Minggu, 19 Maret 2017

Kidung Natal

(Oleh Effi S Hidayat)

Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama. Suara mereka begitu bening. Kidung "Bahasa Cinta" yang bergema itu menyelusup ke sudut-sudut hati Inez.



Panggilan Oma menyentuh gendang telinga Inez. Gadis remaja itu tersentak, menyadari dirinya masih mematung di depan cermin. Lekas-lekas dia menghapus bening yang bergulir di pipinya. Ah, kenapa harus meneteskan airmata lagi? Mata tua Oma yang masih setajam mata Elang itu pasti tak dapat dikelabuinya.

Inez segera membedaki wajahnya tebal-tebal. Biarlah, asal Oma tak mengetahui bahwa dia habis menangis. Seulas senyum dipaksakannya muncul di muka cermin. Inez harus gembira. Ya, dia tidak boleh membuat Oma sedih. Inez tidak mau lagi memandang bayangannya yang memantul di kaca.

Oh, Tuhan, tabahkan hati anak-Mu ini. Inez sempat berdoa dalam hati sebelum keluar dari kamar, mendapati Oma yang sedang menantikannya. "Wah, cucu Oma cantik sekali! Sirkam mutiara itu serasi menghias rambutmu. Ayo, Inez, kita berangkat sekarang, gereja pasti sudah penuh sesak," Oma menyambut Inez dengan segudang pujian. Matanya gemerlap, memandang cucunya yang tampak begitu cantik dengan gaun Natal yang berwarna putih.

Hati Inez teriris mendengar ucapan Oma. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Sirkam mutiara yang disambarnya sembarangan dari meja toilet di kamarnya itu,'kan hadiah Natal dari Mama tahun lalu? Ah, kenapa Mama dan Papa tidak datang menjemputnya? Kenapa mereka tidak bisa bersama-sama lagi mengikuti misa kudus pada malam Natal ini?

Jangan bodoh, Inez! Bukankah kamu sendiri yang tidak mengharapkan kedatangan mereka? Bukankah kamu lebih merasa damai bersama Oma tercinta? Papa dan Mama sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa dengan isterinya yang baru. Dan, Mama dengan Oom Hang? Sudah sepantasnya kamu menolak kehadiran mereka, Inez!

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Inez. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan sesak dalam rongga dadanya. Dia tidak ingin ikut serta menyanyikan kidung Natal yang dahulu pernah begitu bahagia disenandungkannya. Ya, dahulu, ketika Inez masih bersama dengan Mama dan Papa.

Pikiran Inez terus mengembara, menjelajah pada suatu masa. Ketika itu, keluarganya masih utuh. Alangkah bahagianya. Tetapi kini, ke mana perginya saat-saat indah itu? Mama dan Papa tidak mencintai anaknya, keluh hati Inez kecewa. Seperti robot, dia lalu duduk, berdiri, dan berlutut di sisi Oma yang tampak khidmat mengikuti misa yang sedang berlangsung.

Inez tidak pernah mengerti mengapa  kedua orangtuanya harus berpisah. Mengapa mereka tidak bisa rukun kembali? Dan, waktu berlari begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir setahun Inez tinggal bersama Oma. Keputusan itu memang sudah bulat baginya. Lebih baik Inez tidak memilih. Toh, sama saja. Inez akan mendapatkan orangtua baru.

Ajaib rasanya. Inez tidak pernah tahu darimana Tante Ella dan Oom Hang muncul. Mereka datang begitu saja, mengambil Mama dan Papa dari dirinya. Itu sebabnya Inez selalu menghindari mereka. Dia tidak suka pada Tante Ella, terlebih kepada Oom Hang yang merebut perhatian Mama. Apakah Inez salah jika merasa tidak punya siapa-siapa lagi, selain Oma tercinta?

"Lihat, Inez! Anak perempuan yang berperan sebagai Bunda Maria itu Sisi, bukan? Hebat, dia sangat menjiwai perannya. Yang lain juga ; Edu, Rega...oh, rupanya mereka anak-anak dari Tri Asih," bisikan Oma menyadarkan Inez. Dia segera membelalakkan mata lebar-lebar ketika mendengar nama-nama yang dikenalnya.

Aha, Oma benar! Cerita Natal yang sedang dipentaskan di muka altar itu dimainkan oleh anak-anak Tri Asih. Sisi bermain bagus, padahal kedua bola matanya buta. Begitu pun Edu, Rega, Rio yang melangkah tertatih-tatih dengan tongkat penyangga kaki mereka.

Inez tersenyum haru. Dia teringat ketika kali pertama berkenalan. Anak-anak itu dengan penuh semangat menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya. Dan, Inez merasa bahagia sekali pada pesta ulang tahunnya yang ke 15. Sungguh istimewa hadiah yang diberikan Oma. Dan, Inez teringat kembali pada ucapan Sisi. Anak berusia 8 tahun itu dengan spontan tanpa malu-malu, memuji cake ultah yang dibagikan.

"Mbak senang, ya, punya Oma dan Mama - Papa yang baik hati. Nggak kayak mamanya Sisi yang entah sekarang berada di mana. Eh, Mbak Inez tahu tidak, kalau Sisi suka kangen sama Mama?" celotehnya polos sambil menjilati cokelat yang bertaburan di tangannya. Kelihatan nikmat sekali.

Inez tidak dapat menjawab pertanyaan Sisi sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Diam-diam dia hanya dapat menghapus sudut matanya yang basah. Sisi bilang dia sangat bahagia punya Oma dan orangtua yang baik hati. Ya, Mama dan Papa tidak melupakan ulang tahunnya. Tante Ella dan Oom Hang juga. Mereka penuh perhatian, semua berusaha membahagiakannya. Tetapi, oh, Inez benci!

Lakon Natal yang dimainkan di muka altar itu cerita lama. Kisah kelahiran bayi Yesus di kandang domba, bukti kesetiaan gadis yang bernama Maria... semuanya tidak ada yang berubah. Dan, mata Inez semakin berkaca-kaca ketika pada akhir cerita, Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama. Paduan suara mereka begitu bening. Kidung 'Bahasa Cinta' yang bergema itu menyelusup ke sudut-sudut hati inez.

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
agar kami dekat pada-Mu, ya, Tuhanku ....
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu
agar kami dekat pada-Mu....

Tanpa sadar perlahan-lahan Inez ikut bersenandung. Terasa mulai ada kesejukan yang merambati hatinya. Dia menegakkan kepalanya, berdiri di samping Oma dengan dada yang mulai terasa ringan. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, serta rela menderita....

Dan, Inez menerima hosti yang dibagikan pastor dengan kedamaian penuh. Dia mulai dapat merasakan keriangan yang bertebaran di sekelilingnya. Lihat, senyum anak kecil berpita biru itu manis sekali! Tengok senyum cerah kakek tua di seberang sana. Dan, dengarkan gelak tawa gadis-gadis yang sebaya dengan dia. Wah, tidak sepantasnya Inez bersedih di dalam suasana hangat, penuh cinta kasih seperti ini !

"Sisi, sandiwara dan lagu-lagunya bagus sekali!" Inez menyapa anak perempuan itu di depan pintu gereja. Misa baru saja selesai. Salam Natal sedang dibagikan di mana-mana.

"Oh, Mbak Inez! Selamat Natal, ya, Mbak. Selamat Natal Oma," Sisi terlonjak senang mengenali suara Inez dan Oma.

"Selamat Natal, Inez sayang...," ada suara lain menyapa Inez . Inez memutar kepalanya. Papa dan Mama berada di belakangnya, memandang puteri mereka sambil tersenyum.

Selalu ada Tante Ella dan Oom Hang! Inez memaki dirinya sendiri. Dia tidak dapat menghindari ketidaksenangan yang hadir tiba-tiba begitu melihat kedua orang tersebut. Menghalangi getaran kegembiraan yang sekejap dirasakannya begitu dia melihat Papa dan Mama.

"Selamat Natal, Mbak Inez. Senang deh, Edu jadi adiknya Mbak!" 
"Rega dan Sisi juga!" Edu, Rega, dan Sisi tiba-tiba berseru riang. Membuat Inez terpaku di tempatnya. Dia memandang mereka dengan seribu pertanyaan di kepalanya.

"Inez tidak keberatan, bukan? Anggap saja kado Natal dari kami," Mama menatap puterinya dengan lembut.

"Mereka menjadi anak asuh kami," Papa menjelaskan. "Jadi, mereka kini adik-adikmu...." Inez melihat Tante Ella dan Oom Hang mengangguk-anggukkan kepala.

Apakah telinga Inez tidak salah mendengar? Adik-adik asuh? Oh, Tuhan, apakah karunia yang Engkau berikan ini tidak terlalu banyak?

Tidak, Inez. Sepasang orangtua baru juga tidak terlampau banyak untukmu. Tiba-tiba Inez merasa Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaannya selama ini. Dia memalingkan wajah, menengok kepada Bunda Maria yang sedang tersenyum di kapel.

Dahulu, Maria didatangi malaikat dan dititipi pesan untuk melahirkan dan merawat seorang bayi mungil, padahal saat itu dia belum menikah. Tetapi, Maria menerimanya dengan tawakal dan tulus, karena ia demikian percaya kepada-Nya.

Mengapa Inez tidak mencontoh teladan Bunda Maria? Jalan Tuhan banyak macamnya, bukan? Orang-orang dewasa punya permasalahan tersendiri. Mungkin lebih baik Papa bersama Tante Ella. Dan, Mama menerima Oom Hang sebagai pengganti Papa? Daripada hampir setiap malam dahulu mereka selalu bertengkar di rumah?

Inez memandang Mama. Ia tahu, kekerasan hatinya merintangi Mama. Karena dirinya, Mama belum bisa memutuskan untuk menerima Oom Hang.

"Selamat Natal, Mama. Selamat Natal, Papa. Selamat Natal, Mama Ella dan... Papa Hang," salam Natal itu begitu saja meluncur dari bibir Inez. Dan, dia merasa beban di hatinya telah terangkat. Inez tidak peduli tatapan heran dari orang-orang tercinta di hadapannya. Direngkuhnya mereka satu per satu dengan mesra.

Ya, Tuhan, andaikan dia pahami bahasa semua? Agaknya hanya 'bahasa cinta'-lah kunci semua hati. Dam, kidung Natal itu terus bergema ke mana-mana. Menyelusupi hati tua Oma yang diam-diam menghapus bening di matanya dengan perasaan bahagia! (Gadis No.34, 25 Des - 4 Januari 1993).

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar