(Oleh Effi S Hidayat)
Perempuan itu mengenakan topi baseball dengan jaket tebal yang dipastikan membuat tubuhnya semakin montok. Tetapi, aku tak bisa melanjutkan kegeraman dalam hati, melihat senyumnya yang manis.
Sisa air hujan semalam menggenang di sana-sini. Aku berjingkat, mengangkat ujung celana pantalon hitamku. Namun sulit sekali menghindari percikan air yang sesekali meloncat nakal. Ha! Aku menghela napas panjang. Gegara bangun kesiangan pagi ini, aku tergesa panik memburu hari. Boro-boro sempat sarapan roti beroleskan cokelat margarin, menyeruput segelas susu pun tak ada waktu lagi.
Sabtu pagi, tepat pukul 05.30 aku harus bersegera di stasiun commuter line Serpong. Jika tak ingin ketinggalan kereta menuju Stasiun Tanah Abang, dan tiba di sana pukul enam. Matahari masih malu-malu muncul. Apa boleh buat, menjelang weekend aku harus tetap ngantor dan ...lembur! Akhir bulan begini, pekerjaanku sebagai 'tukang audit' justru lagi heboh-hebohnya. Belum lagi, pimpinanku yang super galak, Bu Restu, sudah wanti-wanti sebelum ia berangkat ke Aussie minggu lalu.
"Aku percaya kamu bisa menyelesaikan semua laporan sebelum aku pulang nanti ya, Zefa?" Ia menatap lekat di balik kacamata berbingkai persegi hitamnya, sembari menepuk keras bahuku seolah memberikan kekuatan. "Aku pasti tidak akan lupa membawakan oleh-oleh, selembar kaus Hard Rock Cafe untuk menambah koleksimu."
Tanpa iming-iming aku siap mengerjakan tugas, kok, kataku dalam hati. Reaksiku dingin tanpa menunjukkan emosi. Bukannya apa-apa. Aku hanya ingin tahu apa kata rekanku yang lain, terutama Tani, dan, ehm, Si 'mata belok', Dhara. Anak akunting yang baru masuk di divisiku itu memang sedikit eksibisionis mengekspos seluruh keterampilan kerja termasuk kemampuan otaknya, yang katanya sih, menurut pengakuannya sendiri di atas rata-rata orang biasa.
Aih, entah mengapa ia begitu percaya diri? Bertolak-belakang sekali dengan diriku, yang sama sekali tak pandai berkata-kata, apalagi bernegosiasi. Termasuk dalam hal menerima pekerjaan di akhir pekan seperti kali ini. "Ya, sudahlah, Zefa. Terima saja takdirmu. Lagipula tak ada ruginya,'kan? Malah lumayan menghabiskan waktu di kantor. Daripada bengong sendirian tidak punya gawean?" Tani menimpali. Lalu, sembari tersenyum culas, dia memeluk seolah-olah menyemangatiku.
"Oh, Zefa belum menikah? Aku pikir, kau sudah punya seorang puteri! Rupanya pacarnya pun tak ada? Kasihan sekali! Maukah kuperkenalkan...hmm, coba kubayangkan dulu tipikal pria yang serasi untuk dirimu...," mata Dhara semakin lebar saja saat berkedip-kedip seperti itu. Mirip benar mata Si burung hantu! Betapa aku membenci olok-olok mereka semua terhadapku. Tetapi, apalah dayaku?
Aku tak pernah punya kemampuan verbal di atas rata-rata untuk membalas semua perlakuan itu. Bukankah Bu Restu telah berulangkali menasihati agar aku lebih tegas sehingga tak mudah disepelekan orang? Mengapa aku tak pernah bisa? Kali ini aku berhasil melompati sebuah 'danau', tepatnya genangan air yang lumayan dalam di lubang jalan. Kira-kira selemparan batu jaraknya dari antrean loket.
Beruntung di depanku hanya ada dua orang bapak, sehingga tak perlu lama menunggu. Namun apa boleh buat, saldo kartu flazz-ku tak mencukupi untuk segera menerobos masuk. Harus diisi ulang. Upss, aku mengeluh membayangkan serangkaian proses ; enter, enter, bla, bla... sementara jarum di pergelangan tanganku terus saja berlari mendekati jam setengah enam. Ah, aku tak mau mengambil risiko ketinggalan kereta!
Akhirnya aku memutuskan untuk membeli saja karcis biasa. Aku menyodorkan uang dua puluh ribu, dan segera menerima kembaliannya delapan ribu. Lumayan murah meriah, dua ribu perak sekali jalan, dengan uang jaminan sepuluh ribu rupiah saja, yang bisa diambil kembali jika tidak digunakan.Aku menggenggam karcis yang diberikan petugas loket, segera bergegas masuk ke stasiun, dan menjulurkan leher ke arah kiri. Menantikan gerbong-gerbong commuter line itu meluncur, dan berhenti di depanku.
Hanya sekitar delapan menit menunggu, yang kunantikan segera datang. Dan, aku menghela napas lega karena Sabtu pagi begini, kursi-kursi masih banyak yang kosong. Sebenarnya baru dua, eh, tiga kali tepatnya aku menggunakan jasa angkutan commuter line. Biasanya aku memilih feeder menuju kantor. Tak harus terburu-buru sepagi ini pergi ke stasiun tanpa sempat sarapan. Dengan menumpang feeder aku merasa lebih leluasa dan bisa menikmati sedikit lebih panjang waktu tidurku.
Hmm, tiba-tiba aku mengernyitkan dahi. Sedikit ngedumel dalam hati karena harus menggeser bokong, berbagi tempat duduk dengan seorang perempuan berbadan besar yang jelas-jelas menghabiskan sisa tempat duduk di sampingku. Perempuan itu mengenakan topi baseball dengan jaket tebal yang dipastikan membuat tubuhnya semakin montok. Tetapi, aku tak bisa melanjutkan kegeraman dalam hati, melihat senyumnya yang manis. Apalagi dia juga menyapaku dengan ramah," Adik mau berangkat ke kantor?"
Enggan berbasa-basi, aku hanya mengangguk. Masih sempat kudengar celetukannya yang riang spontan, meminta bantuan pada seorang remaja putera untuk mengangkatkan barang bawaannya yang tampaknya cukup berat, untuk diletakkan di atas ring, tempat meletakkan barang di atas tempat duduk kami. Dan, tentu saja anak berseragam SMA itu tak dapat menolak. Betapapun, Si perempuan berbodi besar ini meminta bantuan dengan suara ramah. Dan, ia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang memikat.
"Maaf ya, Dik. Gembolan Mbak lumayan berat. Maklumlah harus berjualan pagi-pagi demi membeli susu dan pampers anak," dia tersenyum lagi, sembari matanya lekat memandangku. Aku batal memejamkan mata. Perhatianku segera tersedot kepada plastik merah menyala bawaannya yang tadi... apa, dikatakannya sebagai "gembolan"? Mau tak mau sedikit lekuk tipis tersungging di bibirku. Istilah katanya menarik! Kupikir, tak ada salahnya menyambut 'curhatan'-nya.
"Memangnya...jualan apa, Mbak?" Kupanggil saja dia "Mbak". Tokh, menilik dari usianya dia belum begitu tua.
"Oh, itu?" katanya menunjuk Si gembolan besaaaar berplastik merah. "Isinya risoles, sebanyak 200 biji, untuk dijual di Jembatan Metro Pasar Baru. Lumayan, kalau udara dingin laris manis. Pukul 11.00 siang sudah habis terjual. Mbak biasa membelinya di Pasar Ciputat pukul satu dinihari tadi," ceritanya nyerocos.
Aku terperangah. Apakah ia tidak tidur lagi sedari pukul satu malam? Dan, seolah mengerti apa yang kupikirkan, dia mengangguk. "Ya, setiap hari harus mulai berbelanja jam segitu. Kalau tidak, bisa keduluan yang lain...nggak dapat apa-apa. Sekalian tadi belanja ikan lele segar untuk lauk makan siang di rumah. Masak dulu untuk anak-anak dan bapaknya, baru jam segini naik kereta untuk berjualan," senyumnya mengembang lebar.
Sama sekali tak ada kepenatan di wajahnya. Kutoleh lagi dengan lirikan mata yang lebih kritis, mencoba 'menembus' apa saja jualan yang ada di dalam plastik merah bawaannya. Seolah mengerti, Si Mbak yang kemudian memperkenalkan namanya "Sumi" itu, menjelaskan bahwa semua isinya risoles. "Ini barang langka karena tak ada yang menjual risoles di situ. Sebelum jualan, saya sudah ngecek. Yang membeli juga bos-bos, sekali beli 10, 15, paling sedikit 5...."
"Mungkin karena harganya lumayan terjangkau ,ya? Saya membeli 'putus' di pasar harganya Rp 2500,00 dan menjualnya Rp 3000,00 saja. Ambil untung cuma 500 perak per potong, nggak berani banyak-banyak, takut dosa...." Ha, dosa? Hampir saja aku tersedak mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya. Kalau saja kepala Mbak Sumi tidak mengangguk mantap, kupikir mungkin saja aku salah dengar.
Sembari menunjuk kalung salib yang kukenakan, dia tertawa. "Adik kalau pergi misa ke gereja mana? Walaupun jauh dari rumah, saya selalu menyempatkan diri untuk misa pagi pukul enam di Gereja St Monika. Lumayan, masih ada waktu 'pamitan' sama Tuhan, agar senantiasa menjaga keluarga dan memberikan sedikit rezeki, melindungi saya, sebelum mengejar kereta dalam perjalanan." Mbak Sumi lalu menjelaskan lebih rinci, katanya ia kerap mengikuti misa Jumat pertama, dan misa di Hari Sabtu atau Minggu. Sehingga pada hari-hari tertentu itu, biasanya waktu bekerja mengangkut jualannya akan lebih siangan, selepas misa.
Duh, aku terpana. Dan, membisu tak mampu berkata-kata. Mendengarkan Mbak Sumi kembali berceloteh tentang pekerjaannya. Tampaknya ia enjoy saja menikmati betul hidup dan pekerjaan yang dilakoninya sepenuh hati. Walaupun jika cuaca sedang panas, jenis jualan yang dibawanya menjadi lebih berat. Maklum harus menggotong botol-botol minuman seperti teh atau air mineral.
Ya, Mbak Sumi berjualan seturut musim. Jika hujan, ia memilih berjualan risoles hangat, sedangkan sebaliknya jika cuaca panas, minuman-lah yang ditawarkannya kepada pelanggan. Sungguh sebuah kerja yang smart, aku memuji dalam hati. Semangat dan binar-binar di mata Mbak Sumi menyentuh kalbuku. Mengaduk-aduk hati dan menceraiberaikan segenap keluh-kesah yang kualami sedari pagi.
Mbak Sumi sosok seorang ibu yang berjuang demi membeli susu untuk anaknya. Dan, tak lupa senantiasa menikmati pekerjaan, serta bersyukur kepada Tuhan. Oh, bagaimana dengan diriku? Aku menunduk malu, menatap sepatu cokelat-ku yang pagi ini terlihat semakin cokelat saja terkena percikan air hujan dan sedikit sisa tanah yang menggumpal di ujungnya.
Tanpa sadar jemariku meraih leontin salib pemberian almarhumah ibuku yang tergantung di leher. Sudah berapa lama aku tak menyapa-Mu, Bapa? Aku melenguh mirip anak sapi yang ingin menetek susu ibunya, mengusap leontin itu semakin merasa malu. Baru saja aku mengumpat jengkel tentang beban pekerjaan di kala weekend.
Bukankah seharusnya aku bersyukur karena Bu Restu, pimpinan di kantorku itu begitu memercayaiku? Bahkan ia juga berbaik hati mau mengingatkan aku untuk lebih responsif dalam bersikap, dan selalu perhatian mengingat hobiku mengoleksi kaus Hard Rock Cafe? Ke manapun Bu Restu bepergian, selalu tidak pernah lupa membelikannya satu untukku sehingga aku punya koleksi kaus yang lumayan lengkap.
Dan, teman-temanku... termasuk Si 'mata burung hantu', anak baru yang katanya ingin mengenalkan aku dengan seorang pria itu, hmm, jika mereka 'berkicau' bukankah itu pertanda mereka pun prihatin akan kejombloan-ku? Mungkin aku harus meniru Mbak Sumi! Aku harus mengubah sudut pandang yang selalu saja negatif, berkeluh-kesah tentang hidupku... padahal, di dunia ini bukan aku seorang saja yang punya masalah.
Aku memang belum punya pacar, walaupun usiaku sudah tiga puluh enam, lalu... apakah itu berarti merupakan sebuah masalah besar sehingga aku tidak bisa lagi menikmati hidupku? Tokh, aku masih memiliki pekerjaan yang menjamin. Aku juga punya seorang pimpinan yang sudah serupa ibuku sendiri, dan teman-teman yang perhatian... termasuk, bukankah aku juga senantiasa punya Dia, Bapaku di Surga yang tidak akan pernah meninggalkan aku sendirian?
Tatakala pikiranku mengembara melayang-layang tak tentu arah, tiba-tiba aku disentakkan suara ceria di sampingku. Mbak Sumi sibuk menjawil bahuku dan mendongakkan kepalanya, memandang ke luar jendela kereta yang melaju. "Lihat, Dik! Hujan! Hujan lagi! Dingin... tapi bagus,'kan, ya? Semoga rezeki lancar hari ini, risoles dagangan Mbak laris-manis,'kan enak disantap hangat-hangat di udara dingin seperti ini?" matanya yang bulat besar mengerjap-ngerjap.
Ada kenakalan seorang anak, ketakjuban seorang anak di sana! Melihat curahan air hujan turun dari langit yang tampaknya biasa saja ia sudah segitu senangnya! Ah, itulah yang telah hilang di dalam diriku. Kesibukan bekerja, kesibukan mengeluhkan diri karena cemas belum juga memiliki pendamping telah mengubahku menjadi robot yang tak pernah menikmati hidup dan bersyukur kepada-Nya lagi.
Perlahan aku merasakan senyum samar muncul di bibir, sembari menatap rintik-rintik hujan di luar kaca commuter line yang terus melaju. Dulu, ketika masih kanak-kanak, aku senang sekali berlarian di tengah hujan. Meliuk-liukkan tubuh mengikuti arah angin, sembari mencari kembang rumput liar ke sana ke mari, menaiki sepedaku dengan baju separuh basah....
Tiba-tiba hatiku terasa hangat. Menari di tengah hujan! Aku masih mampu melakukan hal itu, walaupun usiaku sudah kepala tiga! Ya, ya, mengapa tidak? Kali ini, aku balas menepuk bahu perempuan gemuk di sisiku, lalu dengan lembut pelan,"Terima kasih ya, Mbak Sumi. Semoga Mbak selalu sehat dan diberikan rezeki oleh Sang Khalik."
Entah dia paham atau tidak mengapa aku berterima kasih kepadanya, karena dalam sekejap ia sudah bangkit berdiri, dan sigap membantu sepasang kakek nenek yang bersiap turun di Stasiun Kebayoran yang kami lewati. Seorang kakek tuna netra didampingi oleh isterinya yang sudah sama-sama sepuh, menggunakan tongkat, berpakaian sederhana... tapi mereka juga senantiasa bersemangat menjemput rezeki setiap pagi.
Aku melihat Mbak Sumi melambaikan tangannya yang gempal kepada Si nenek," Hati-hati ya, Nek! Hati-hati...." Nada suaranya riang gembira mengantar langkah mereka menuruni peron. Lagi-lagi Mbak Sumi memberikan aku sebuah pelajaran bermakna. Bagaimana ia memerlakukan sesamanya tanpa pilih kasih. Bagaimana ia dengan tulus dan spontan mengulurkan tangan tanpa diminta. Sungguh ia telah memberikan dirinya sepenuh kasih putih di dadanya....
Ketika di Stasiun Tanah Abang kami berpisah, dan tumbuh Mbak Sumi serta gembolan merahnya yang sama 'gemuk' lenyap di antara kerumunan orang, entah mengapa... aku masih saja berdiri tergugu. Hingga tetes air satu-satu tersisa dari langit jatuh menimpa kening.
Kali ini langkahku kembali berayun. Namun jejak kakiku terasa lebih ringan. Tanpa lagi peduli harus berjingkat-jingkat, sibuk mengangkat ujung celana pantalon hitamku yang terpercik-percik rinai hujan yang semakin terasa. Aku ingin menari di tengah hujan! (Komunika 04/XVI, Juli-Agustus 2016).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar