(Oleh Effi S Hidayat)
Dari balik jendela bus, saya masih sempat melihat dara berkaus merah menyala berdiri termangu. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Benar saja, seorang lelaki berkumis menghampirinya.
Sudah hampir pukul tujuh, namun matahari di ufuk timur masih sembunyi di peraduannya. Tidak seperti biasanya, desir angin yang menerpa tubuh, Minggu pagi ini terasa dingin. Mungkin karena hujan yang turun deras semalam.
Saya berjalan dengan santai sambil menyembunyikan kedua belah tangan saya di balik saku jaket.Genangan air masih tersisa di sana-sini. Tiba-tiba, eit! Dengan gesit saya menepi, merapat ke sisi jembatan penyeberangan yang sedang saya daki, menghindari percikan air yang melompat dari ujung sepatu kets Nike milik seorang cowok yang sedang berjalan tergesa.
Cowok berkacamata bulat dengan t.shirt biru dan jins belel itu mengepit map kulit yang berwarna cokelat, berisi buku-buku tebal. Mungkin dia salah satu dari mahasiswa Trisakti, tebak saya dalam hati. Rajin sekali ida, hari Minggu masih pergi ke kampus. Pasti ada kegiatan tambahan. Saya menahan senyum melihat rambutnya yang disisir a la Mafiaso. Licin berkilat. Hmm, lalat-lalat tentu tergelincir di atasnya.
Secara spontan saya menengok ke belakang, istana mahasiswa-mahasiswa berkantong tebal itu tampak adem-ayem. Pos jaga yang terletak di samping kiri pintu gerbang kelihatan senyap. Baru satu-dua mobil yang parkir di halaman. Kegiatan hanya terlihat di depan gerbang kampus.
Ada penjual kupat tahu. Ada gerobak dorong penjual ketoprak. Dan, penjual majalah yang biasa mangkal di trotoar di depan kampus sedang sibuk menggelar dagangannya. Aneka ragam surat kabar dan majalah bersampul seronok saling berlomba menggaet minat para pejalan kaki di trotoar, termasuk cowok berkacamata bulat itu.
Saya melihat ia menyambar sebuah majalah dan membayarnya, sebelum akhirnya melangkahkan kaki, memasuki kampus. Ternyata dugaan saya benar, ia seorang mahasiswa Trisakti. Saya mengalihkan pandangan, lurus ke depan. Terminal bus Grogol sudah mulai ramai seperti biasanya. Dari atas jembatan penyeberangan, saya mendapati pemandangan strategis.
Armada metromini berwarna oranye sudah ngetem di ujung kanan terdepan arena terminal, tepatnya dekat dua buah boks telepon umum yang satu-nya sudah terisi. Seorang dara berkaos merah menyala tampak asyik menelepon, sementara boks telepon lainnya masih kosong melompong. Pintunya tampak terbuka, menantikan seseorang menyuapkan sarapan paginya, koin logam lima puluh rupiah.
Jembatan kecil yang berada di belakang boks telepon umum, di mana biasanya abang tukang becak berkumpul, tampak lengang. Kendaraan roda tiga itu benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Pangkalan becak di ujung kanan terminal Grogol itu kini ditempati oleh mikrolet-mikrolet berwarna biru muda, jurusan Grogol-Benhil-Sudirman.
Sementara itu bus-bus lain mulai berdatangan. Bus Patas, bus tingkat, kopaja, saling berlomba merebut penumpang yang mulai menyemut di terminal. Saya mempercepat langkah, menuruni anak tangga, memasuki terminal. Dan, segera memburu bus tingkat 204 jurusan Kalideras-Grogol-Kota. Pagi ini, saya berniat mengikuti misa di gereja Bunda Hati Kudus di Jl. Hasyim Ashari.
Lebih baik aku
mati di tanganmu
daripada aku mati bunuh diri
-----------------------------
Bunuhlah aku
dengan cintamu....
Di dekat penjual tahu goreng, dua orang anak berpakaian kumal, tanpa alas kaki, menyanyi diiringi musik krecekan terbuat dari kaleng bekas yang dihiasi tutup botol di sekelilingnya. Menimbulkan suara gemerincing yang nyaring, terasa membelah suasana pagi.
Kedua anak itu bersemangat sekali menggoyangkan tubuh mereka yang kurus kerempeng. Cu-ru-cu-cuap-curucucuap....suara mereka masih jelas terdengar sebelum keduanya meloncat masuk ke dalam bus Patas 6 jurusan Cililitan yang siap melesat meninggalkan terminal.
Saya melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiri saya. Sudah pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Jumlah penumpang yang ada baru belasan orang. Pantas saja jika sopir bus yang saya tumpangi kembali membanting setirnya mengitari arena terminal.
"Uh... belum berangkat-berangkat juga,"saya dengar ibu berkerudung yang duduk di samping saya mengeluh sambil menguap panjang. Dari balik jendela bus, saya masih sempat melihat dara berkaos merah menyala yang tadi menelepon sedang berdiri termangu di dekat boks telepon umum.
Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, seperti mencari seseorang. Benar saja, seorang cowok berkumis tampak menghampiri. Tak lama kemudian kedua sejoli itu sudah bergandengan tangan, naik ke sebuah metromini jurusan Tanah Abang.
Saya tersenyum. Wah, rupanya terminal merupakan tempat memadu janji yang asyik juga! Di dekat pagar terminal nongkrong para pemuda bertampang sangar. Tiba-tiba seorang dari mereka yang berjambang lebat berlari ke tengah-tengah terminal.
Saya sudah akan menutup wajah saya, ngeri melihat baku hantam yang akan terjadi. Eh, namun rupanya saya salah sangka! Pemuda itu menolong seorang nenek tua yang sedang menyeberang ke tengah terminal dengan susah payah.
Pakaian lusuh dan wajah sangar pemuda berjambang lebat itu sungguh kontras dengan perbuatannya, bisik saya terharu dalam hati. Bergegas ia menyeberangi terminal sambil menggandeng Si nenek tua, dan membantunya naik ke atas kopaja 94.
Saya tersentak. Bus yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Uff... saya mengurut dada perlahan. Sopir bus seringkali seenaknya saja menyetir mobilnya. Menyelip sana-sini, mengangkut dan menurunkan penumpang tanpa peduli jantung penumpangnya yang mpot-mpotan serasa copot.Yang penting, setoran harus terpenuhi.
Pukul dua belas siang tengah hari, saya sudah berada di terminal Grogol lagi.Hhhh. Saya memalingkan wajah, risih melihat seorang sopir bus yang seenaknya buang air kecil di dekat dinding pojokan pom bensin. Padahal, WC umum hanya berjarak lima langkah dari tempatnya berada.
Kali ini saya berdiri dekat penjaja bermacam penganan kecil. Eh, bukankah itu mahasiswa Trisakti yang saya lihat pagi tadi? Ia sedang berjalan keluar dari terminal. Seorang cewek berambut cepak menjejeri langkahnya. Mereka berdua tampak tertawa riang.
Ah, rasanya menyenangkan sekali. Tugas mahasiswa hanyalah belajar dan 'jalan-jalan'. Menjadi mahasiswa paling-paling dipusingkan urusan ujian dan, ehm, pacaran. Oww, dua tahun lagi saya harus seperti mereka, tekad saya dalam hati. Tetapi, tentu beaya masuk ke perguruan tinggi akan semakin mahal. Mampu tidak, ya, Bapak membiayai saya? Sebentar lagi,'kan bapak saya yang bekerja sebagai staf peneliti akan pensiun dari tugasnya?
Seorang dara berbaju merah melintas di depan saya, dara yang nge-date di terminal! Si cowok berkumis masih setia menjejeri langkahnya. Tetapi, kali ini sepertinya Si dara sedang merajuk. Amboi, lihat dia menepiskan rangkulan cowoknya. Hidup masa pacaran! Saya bersorak dalam hati. Coba kalau dia sudah menikah nanti, apa Si cowok masih sesabar itu membujuknya setengah mati?
Hup! Buru-buru saya melompat naik ke atas bus 70. Siang ini, saya berencana 'cuci mata', ah, ke Blok M. Di dalam bus, saya terperangah. Kencrang-kencring dua orang bocah penngamen menyambut saya. Lagunya masih saja sama, "Bunuhlah aku dengan cintamuuuu...." Suara bocah gundul yang lengannya penuh bekas koreng itu fals.
Saya tersenyum sambil mencemplungkan sebuah logam ratusan ke dalam kertas wadah permen 'Vicks' yang disodorkan teman Si gundul. Anak sekecil ini sudah harus mencari nafkah, getun saya dalam hati sembari melirik anak yang srat-srut menarik dan mengulur 'angka sebelas' yang naik turun di bawah hidungnya yang sebulat jambu mete. Sementara bus 70 masih terus melaju....
Wah, capek juga! Saya menjinjing tas plastik belanjaan saya masuk ke terminal. Sudah hampir pukul enam sore. Hasil buruan saya hari ini lumayan juga. Barang keperluan sehari-hari pesanan ibu saya untuk sebulan penuh sudah lengkap terbeli. Minyak goreng, sabun colek, sabun mandi, odol, shampoo, termasuk komik bergambar Asterix -- pesanan khusus keponakan saya.
Uff, saya hampir bertabrakan dengan seorang pemuda. "Maaf, saya tidak sengaja," kata pemuda itu dengan sopan. Saya memandangnya. Ah, Si jambang lebat yang baik hati! Saya tersenyum. "Tidak apa-apa. Saya yang terburu-buru," saya menjawab dengan manis. Kali ini saya melihat seorang ibu yang kerepotan menggendong anak sedang dituntunnya untuk naik ke kopaja 94.
Kok, selalu kendaraan yang sama? Saya terbahak ketika melihat sang pemuda menerima lembaran ratusan dari kenek kopaja. Oh, rupanya dia sedang 'bertugas'? Jadi, ke mana perginya sang pemuda berhati emas dalam bayangan saya?
Mendung menggantung di langit Jakarta. Suasana di terminal Grogol mulai temaram, tetapi kesibukan belum juga berhenti. Malah tampaknya semakin seru. Teriakan, bentakan, dan umpatan mampir di telinga saya. Mendadak kuping saya merah mendengar lontaran kasar yang sempat lewat.
Seorang bapak berkopiah hitam dengan bawaannya yang 'segudang' tampak marah. Tangannya ditarik-tarik oleh calo bus. Dua orang dara manis juga mengalami kerepotan yang sama. Bahkan, aduh, kurang ajar sekali! Seorang pemuda berambut kribo, entah darimana datangnya tiba-tiba mencolek bokong Si gadis!
Bus yang saya tunggu belum datang juga. Saya beringsut ke sisi gerobak penjual teh botol. Ada seorang pria dan seorang wanita yang sedang melepaskan dahaga. Mungkin sepasang suami isteri, tebak saya ketika melihat perut sang wanita yang membuncit besar.
Lebih aman berdiri di dekat mereka, kata hati saya merasa mendapatkan teman. Hingar bingar suasana di terminal dan tangan saya yang mulai pegal karena jinjingan tas plastik belanjaan, membuat saya gelisah. Dan, saya tak mau menunggu lebih lama lagi, ketika melihat bus yang saya tunggu datang, saya segera melompat naik dengan gesitnya.
Ya, hidup di kota sebesar Jakarta memang harus gesit. Senin pagi ini, saya sudah harus 'main sikut-sikutan' lagi untuk naik ke dalam bus, menuju ke sekolah. Boks telepon umum tentu sudah kenyang mengunyah sarapannya. Banyak orang yang gemar menelepon pagi-pagi, termasuk saya. Mumpung yang ditelepon belum pergi ke mana-mana, itu alasan saya kalau menelepon di pagi hari.
Di jembatan penyeberangan, saya bertemu lagi dengan Si mahasiswa. Kali ini gaya rambutnya berbeda. Ah, dasar anak muda zaman sekarang keranjingan mode.Saya tak dapat mengusir rasa geli di hati melihat jambulnya yang unik.
Bak-bik-buk baku hantam yang terjadi tiba-tiba merusak keindahan pagi. Si kribo kurang ajar yang saya lihat kemarin sore sedang digebuki orang. Tak lama, seorang polisi sudah menggiringnya masuk ke pos polisi yang letaknya berseberangan dengan pom bensin dan terminal.
"Rasain! Pagi-pagi sudah mencopet, sih!" gerutu bapak yang duduk di samping saya. Masih belum puas, Si bapak lalu menceritakan keganasan penodong-penodong yang biasa beraksi dekat terminal. "Saya pernah melihat seorang mahasiswa 'dicelurit' di dalam bajaj! Waktu lampu merah berhenti, mereka bebas beroperasi sekali pun tepat di seberangnya terdapat pos polisi," katanya bersemangat.
Saya menoleh ke luar jendela. Patas 6 yang saya tumpangi berjalan perlahan-lahan laksana keong. Ini 'penyakit menahun' bus kota yang kekurangan penumpang. Saya merapatkan wajah lebih dekat lagi ke kaca jendela. Tiba-tiba saja saya ingin mendengar lagu dangdut yang dikumandangkan kedua orang bocah pengamen itu lagi.
Ah, ke mana mereka pagi ini? Tak terdengar musik krecekan mereka yang mulai akrab di telinga saya. Tak sadar saya bersenandung," Lebih baik aku mati di tanganmu, daripada aku mati bunuh diri... Bunuhlah aku dengan cintamuuu...."
Saya tak peduli dengan senyum yang menyembul di bibir bapak tua di sisi saya. Saya tak peduli lagu dangdut yang saya dendangkan di-cap 'kampungan'. Tiba-tiba saja saya kangen kepada dua bocah pengamen itu. Mereka sudah mengajarkan kepada saya lagu dangdut, yang sebelumnya tak pernah saya pedulikan. Rupanya, keakraban itu bisa terjalin kapan saja dan di mana saja, ya?
Tiba-tiba saja, sungguh, saya ingin sekali menulis cerpen tentang denyut nadi kehidupan dari sebuah terminal. Ada tersimpan sejuta kisah di dalamnya. Cinta, kekerasan, perjuangan hidup. Ya, bukankah hidup manusia itu sendiri bagaikan sebuah terminal, sekadar persinggahan manusia-manusia yang datang dan pergi. Datang dan pergi? (Gadis No.7, 9-18 Maret 1993).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar