(Oleh Effi S Hidayat)
Nama Bi Minah begitu sering meluncur dari bibir Alika, puteriku. Dan aku merasa tak suka setiapkali mendengarnya.
"Daag, Mama...," Alika tersenyum manis sambil melambaikan tangannya yang mungil kepadaku.Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia sudah duduk rapi di 'singgasana'-nya. Pipinya yang montok tampak segar terpoles bedak dan ketika aku melangkah mendekatinya, harum sabun bayi menerpa hidungku. Aku menciumnya dengan gemas.
"Hmm, A'i manis sekali! A'i pakai baju baru yang Papa Dodo belikan kemarin, ya?" Aku menggelitikinya dengan kegemasan yang belum juga sirna.
Alika menganggukkan kepalanya, membuat kuncir rambutnya bergoyang-goyang. "Bi Minah pinter, ya, Ma, pilihin bajunya A'i? Eh, kok, Mama nggak ngantor? Ntar telat, lho, Ma...."
Aku tersenyum mendengar 'usiran'-nya. "Mama sedang cuti, A'i. Cuti artinya istirahat di rumah. Sebentar lagi,'kan Lebaran, Mama mau beres-beres rumah dan bikin kue yang enak untuk Papa Dodo dan A'i. Nah, mulai hari ini, A'i juga bisa main-main sepuasnya sama Mama," Aku menjelaskan sambil mengambil mangkuk berisi bubur ayam dari tangan Bi Minah."Biar saya saja yang menyuapi A'i. Bi Minah tolong carikan cetakan kue serabi, ya. Saya mau membuat penganan istimewa untuk buka puasa nanti sore."
"Aaa... Bi Minah mau ke mana? Ayo, suapin A'i, dong!" Alika merengek ketika melihat Bi Minah beranjak pergi ke dapur.
"A'i sarapan sama Mama saja. Bibi sedang repot," Aku membujuknya.
"Nggaaak...," Alika menolak suapan bubur yang kusodorkan. Mulutnya terkatup rapat dan wajahnya cemberut. Dia sudah hampir menangis.
"Buburnya enak, nih, A'i. Mama jadi lapar, lho. Sayangnya Mama sedang puasa," Aku terus mencoba membujuknya dengan sabar.
"Puasa itu... apa, sih, Ma?" tanya Alika spontan. Rupanya rasa ingin tahu membuat dia sekejap melupakan kesedihannya.
"Puasa itu salah satu perintah Allah, A'i. Sebelum Lebaran, kita harus berpuasa menahan lapar dan haus selama sebulan penuh. Papa, Mama, dan Bi Minah nggak sarapan dan makan siang, tetapi makan malam. Itu namanya buka puasa dan sahur. Nanti kalau sudah besar, A'i juga harus berpuasa. Sekarang A'i maem bubur dulu, ya?"
"Buka puasa itu kalau A'i dapet kolak, dapet kue sus... Terus kalau sahur, yang pagi-pagi orang ramai teriak-teriak itu, Ma?" Alika tidak berhenti bertanya. Aku gembira akhirnya ia mau juga menghabiskan buburnya. Selama menemaninya sarapan, berulangkali aku terpesona mendengarkan celotehnya yang cerdas. Berapa banyak sudah perbendaharaan bahasa dan pengetahuannya bertambah.
Alika sudah tahu kalau sebulan penuh itu lamanya 30 hari bahkan ia menanyakan ruwahan segala. "Sebelum puasa,'kan harus selamatan, Ma, itu namanya.... ruwahan," katanya menguliahi aku. "Kok, Mama nggak bikin ruwahan kayak mamanya Anisa? Bi Minah dan A'i dibagiin besek makanan, enak-enak deh kuenya!"
Terus terang saja aku baru ingat upacara selamatan adat Jawa yang biasa dilakukan orang pada saat menjelang bulan puasa itu.Tradisi nyadran, ziarah ke makam dan mengirim hantaran kepada para saudara dan tetangga sebagai jalinan silaturahmi. Tapi, aku tak punya cukup banyak waktu untuk itu. Pekerjaanku di kantor bertumpuk.
"Darimana A'i tahu? Anak Mama pintar sekali, deh!" Aku membelainya dengan bangga. Kecil-kecil sudah kritis, siapa dulu dong, ibunya? Aku tersenyum geli sendiri, mengira-ngira reaksi Mas Dodo kalau kuceritakan hal ini kepadanya nanti.
"Bi Minah, Ma. Bi Minah yang kasih tahu A'i, "Alika menjawab kenes. Entah mengapa, ketika untuk ke sekian kalinya dia menyebutkan nama Bi Minah, tiba-tiba saja ada perasaan tidak senang di hatiku. Aku tidak suka Alika selalu menyertakan Bi Minah dalam setiap ucapannya.
**
"Ada apa, Retno?" Mas Dodo bertanya. Dia mengangkat wajah dari buku bacaannya ketika mendengar aku menghela napas panjang.
"Alika tidak mau kusuapi, dia juga menolak ketika kugendong. Aku harus membujuknya setengah mati...," kataku sambil menyikat rambutku keras-keras.
"Oh, tentu saja!" Suamiku tergelak. "A'i sudah cukup besar, Retno."
"Bukan itu masalahnya, Mas. A'i terlalu rapat dengan Bi Minah!" Aku menjelaskan sambil tidak lupa menceritakan kejadian tadi pagi yang membuatku jengkel. Alika menangis mencari Bi Minah yang sedang pergi berbelanja ke pasar. Ketika bibi kesayangannya datang, tangisnya langsung berhenti bahkan tak lama kemudian ia tertidur pulas dengan begitu manisnya dalam dekapan Bi Minah.
"Habis bagaimana dong, Retno? Sehari-hari kita berdua ,'kan sibuk di kantor. Selama ini Bi Minah yang mengasuh A'i. Tentu saja A'i dekat dengan ibu asuhnya," hanya itu komentar Mas Dodo ketika aku menyampaikan uneg-uneg-ku.
Suamiku benar. Menjelang usia Alika yang ke-4, berapa banyak sudah aku menghabiskan waktu bersamanya? Begitu habis masa cuti melahirkan, aku sudah sibuk kembali menangani order iklan-iklan yang masuk. Profesiku sebagai Manajer Promosi di sebuah perusahaan advertising yang sedang berkembang, memang cukup banyak menyita waktu.
Tidak heran ketika Alika mulai belajar merangkak dan berjalan, bahkan ketika Alika sedang tumbuh gigi dan mulai berbicara, Bi Minah pula yang melaporkannya kepadaku. "Tampaknya A'i lebih membutuhkan kehadiran Bi Minah daripada aku sebagai ibu kandungnya," keluhku dengan sedih, menyadari batas yang sudah terentang di antara aku dan anakku, Alika.
"Engkau ini ada-ada saja, Retno," Mas Dodo meletakkan bacaannya. Lalu dia merengkuh bahuku dan membelainya dengan lembut. "Tapi seandainya dugaanmu itu benar, mengapa tidak kau coba untuk merebut kembali hati A'i? Mumpung kau sedang ada di rumah!"
Aku jengkel mendengar tawa Mas Dodo. Tetapi, ah, ada benarnya juga dia. Bukankah ini saat yang baik untuk merebut kembali hati puteriku? Maka aku pun mulai memasang strategi. Pagi-pagi ketika mulai sarapan, hingga malam hari menjelang tidur, aku selalu berusaha di dekat Alika.
Aku mengajaknya jalan-jalan dan membelikan apa saja yang dia inginkan. Aha, kedengarannya aku menyogok anakku sendiri. Ya, kuakui, segala cara memang kulakukan untuk merebut hati Alika. Namun ternyata tidak mudah meruntuhkan dominasi Bi Minah. Suatu malam, rengekan Alika, membuatku bingung.
Ia bosan mendengarkan cerita Donal Bebek, Puteri Salju, atau Si Kancil yang nakal. Alika minta dipanggilkan Bi Minah yang katanya sangat pintar menceritakan Kisah Nabi-Nabi. "A'i mau dengar cerita Malaikat Jibril waktu datang ke Rasul... Rasulullah, Bi," pintanya penuh semangat .
Wuah, walau sedikit belepotan, Alika mampu mengucapkan kata Rasulullah dengan tepat. Dan, aku pun duduk terpaku di tempatku, ikut mendengarkan Bi Minah yang ternyata rajin bertadarus Al Quran.
"Sebelum tidur, Non A'i senang mendengarkan Bibi membaca Al Quran," Bi Minah menjelaskan. Dengan penuh kasih ia membelai kepala Alika yang sudah tertidur pulas. Seusai membaca, Bi Minah biasanya menerangkan makna, tafsir, serta maksud yang dikandung dalam Al Quran. Tentu dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Alika sendiri seperti biasa begitu antuasias untuk bertanya.
Aku memandang wajah tua di hadapanku. Kesungguhan hatinya tampak terpancar jelas, begitu khusyuk ketika membacakan ayat-ayat Allah yang menjanjikan ganjaran dan pahala itu. Terus terang saja, bulu-bulu halus di tanganku bergetar mendengar suci itu mengalun indah dari bibirnya.
Bi Minah telah melakukan yang terbaik untuk Alika. Ah, bahkan aku sendiri tidak setelaten dia dalam mengasuh Alika. Kemarin siang saja aku kehilangan kesabaran menghadapinya. Alika tidak berhenti mencomot kue nastar yang sedang kubuat. Dan, apa yang kulakukan? Tidak sabar, aku menyentil punggung tangannya yang mungil. Sontak, Alika segera berlari mencari pelindungnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Bi Minah?
"Sudah malam, Den Retno," teguran Bi Minah menyadarkan aku. Batuknya lagi-lagi memecah keheningan. "Uhuk... uhuk!" Ia memegang dadanya dan bernapas dengan susah payah.
"Bi Minah tidak apa-apa?" Aku bertanya cemas melihat wajahnya menjadi merah padam karena batuk yang dideritanya. Sepanjang bertadarus tadi, batuknya memang kerapkali datang mengganggu.
Bi Minah menggelengkan kepala sambil menyeka mulutnya dengan sapu tangan. Dan, aku melihat ada sebercak darah segar di sana. Oh, Tuhan!
**
"Kita harus mencari pembantu lain untuk menggantikan Bi Minah, Mas. Berbahaya, A'i bisa ketularan batuk yang dideritanya. Mungkin Bi Minah mengidap penyakit TBC," kataku dengan sangat cemas kepada Mas Dodo.
"Jangan mudah berprasangka buruk, Retno," sahutnya dengan nada tidak senang. Mungkin ia bosan mendengar keluhanku. Lagi-lagi tentang Alika dan ... Bi Minah.
"Aku melihat Bi Minah batuk berdarah, Mas!" jeritku tertahan, agak jengkel melihatnya hanya menaikkan bahu. Itu satu ciri khas Mas Dodo jika ia memandang enteng suatu masalah. Padahal, aku sungguh-sungguh ingin meyakinkan bahwa dugaanku tidak sekadar prasangka belaka. Aku cemas sekaligus prihatin dengan kesehatan A'i, puteri kami satu-satunya. Bagaimana kalau ia sampai ketularan penyakit yang mengerikan itu?
"Sudahlah, Retno. Periksakan saja dulu Bi Minah ke dokter. Kalau hasilnya positif, baru kita diskusikan bersama jalan keluarnya."
"Tetapi, Mas...."
"Retno, masalah sebenarnya, engkau belum juga dapat memenangkan hati A'i , bukan?" pandangan Mas Dodo menikam aku. "Kau cemburu, Retno. Kau cemburu kepada Bi Minah, sehingga ingin menyingkirkan dia. Begitu,'kan?"
Aku tertegun mendengar ucapan Mas Dodo. Tidak biasanya ia berkata 'keras' seperti itu. Ia lebih membela Bi Minah yang berstatus pembantu ketimbang isterinya sendiri! "Mas tidak khawatir dengan kesehatan A'i?" teriakanku menggantung di udara karena Mas Dodo sudah berbalik tidur memunggungi aku.
"Hari sudah larut malam, Ret. Aku mengantuk. Kalau perdebatan terus dilanjutkan, kita bisa kesiangan bungun sahur nanti."
Sepanjang malam aku tidak dapat memejamkan mata. Kalimat-kalimat yang diucapkan Mas Dodo terngiang-ngiang di telingaku. Benarkah aku terbakar oleh api cemburu sehingga begitu bernafsu untuk menyingkirkan Bi Minah?
Lonceng jam dinding yang berdentang empat kali, menyentakkan aku. Dengan hati-hati aku bangkit dan keluar dari kamar. Aku tidak ingin membangunkan Mas Dodo. Selesai menyiapkan makanan sahur, baru aku bangunkan dia.
Di dapur kulihat ketel berisi air sudah hampir mendidih dan di atas meja makan sudah tersedia hidangan. Rupanya Bi Minah sudah menjerang air dan menyiapkan makanan. Malam ini adalah malam terakhir Ramadhan. Besok sore semua umat muslim tinggal menunaikan sekali lagi kewajiban berbuka puasa dan bedug takbiran pun akan bergema.
Aku melongok ke luar jendela. Angin dini hari menyentuh pori-pori wajahku. Dingin. Tidak sadar aku menggigil, mendekapkan kedua tanganku di bahu.
"Bi Minah...," Aku memanggil. Aku ingin minta dibuatkan kopi tubruk olehnya. Kopi buatannya memang tidak ada duanya. Mas Dodo saja lebih suka kopi tubruk buatan Bi Minah daripada kopi buatan isterinya sendiri. Hmm, agaknya di rumah ini, Bi Minah memang lebih dibutuhkan, pikirku. Aku tersenyum getir sendiri.
Tetapi tetap tidak ada jawaban, walau aku sudah memanggil Bi Minah untuk ketiga kalinya. Aku mulai kehilangan kesabaran, tapi ketika aku menengok ke kamarnya yang kosong melompong, hatiku mulai cemas. Tidak mungkin Bi Minah berangkat ke pasar sepagi ini. Lagipula aku tidak memesannya untuk berbelanja.
Dan, aku terhenyak ketika mendapati sehelai surat di atas pembaringan Bi Minah. Tulisan dengan pensil itu seperti cakar ayam, hampir tak terbaca. Namun aku masih dapat mengerti maksud tulisannya. Bi Minah pergi ! Ia pergi dari rumah ini karena tak ingin menulari Alika dengan penyakitnya.
Bi Minah sangat menyayangi Alika, sama seperti menyayangi aku, tulisnya. Maaf, Den Retno, Bibi pamit. Maafkan jika selama ini Bi Minah banyak menyusahkan Den Retno dan Den Dodo. Hanya itu yang dapat kubaca karena pandanganku sudah mengabur oleh airmata yang mendesak tumpah dari kelopak mataku.
Aku yang mengajari Bi Minah menulis, ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas dua. Tiba-tiba aku teringat kepada Ibu. Apa kata almarhumah ibuku nanti jika dia tahu Bi Minah pergi? Oh, aku telah menyia-nyiakan amanat Ibu, pikirku sedih.
Ibu berpesan sedemikian rupa karena dia tahu Bi Minah tidak memiliki sanak famili lagi. "Kita-lah satu-satunya keluarga Bi Minah, Retno," begitu kata ibuku dahulu. Duh, mengapa sampai hati aku melupakannya?
Ke mana Bi Minah pergi? Ke mana? Aku berlari membuka pintu halaman. Jalanan lengang. Sisa air hujan yang turun deras semalam, basah menggenangi jalan. Udara dingin. Dingin sekali. Aku menatap kepekatan pagi di depanku dengan perasaan bersalah.
Ya, perasaan berdosa begitu menderaku. Ini sahur terakhir yang seharusnya kami habiskan bersama-sama. Makanan untuk Hari Raya Lebaran esok lusa sudah lengkap semua tersedia. Opor ayam, rendang balado, sambal hati dan kentang, ketupat serta kerupuk udang tinggal menunggu disantap.
Kepergian Bi Minah begitu tiba-tiba, namun dia tidak melupakan tugasnya. Pasti karena ia sempat mendengar obrolanku bersama Mas Dodo semalam. Sebelum berdebat sampai ke kamar tidur, kami memang terlibat pembicaraan panjang di ruang tamu.
Suara azan subuh memanggilku. Ada rasa malu ketika aku membasuh wajah dengan air wudhu. Mas Dodo benar. Perasaan iri sudah membutakan mata hatiku. Kasih sayang Bi Minah tulus. Ia tidak pernah bermaksud merebut Alika dari tanganku. Duh, kalau benar ia sakit, seharusnya aku membawanya ke dokter, bukan malah menyingkirkannya. Aku bersujud di hadapan Allah, memohon ampun. Aku harus mencari Bi Minah, ke mana pun ia pergi!
Matahari di pengujung Ramadhan sudah terbit di ufuk timur. Sinarnya keemasan, begitu indah. Suara azan menambah syahdu suasana. Rasanya, inilah saat kemenangan bagi diriku. Kemenangan untuk mengalahkan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Aku mendengar Mas Dodo sudah bangun. Sebentar lagi Alika akan menyusul bangun dan melompat dari ranjangnya, mencari Bi Minah seperti biasanya.
Aku mengusap wajahku dan mengucapkan Amin, ya, robbal'alamin, dengan hati penuh pengharapan. Aku melipat mukenah dan sejadah, lalu bergegas ke luar kamar. Aku harus segera mengajak Mas Dodo untuk mencari Bi Minah. Ke mana pun ia pergi. Kami harus shalat Ied bersama-sama, seperti hari-hari raya Lebaran sebelumnya. (femina No.9/XXI, 4 - 10 Maret 1993)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar