(Oleh Effi S Hidayat)
Ais menepis rasa kagum yang selalu muncul di hatinya , yang ada lagi-lagi sekarang perasaan jengkel.
Ais tidak tahu sejak kapan ia mulai sebel sama yang namanya Babe, eh, Pak Ismail. Ya, mungkin sejak teman-teman sekolahnya alias anak-anak iseng yang pernah main ke rumahnya itu memanggil Pak Ismail dengan nama : Babe.
Entahlah, yang pasti Ais jadi nggak suka melihat bapak tua tukang kebunnya itu. Ada-ada saja yang bikin Ais mau marah. Kemarin, seenaknya aja dia memangkas daun suji Mama! "Habis, sudah terlalu banyak, Non. Nggak serasi sama bunga-bunga lainnya," begitu alasannya.
Uhh, sok tau! Ais cuma bisa cemberut sambil menghentakkan kakinya. Tanpa kata lagi dia meninggalkan Babe yang terheran-heran mendapati nona mudanya yang akhir-akhir ini sering naik pitam tanpa alasan jelas.
Ihh, kenapa sih, gue ikut-ikutan manggil "Babe"? Ais memaki dirinya yang ketularan penyakit teman-temannya.Mulanya, dia cuma ketawa aja mendengar Rio memproklamirkan nama kebesaran itu. Habis lucu juga,'kan kedengarannya...Babe, Babe. Kayaknya akrab banget!
"Bukan cuma kedengaran akrab di telinga. Tetapi gue memang punya alasan khusus menghadiahkan Pak Ismail dengan nama itu. Nih, dengerin, ya. Bla, bla, bla...., "Rio terus nyerocos mengemukakan alasannya. Menurut anak yang cita-citanya menjadi penyair sekaliber Kahlil Gibran itu, Pak Ismail sebenarnya punya tampang babe-babe.
"Malah kalau dilihat dari tampak samping, profilnya mirip banget sama Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim. Coba deh, kalau didandani pakai dasi, jas, wah...babenya Si Ais aja kalah jauh!" Rio memperkuat argumentasinya. Dengan berani mati dia melontarkan kalimat terakhirnya sembari nyengir kuda ke arah Ais yang entah kenapa mendadak jadi kehilangan senyum.
"Iya,ya, Si Babe waktu mudanya dulu pasti ganteng. Sayang juga ya, Ais, kamu lahir bukan di zamannya. Kalau tidak, bisa jadi cerita romantis banget. Bayangkan, nona majikan yang punya love story sama tukang kebunnya sendiri. Wuih!" Iin yang punya bakat menjadi cerpenis menambahkan.
"Yak, mufakat tercapai,'kan? Kita panggil aja Pak Ismail "Babe". Dia juga pasti nggak keberatan. Okay?"
"Siip-lah,ya!" anak-anak lain menyambut dengan koor. Begitu memang kisahnya. Tahu kenapa acara ngumpul untuk membahas Matematika itu jadi acara rujakan di kebun sambil ngerumpiin Pak Ismail yang ternyata memang tak keberatan dipanggil Babe.
Malah tampaknya dia senang banget dengan nama barunya itu. Habis, keren, sih. Papa Ais aja kalah jauh! Ais cemberut mengingat kata-kata Rio. Dia memandang foto papanya dengan saksama. Yang tampak di depan matanya adalah sosok pria berkulit hitam legam dengan hidung besar.
"Itu hidung rezeki, Ais," kata Mama sembari tertawa menyambut komentar Ais waktu itu. Masalahnya, pada suatu hari ketika Ais bercermin, dia mendapati bentuk hidung yang sama di wajahnya. Juga warna kulit yang sama di tubuhnya.Juga rambut yang sangat tipis dan halus di kepalanya. Uff, semua itu tentu diturunkan Papa kepadanya.
"Benar-benar anak papa'', begitu komentar teman-temannya yang telah bertemu dengan ayahnya. "Ya, mosok sih, anak tetangga?" Ais masih menimpali dengan senyum, komentar dari temannya. Walaupun, uh, hormon adrenalin yang mengatur sense of humour di otaknya benar-benar jadi tidak berfungsi ketika didengarnya kalimat Rio yang mengatakan,'Papa Ais kalah jauh dengan Babe, eh, Pak Ismail!'
**
Hup, hup! Pagi itu Ais sengaja melompati rumput di halaman yang sudah tertata rapi itu dengan sepatu kets Nike-nya yang berlumpur tanah. Dia juga tidak lupa mengajak Timmy, anjing kesayangannya, yang tentu saja tidak menolak diajak berlarian mengejar bola.
"Hus, Timmy! Hus, ayo pergi!" didengarnya hardikan jengkel Pak Ismail (ya, Ais sudah bertekad untuk tidak memanggilnya "Babe" lagi. Kebagusan banget, sih?)
"Timmy ke mari!" suara Ais melengking, membuat burung-burung yang hinggap di pohon jambu ngibrit ketakutan. Dan, anjing gembala berbulu putih cokelat muda itu tidak menunggu dua kali untuk menghampiri nonanya.
"Maaf, Non Ais, Si Timmy nakal, nih. Terpaksa Bapak menyentil telinganya tadi," Pak Ismail muncul dengan senyum di wajahnya. Bapak tua yang sudah berusia hampir 60 tahun itu kelihatan segar. Sebagian rambutnya yang memutih tampak berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.
Ais menepiskan rasa kagum yang selalu muncul di hatinya jikalau ia memperhatikan sosok lelaki tua di hadapannya. Yang ada sekarang lagi-lagi perasaan jengkel. Dia sudah siap melontarkan 'mitraliur'-nya, ketika Pak Ismail tiba-tiba menyodorkan dua tangkai mawar merah muda kepadanya.
"Hari ini ulang tahun Non Ais,'kan? Selamat ulang tahun, ya, Non. Semoga panjang umur. Bapak tidak bisa kasih apa-apa, cuma bunga-bunga ini saja untuk penghias meja belajar. Tadinya sih, ada tiga tangkai. Tetapi sayang, Si Timmy nakal . Bolanya nyeruduk mawar yang satu lagi," ada nada menyesal dalam getaran suara bapak tua itu.
Oh! Ais memandang dua tangkai mawar di tangannya dengan sejuta perasaan yang dia tidak tahu maknanya. Dia benar-benar lupa kalau Minggu pagi di pertengahan November ini adalah hari ulang tahunnya! "Te-terima kasih, Babe...", Ais terbata-bata menjawab, menyembunyikan keharuan yang tiba-tiba datang menyeruak. Dengan hati lapang dia menyalahi janjinya untuk tidak memanggil nama Babe lagi. Habis, sebutan itu memang pas untuk bapak tua yang baik hati itu.
"Ah, cuma bunga, kok, Non Ais," Babe nampak tersipu. Dia kelihatan senang sekali hadiahnya diterima oleh Ais tanpa omelan seperti biasanya.
Ya, memang cuma bunga. Babe juga cuma tukang kebun biasa. Biar papanya Ais yang direktur itu kalah keren, tetapi Babe yang gantengnya mirip Menteri KLH Emil Salim dan urusannya juga nggak jauh-jauh dari masalah lingkungan hidup itu, cuma seorang tukang kebun biasa.
Ada kesadaran khusyuk menyelinap di hati Ais. Soal nasib dan penampilan seseorang, siapa yang tahu? Apalagi kalau sampai dicemburui! Aduh, memalukan sekali sikap Ais selama ini. Babe dan papanya tidak tahu apa-apa. Timmy juga tidak tahu apa-apa....
Ais kembali memandang mawar-mawar pemberian Babe. Aha! Tiba-tiba, dia merasa belajar tentang satu hal lagi : ketulusan! (Percikan Gadis No.? *lupa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar