Senin, 20 Maret 2017

Lebaran Tanpa Oma

(Oleh Effi S Hidayat)

Kamu,'kan punya penyakit maag. Kamu bisa sakit. Di tempat kos tidak ada yang mengurusmu dengan baik. Kamu tidak akan kesepian di sana? Siapa yang mencuci dan menyetrika pakaianmu? 


"Telepon untukmu, Is," panggilan Tante Anna, ibu kos-nya, menahan langkah Isti yang sudah akan beranjak membuka pintu pagar.Uff, siapa sih, yang menelepon pagi-pagi buta begini?

Isti melirik jarum jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Pukul lima kurang lima menit. Rencananya,'kan, ia akan berangkat ke Stasiun Gambir mengejar kereta jurusan Surabaya. Di Gambir tentu sudah menunggu geng-nya, mereka sudah berjanji merayakan Lebaran bersama di Surabaya sebelum menyeberang ke Bali.

"Pasti asyik sekali-sekali ber-Idul Fitri di perjalanan, ibarat musafir-musafir di zaman Jahiliah dulu," Agung yang memproklamirkan ide itu pertama kali dan ternyata mendapat sambutan hangat dari rekan-rekannya, asyik berangan-angan.

Merayakan Lebaran di perjalanan, mengapa tidak? Toh, Lebaran tidak selalu harus dirayakan bersama keluarga. "Kita sudah besar, Isti. Tradisi pulang mudik Lebaran itu harus kita kikis," ujar Ami bersemangat, menguliahi Isti yang tampak ragu.

Sebagai anak perantauan memang sudah keharusan Isti untuk pulang ke rumah. Merayakan Lebaran bersama keluarga. Dan, itu sudah dilakukannya bertahun lalu, semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan SMA di Jakarta.

"Ayolah, Isti. Mosok sih, kamu selamanya mesti menjadi 'anak emas' Oma-mu? Kamu sudah jadi  mahasiswa lho, sudah sepantasnya untuk mandiri. Sekali-sekali merayakan Lebaran dengan bertualang, apa salahnya?"

Ya, apa salahnya? Toh, rutinitas pulang mudik berlebaran di rumah, lama kelamaan membuatnya jenuh juga. Teman-temannya di Lampung sudah tidak banyak lagi. Paling-paling seperti tahun-tahun sebelumnya, ia lebih banyak bengong di rumah.

Jadi, itulah sebabnya Isti sudah bersiap-siap untuk meluncur ke stasiun pagi ini. Kalau saja... ya, kalau saja ia tidak menerima telepon itu. Kabar dari Tante Rani, adik papanya yang bungsu, sungguh mengejutkan jantungnya.

"Oma gawat, Isti! Gawat! jantungnya kumat lagi. Tante sudah menelepon ambulans dan kalau bisa kamu segera ke rumah sakit saja ya, sekarang!"

Aduh, bagaimana ini? Bagaimana dengan rencana yang sudah disusun sejak berbulan-bulan lalu? Tiga hari lagi bulan suci Ramadhan akan berakhir, dan perjalanan mengasyikkan yang rencananya akan penuh petualangan, di mana Isti akan berlebaran di Bali bersama geng-nya... akankah  dilupakannya begitu saja?

Toh, Oma memang sudah tua. Sudah terlalu sering ia ke luar masuk rumah sakit untuk opname akibat komplikasi penyakitnya yang beragam. Kali ini, paling-paling ia juga harus beristirahat di rumah sakit kembali untuk beberapa waktu. Tetapi, bagaimana kalau benar-benar gawat? Bagaimanapun Isti harus pergi menengoknya ke rumah sakit sekarang juga!

Kebetulan Rumah Sakit Sumber Waras letaknya tidak jauh dari tempat kos. Maka Isti terburu-buru berangkat ke sana. Ia menitipkan ranselnya pada Tante Anna. Dengan hanya berbalut jaket ia menembus hujan yang turun rintik-rintik pagi itu.

Isti langsung saja pergi ke ruang ICCU, Unit Gawat Darurat perawatan jantung. Di sana, biasanya Oma dirawat. Seperti pada malam tahun baru lalu, terpaksa Isti dan tantenya harus melewati malam tahun baru mereka di rumah sakit karena Oma mendapat serangan jantung untuk ke sekian kalinya.

Untunglah Oma masih dilindungi oleh Yang Mahakuasa, sehingga ia masih dapat melihat matahari Tahun Baru 1993 yang baru lalu. Dan, sekarang? Oh, Tuhan, bagaimana keadaan Oma? Sudah bolak-balik Isti mengintip ruang ICCU bahkan ia sudah berkeliling juga ke bagian lainnya, ia tetap tidak menemukan Oma.

Mau tidak mau Isti menjadi panik. Perasaannya bertambah galau karena tiba-tiba saja ia teringat pada sisirnya yang patah terbelah dua ketika sedang digunakan, atau baju tidurnya yang koyak terkait ujung tangga pada waktu yang bersamaan, malam hari sebelumnya.

Pertanda apakah itu? Isti semakin merinding dibayang-bayangi oleh firasat buruk yang mengikutinya. Informasi terakhir ia dapatkan dari suster jaga bahwa memang ada yang memesan ambulans pagi itu, tetapi pasien tersebut belum datang sampai sekarang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi akhirnya Isti menelepon Tante Rani. Dan, kabar yang diterimanya membuat matanya basah. Butir-butir air berdesakan turun di pipi Isti. "Oma... Oma sudah meninggal?" bisiknya hampir tidak percaya. mengulangi kalimat Heni, anak Tante Rani yang bercampur isakan di ujung horn sebelah sana.

Setelah itu, Isti lama terpaku. Otaknya serasa beku, ia merasa tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Ia masih tidak percaya pada pendengarannya. Ah, kapan saat terakhir ia bertemu dengan Oma? Seminggu lalu? Oh, tidak! Penyesalan mulai merambati dada Isti.

Ya, entah mengapa, justru pada saat-saat terakhir Oma, ia jarang berkunjung. Sudah hampir sebulan lebih Isti tidak datang. Padahal biasanya, paling tidak seminggu sekali Isti akan membawakan buah kesukaan Oma. Lalu mereka mengobrol bersama.

Macam-macam topik obrolan yang diperbincangkan. Mulai dari hangatnya Perang Teluk, peristiwa tertembaknya Presiden AS, John F. Kennedy di tahun 1964 dahulu ketika Isti belum lahir, bencana di Flores, Lady Di dan seronoknya Madonna, sampai serial komik bergambar Si Doyok di Pos Kota -- dapat dibahasnya dengan seru bersama Oma. Ya, Oma merupakan sahabat yang jauh lebih menyenangkan dan banyak tahu ketimbang Irma, teman kampusnya yang cuma bisa ngomongin soal cowok itu.

Ah, mengapa justru belakangan ini Isti tidak mengunjungi Oma? Padahal itu bukan kebiasaannya. Walaupun dengan kesadaran penuh, Isti ingin melepaskan diri dari predikat 'anak emas' Oma yang terlanjur dilimpahkan teman-temannya sejak SMA dulu, toh, Isti masih saja menyempatkan mencari waktu untuk bercengkrama dengan omanya yang tercinta.

Isti masih teringat, betapa Oma mati-matian melarangnya kos setelah ia lulus SMA, setahun yang lalu. "Bagaimana nanti dengan makan-mu, Is? Kamu,'kan punya penyakit maag. Kamu bisa sakit. Di tempat kos tidak ada yang mengurusmu dengan baik."

Atau kalimat Oma yang ini,"Kamu tidak akan kesepian nanti di sana, Is? Siapa yang mencuci dan menyetrika pakaianmu? Pikir seribu kali dulu, Isti. Papamu juga nanti yang akan marah kepada Oma kalau kamu jatuh sakit." Isti jadi tertawa geli. Duh, Oma, sejak kapan sih, papaku bisa marah sama ibunya sendiri?

Dan tidak hanya itu saja. Oma juga mencemaskan kebebasan pergaulannya jika Isti, cucunya itu harus kos. "Hati-hati, ya, Isti. Hati-hati menjaga pergaulanmu. Anak lelaki zaman sekarang tidak bisa dipercaya. Oma ngeri kalau melihat rambut Si Tommy yang gondrong itu! Atau, Arya yang tidak pernah lepas dari jins kumalnya. Aduh, Isti, kenapa sih, semua teman lelakimu bergaya seniman seperti itu?"

Oma terus wanti-wanti, dengan jeli ikut menyeleksi dan mengamati tipikal cowok teman-teman Isti. Gayanya sudah seperti FBI saja! Dan itu malah membuat hasrat Isti semakin kuat untuk melepaskan diri dari Oma. Dia ingin mandiri. Isti ingin sekali membuktikan bahwa ia bukan 'anak emas' Oma yang cuma bisa minum susu, cuci kaki, lalu bobo dengan manisnya.

Isti sudah dewasa. Ia sudah lulus SMA dan siap masuk ke perguruan tinggi. Itu sebabnya ia memilih kos saja. Sudah sejak SMA, Isti tinggal bersama dengan Oma dan keluarga Tante Rani di Jakarta, sementara kedua orangtuanya tinggal di Lampung.

Isti menyusut airmata yang terus turun mengaliri pipinya. Rasanya ia ingin berteriak dan mengingkari kenyataan bahwa omanya sudah tidak ada lagi di sisinya. Dalam kabut matanya yang tergenang air, ia melihat jarum jam yang terus bergerak perlahan. Dari menit ke menit. Detik ke detik.

Isti tidak berani pergi ke rumah Tante Rani. Ia tidak sanggup mendapati Oma yang sudah tertidur lelap. Tetapi, ah, ia harus datang menjenguk Oma! Ya, Isti harus menjumpai Oma sekarang juga! Dan, semuanya berlangsung begitu cepat. Isti tidak ingat, apakah ia melumuri wajah tua itu dengan airmatanya atau tidak ketika ia mencium Oma untuk terakhir kalinya.

Sayup-sayup, Isti cuma mendengar Tante Rani yang merengkuh bahunya, membujuk agar ia tidak terus memeluk omanya yang sudah terbujur kaku. "Sudahlah, Isti. Sudahlah, tabahkan hatimu. Jangan basahi wajah dengan airmatamu. Ayo, Isti, sebentar lagi papamu akan datang."

Papa Isti datang tepat tengah hari ketika Oma sudah selesai dimandikan. Jenazahnya segera disembahyangkan di masjid dan siang itu juga dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Ketika tanah selesai diuruk, ketika Oma tidak dapat dilihatnya lagi untuk selamanya, Isti menangis sejadi-jadinya. Dia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari hatinya.

                                                          **

"Isti, sebentar lagi Papa akan pulang dari sembahyang Ied. Ayo, siapkan ketupatnya," suara Mama menyadarkan Isti. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa suara ia melanjutkan pekerjaannya membenahi meja makan. Biasanya pekerjaan ini ia lakukan  bersama Oma. Tetapi kini, Isti harus melakukannya seorang diri, hanya bersama dengan mamanya.

Allaahu Akbar...3x Laa Illaaha Illaallaahu Allaahu Akbar. Allaahu Akbar Walillaah Ilham..., gema takbir yang bersahutan itu membuat Isti lagi-lagi ingin meneteskan airmata. Ia bergegas menyambut Papa dan adiknya. Lalu dengan takzim, Isti sungkem kepada kedua orangtuanya, memohon ampun akan segala dosa dan perbuatan yang sudah dilakukannya.

Rasanya kali ini tidak lengkap, karena tidak ada acara mencium tangan Oma seperti hari-hari raya sebelumnya. Tidak ada belaian dan ciuman lembut di pipinya lagi. Tidak ada kue jahe dengan aroma khas bikinan Oma yang selalu dibanggakannya sebagai penganan primadona yang disajikan Isti kepada tamu-tamu yang datang.

Ya, Lebaran kali ini sangat terasa lain bagi Isti. Lebaran tanpa Oma..., tidak pernah dibayangkannya bahwa ia akan sangat merasa kehilangan seperti ini. Bagaimanapun kini Isti merasa bersyukur pernah mendapat predikat sebagai 'anak emas' Oma. Tidak semua orang pernah merasakan keakraban mendalam dengan orangtua yang kita panggil "Oma" itu.

Biarlah geng-nya mengatakan Isti belum cukup dewasa untuk mandiri. Isti tidak menyesal membatalkan kepergiannya bersama teman-temannya. Ia tidak menyesal tetap melanjutkan tradisi pulang mudik untuk merayakan Lebaran bersama dengan keluarganya. Biarlah ia lupakan rencana besarnya untuk merayakan Lebaran dengan cara lain, yaitu jalan-jalan ke Surabaya dan Bali itu.

Ternyata tidak ada saat yang paling indah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, selain bersama keluarga tercinta. Dan, itu telah dirasakan Isti saat ini. Hatinya merasa tenang dan damai. Rasanya, Lebaran kali ini telah memberinya banyak sekali makna.

Isti sudah belajar satu hal lagi dalam dunia ini. Ya, kadang-kadang kita memang baru menyadari, betapa dalamnya kita mencintai seseorang, justru di saat kita sedang kehilangan....(Just for my lovely grandma, 31121919 - 18021993)  *** Gadis No.8, 19 Maret - 8 April 1993.
      
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar