masalah ledeng, listrik, bahkan sampai pembuatan rumah yang mereka tempati sekeluarga adalah hasil karya Ayah. Ya, Ananta amat mengagumi Ayah. Walau tidak menyandang gelar insinyur, tetapi Ayah punya bakat terpendam yang menakjubkan, begitu puji Ananta selalu.

Namun, tak dapat dipungkiri, pada suatu masa, Ananta juga pernah 'membenci' Ayah. Mungkin karena Ayah sangat disiplin sehingga ia agak keras mendidik anaknya, walau ia hanya memiliki seorang puteri semata wayang seperti Ananta.

Ananta merasa tidak pernah dimanjakan seperti Marina yang selalu disebut-sebut ayahnya 'Si biran tunggal buah hati Papa'. Ah, Ayah tak pernah memerlakukannya seistimewa itu. Bahkan, Ananta masih ingat ketika dia kecil dulu, kalau ia nakal, Ayah tak segan-segan menghukumnya.

Ayah juga yang mati-matian mengajarnya matematika  ketika ia pernah ketinggalan pelajaran di kelas lima SD. Setiap malam, Ayah memberinya pe-er, sehingga hampir setiap malam pula, rasanya perut Ananta menjadi mulas. Tetapi toh, berkat didikan Ayah, Ananta tak pernah tinggal kelas. Bahkan, menurut ibunya, Ananta pula yang menuruni bakat Ayah dalam mengarang.

Mulanya memang menggelikan. Pada suatu hari, Ananta kecil menemukan sepucuk surat cinta yang ditulis Ayah kepada ibunya. Surat itu begitu manis dan menyentuh perasaan, sehingga Ananta pun mulai mencoba-coba menulis surat dan rajin bersahabat pena.

Ayah memang memiliki bakat-bakat yang sangat mengagumkan. Selain jago mengarang dan melukis, dia juga seorang pemain musik-- tepatnya gitaris, dan pemain basket yang andal. "Mungkin itu sebabnya Ayah dahulu begitu dipuja banyak gadis," canda Ibu dengan mata berbinar.

Ah, Ananta selalu senang mendengarkan kisah cinta Ayah dan Ibu. Walaupun telah berulangkali cerita itu didengarnya, tetapi ia tidak pernah bosan. "Ibumu adalah cinta terakhir Ayah," begitu kata Ayah sembari menyunggingkan senyum memikat.

Dan, hati Ananta akan berdebar-debar sendiri membayangkan bagaimana gigihnya Ayah menunggui Ibu pulang dari kursus busana, jauuuh... di ujung gang rumah Bude Sari. Saat itu, Ibu tinggal di rumah Bude.  Ayah kerap berpapasan dengan gadis berambut panjang yang setiap sore mengayuh sepeda itu, melintas di depan rumah.

Aduh, romantis sekali kisah cinta Ayah dan Ibu. "Ayah adalah cinta pertama Ibu," tutur Ibu senantiasa dengan mata penuh cinta. Hmm, cinta pertama yang bersatu padu dengan cinta terakhir adalah dongeng cinta yang tak akan pernah dilupakan Ananta dalam meniti hari-hari selanjutnya.

Ayah adalah sosok pria yang sangat mengagumi perempuan. Lukisan-lukisan yang selama ini dihasilkannya, semua menggambarkan perempuan. Mereka cantik berkain kebaya, hingga...telanjang. "Memang tak selalu sosok ibumu yang menjadi sumber inspirasi, tetapi Ibu tidak pernah cemburu. Itulah yang membuat Ayah begitu mencintai Ibu. Dia perempuan yang sangat sabar dan penuh pengertian terhadap suaminya," komentar kagum Ayah tentang ibunya.

Ayah mengajarkan Ananta untuk menjadi perempuan yang mandiri. Perempuan yang tidak selalu bergantung kepada orang lain, walaupun terhadap suaminya sendiri. Dan hal itu memang sangat memengaruhi Ananta dalam bergaul. Sebagai anak perempuan, pertumbuhannya cenderung tomboi.

"Nanta sama perkasanya,'kan dengan laki-laki?" dia kerap bertanya kepada Ayah, yang hanya disambut senyum samar. Sedari kecil, teman-teman baiknya kebanyakan lelaki. "Asyik bergaul dengan mereka. Tidak pernah cerewet dan ngerumpi," begitu alasan Ananta yang sampai SMA hanya memiliki dua koleksi rok, itu pun ...seragam sekolahnya!

Dan, sikap itu terus terbawa sampai dia kuliah. Ananta paling gemas melihat Lita, temannya, yang selalu merengek-rengek manja, walaupun itu kepada kekasihnya sendiri. "Buku-buku saja minta dibawakan, ke luar dari mobil, harus dibukakan pintu," sungut Ananta, tak habis pikir.

Ya, walaupun Ananta anak tunggal, dia tak pernah bermanja-manja seperti itu. Ananta selalu berusaha melakukan segalanya sendiri. Toh, ia berhasil menjadi gadis yang mandiri. Sebagai wartawan kesehatan sebuah majalah perempuan, ia begitu gigih mengejar berita. Sampai hari ini, ketika ia melihat diagnosis dokter dari hasil pemeriksaan USG ayahnya.

Hepatoma Multi Nodulus, Ananta mengeja satu per satu huruf-huruf di depan matanya dengan hati teriris. Tentu saja dia tahu pasti penyakit itu. Ayah mengidap kanker hati! Selama ini, sedikit sekali orang yang dapat lolos dari cengkraman hepatoma.

Oh, Tuhan, mengapa Ayah? Mengapa cobaan ini harus menimpa ayahku? Ayah yang baik dan penuh cinta? Berhari-hari Ananta tidak bisa tidur memikirkan kondisi ayahnya yang kelihatannya memang semakin menurun. Tiba-tiba saja, Ananta merasa, dia membutuhkan seseorang untuk dapat diajak berbagi !

                                                          *** 

Malam itu, tangis Ananta pecah tak tertahankan lagi. Hasil konsultasinya dengan dokter Mono menghancurkan harapannya. Dengan sangat rinci dokter spesialis hati terkenal itu, menjelaskan segala kemungkinan yang harus dihadapi Ananta dan keluarganya.

"Lebih baik Ayah beristirahat di rumah. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain memertahankan kondisinya, dan berdoalah kepada Tuhan...," katanya tanpa perlu lagi menganjurkan Ayah diopname di rumah sakit.

Ah, separah itukah? Ayah telah mengidap kanker hati stadium lanjur. Dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan kondisinya seperti sediakala? Dengan berlinang airmata, Ananta bertanya kepada Banu, yang sejak tadi hanya terdiam memandangnya."Banu, mana yang kamu pilih? Mengetahui orang yang kita cintai akan pergi, ataukah lebih baik tidak mengetahuinya sama sekali?"  

Hening sesaat. Kemudian pria yang selama ini begitu baik kepadanya itu memberikan jawaban," Hidup itu memang suatu pilihan, Nanta. Suka maupun tidak suka, kita harus memilih. Seperti keadaan yang harus kita hadapi sekarang. Aku pikir, ya, aku pikir kehendak-Nya kali ini adalah yang terbaik...," Banu menghela napas panjang, menatap Ananta dalam-dalam.

"Mungkin, akan lebih baik kita mengetahui Ayah akan pergi. Toh, dengan demikian, kita dapat berbuat lebih banyak lagi untuknya."  Genggaman tangan Banu menghangatkan hati Ananta. Ia memang sedang membutuhkan seorang pendamping. Ia tidak berani pergi seorang diri menemui dokter Mono.

Ketika memasuki ruang praktik dokter itu pun, Ananta menggandeng tangan Banu dengan gemetar, meminta pria itu menemaninya. Tidak seperti biasanya. Bukan seperti seorang Ananta. Dia memohon kepada seorang lelaki mendampinginya, hanya untuk pergi ke dokter.

"Rasanya aku tidak sanggup menemui dokter Mono seorang diri, Banu. Please, kamu... kamu  bersedia mengantarkan aku?" pinta Ananta terbata-bata melalui telepon. Selama bersahabat dengan Banu, dia memang tidak pernah 'seperempuan'  malam itu.

Ananta begitu rapuh. Dia baru menyadari tidak setegar yang dia sangka selama ini. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penantian yang menyiksa. Ananta tidak tahu kapan Ayah akan 'pergi', tapi dia merasa bahwa hari itu memang semakin dekat.

Akhir-akhir ini Ayah semakin pendiam, dan seringkali hanya memandangnya tanpa kata. Mata Ayah yang semakin redup itu, tak pernah kehilangan sorot cinta kasihnya. Ya, bagaimanapun Ananta tahu pasti, Ayah sangat mencintainya, seperti cintanya juga yang sangat dalam kepada Ayah.

Aku harus membahagiakan Ayah di hari-hari terakhirnya, batin Ananta berteriak. Berhari-hari dia telah memikirkan keputusan itu. Ananta akan memperkenalkan Banu kepada Ayah. Selama ini, dia tidak pernah membawa seorang pria pun untuk diperkenalkan secara resmi kepada Ayah.

Memang banyak teman prianya yang bertandang ke rumah. Tapi, Ananta selalu menganggap mereka sebagai teman. Tidak ada seorang pun yang istimewa di mata Ananta. Secara tidak sadar, dia memang selalu membandingkan mereka semua dengan Ayah.

Dan, para arjuna itupun satu per-satu berguguran pergi. Hingga tanpa terasa, waktu berjalan terus dan usia Ananta pun semakin bertambah. Tahun ini, berapa sudah usianya? Ananta menghitung hari ulang tahunnya yang tak lama lagi tiba. Hari ulang tahunnya jatuh delapan hari di muka, setelah ulang tahun Ayah.

Ayah akan menginjak usia ke-55. Sedangkan dia, aduh... Ananta baru menyadari bahwa usianya sudah hampir kepala tiga ! Dan sekali pun, dia tidak pernah memperkenalkan teman pria yang paling istimewa kepada Ayah!

Mungkin, karena Ayah pun tak pernah menyinggung akan hal itu? Ya, Ayah tidak secerewet Ibu. Tetapi, dalam keadaan sakitnya, baru-baru ini pernah juga dia menyinggung kerinduannya untuk menjadi seorang kakek. "Ayolah, Nanta, kapan kamu menjadi perempuan yang feminin? Kamu kok, lebih telaten mengurus anjing ketimbang keponakanmu, Si Tita? Kamu belum ingin punya Nanta yunior, he?"

Ananta tersenyum geli. Selain humoris, Ayah juga demokratis. Dia bukan tipikal seorang ayah yang memaksakan kehendaknya sendiri. Ah, begitu beruntungnya Ananta memiliki ayah seperti dirinya. Ya, tidak ada salahnya, menjelang Natal tahun ini, Ananta memperkenalkan Banu kepada Ayah.

Sebagai seorang puteri, sudah sepantasnya dia membahagiakan hati kedua orangtuanya. Walaupun Ananta sendiri tidak tahu pasti, apakah dia sungguh mencintai Banu. Dia memang masih juga membanding-bandingkan Banu dengan Ayah. Dan, terus terang saja, di mata Ananta, Ayah masih tetap merupakan pria yang paling spesial dalam hidupnya.

Tetapi, Ananta juga tidak menutup mata bahwa Banu begitu sabar dan baik hati. Dia tidak hanya mendampingi Ananta di kala suka, pun ketika lara datang menyengat. Banu setia mengulurkan tangan tanpa Ananta minta.

Ya, apalagi yang ditunggu Ananta? Lelaki itu sudah menunggunya begitu lama. Hingga kemarin malam, Banu telah melamar Ananta untuk ... kedua kalinya. Ah, tekad Ananta bulat sudah. dia akan memperbincangkan rahasia hatinya yang paling dalam kepada Ayah. Tentu, ayahnya akan bahagia.

Kehadiran Banu tidak akan menggeser kedudukan Ayah dari sudut hati Ananta. Oh, tidak akan pernah terjadi hal itu! Ananta hanya mencoba melengkapi kebahagiaan keluarga mereka. Itu saja.

                                                     ***

Seusai kerja yang melelahkan, sore itu Ananta pulang ke rumah dengan riang. Dua hari lagi malam Natal, dan Banu akan diajaknya serta. Ananta akan memperkenalkan pria itu kepada Ayah sebagai calon menantunya. Pasti Ayah dan Ibu akan bahagia!

Namun setibanya di rumah, Ananta tertegun. Tidak ada seorang pun menyambutnya pulang seperti biasa. Hanya selembar memo, berisikan tulisan tangan Ibu yang tampak ditulis tergesa-gesa. Ayah tiba-tiba sesak napas, dan 'dilarikan ' ke rumah sakit dengan ambulans!

Oh, Tuhan, jangan ambil Ayah. Belum banyak yang kulakukan untuknya. Belum dapat kuberikan sesuatu yang berharga di dunia ini untuknya.... Harapan Ananta hanya tinggal harapan belaka. Di rumah sakit, suster di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) yang ditemuinya mengatakan bahwa Ayah sudah dibawa ke basement. 

Basement? Bukankah itu ...ruang jenazah? Ananta tidak akan pernah bertemu dengan Ayah lagi! Dia tidak sempat mengucapkan kata-kata cinta dan maaf yang paling dalam untuk Ayah. Ayahnya telah pergi tanpa Ananta pernah sempat memperkenalkannya dengan Banu.


Di ruang tunggu rumah sakit sore itu, Ananta memeluk ibunya dengan sejuta duka yang menyesak dalam dadanya. Setelah kepergian Ayah, rasanya hanya tinggal mereka saja yang ada di dunia ini!

                                                       ***

Natal kali ini adalah Natal yang paling putih bagi Ananta. Dia kehilangan Ayah tercinta, lelaki yang paling punya makna bagi dirinya. Di gereja, Ananta mengikuti misa dengan khusyuk. Di sisinya tidak ada Banu.


Entah mengapa, setelah kepergian Ayah, tiba-tiba saja...ya, tiba-tiba saja Ananta jadi merasa ragu kembali kepada keputusannya untuk menerima cinta Banu.Rasa-rasanya, tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatinya, selain kasihnya yang paling besar bagi Ayah tercinta! ( just for my Pa, majalah femina No.Th? *lupa).  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar