Senin, 13 Maret 2017

Taksi

(Oleh Effi S Hidayat) 

Uhh, Mama memang pelit !  Ninik ngedumel kalang kabut ketika akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak menyetop sebuah taksi yang lewat.



"Naik taksi nggak, ya? Naik taksi, nggak?" Ninik menghitung jemarinya berkali-kali. Ia teringat pertengkarannya dengan Mama tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah.

"Kalau Mama bilang tidak, ya, tidak!" tegas Mama.

"Tapi, Ma, kali ini Ninik cuma minta tambahan seribu rupiah saja," bujuk Ninik belum putus asa. "Lagian sekarang,'kan musim hujan. Nunggu bus-nya suka lama banget," tambahnya, memelas.

Tetapi, apa daya. Mama berpegang keras pada prinsipnya. Naik taksi itu pemborosan, katanya. Uang saku yang diberikan pada Ninik setiap harinya sudah lebih dari cukup. Jadi, tidak ada tambahan lagi, biar seribu rupiah pun.

Uhh, Mama memang pelit! Ninik ngedumel kalang-kabut ketika akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak menyetop sebuah taksi yang lewat dan bergegas masuk ke dalamnya. Terpaksa, lagi-lagi dia harus nombok dengan uangnya sendiri. Eh, sebenarnya, uangnya Mama juga ding! Yang namanya Ninik,'kan belum bisa cari duit sendiri?

Ya, tapi,'kan dikit-dikit gue yang kumpulin. Jadi, boleh dibilang uangnya gue, dong? Ninik coba menghibur diri. Melalui jendela taksi, dia melihat segerombolan temannya yang sedang menunggu bus. Coba kalau tidak sedang berada di dalam taksi yang nyaman ini, pasti dia ikut 'berpanas-panas ria'. Belum lagi membayangkan padatnya penumpang dalam bus. Wuah, nggak janji, deh. Bisa dapat tempat duduk aja, syukurnya luar biasa!

Tetapi, harga sebuah kenyamanan memang mahal. Ninik harus mengeluarkan duit paling tidak Rp 5000,00 sekali jalan. Hayo, sebulan jadi berapa coba? Ninik ingat lagi kata-kata Mama. Mau nggak mau hatinya jadi mangkel. Habis, Mama benar-benar kejam, tega banget membiarkan anaknya terlantar.

"Pak sopir, tolong stop sebentar, Pak!" tiba-tiba Ninik melihat Hani, teman sekelasnya yang rumahnya kebetulan searah dengan dia. Kasihan, pasti Honda Accord-nya sedang masuk bengkel, pikir Ninik sambil melambaikan tangan pada Hani. "Pak Amat tidak menjemput kamu, ya? Ayo, Han, ikut aku saja," katanya membuka pintu taksi sembari tersenyum manis. Hani,'kan baik hati sering memberinya tumpangan. Sekarang, apa salahnya membalas jasa?

"Wah, terima kasih, Nik. Aku naik bus saja. Mulai hari ini,'kan Pak Amat tidak mengantarjemputku lagi. I'm free, Nik! Bosan ah, jadi 'anak mama'. Lebih asyik nge-bus bareng teman-teman. Lihat, itu bus-nya sudah datang! Aku duluan ,ya, Nik?" Hani segera melompat ke dalam bus yang penuh sesak dengan penumpang itu. Tinggal Ninik terperangah memandang kepergian temannya.

Gila, Si Hani! Sudah enak-enak naik mobil pribadi, eh, malah milih naik bus kota yang penuh sesak! Mau tidak mau, Ninik jadi gegetun lagi dalam hati. "Ayo, jalan, Pak!" katanya pada Si Sopir taksi yang segera meluncurkan kendaraannya.

Namun, entah mengapa tiba-tiba Ninik merasa gerah. AC taksi yang nyaman tidak mampu mendamaikan perasaannya. Ada rasa malu yang timbul dalam dirinya. Hani yang anak orang kaya itu saja tidak berkeberatan naik bus kota. Tetapi, bagaimana dengan dirinya? Uhh, mungkin Mama benar. Ninik memang mau cari enaknya sendiri saja!

Ya, sudah berapa lama, sih, kebiasaannya 'bertaksi-ria' berlangsung? Mulanya karena kehujanan. Kedua kalinya karena ia hampir terlambat masuk sekolah, dan ke tiga kalinya....Wah, alasan-alasan kepepet itu sudah tidak masuk akal lagi.Ia terlanjur asyik dengan  kenikmatan dirinya sendiri. Naik taksi, bukan lagi karena kebutuhan mendesak, tetapi sudah menjadi kebutuhan pokok. Aih, bahaya juga kalau begitu, ya? Bukan hanya karena anggaran uang sakunya jadi  'membengkak', tetapi benar kata Mama, "tuman (kebiasaan, red.)!"

Taksi berhenti tepat di muka halaman rumahnya. Kali ini, dengan gerakan tangan lamban, Ninik mengeluarkan dompetnya. Ia menghitung jumlah yang harus dibayar, lembaran ribuan itu dengan hati-hati. Ada perasaan menyesal di dadanya ketika uang itu berpindah tangan.

Ah, Mama benar. Mulai besok, ia akan naik bus kota lagi. Tokh, ini cuma masalah kebiasaan saja. Dipikir-pikir, Hani juga benar, kok. Naik bus kota lebih asyik karena bisa bareng dengan teman-teman. Tidak eksklusif seperti sekarang.Ya, ya... Ninik buru-buru masuk ke dalam rumahnya.Ia ingin segera minta maaf pada mamanya tersayang!  (Percikan, Gadis No.26, 2 Okt-12 Oktober 1992).   

     

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar